Asap hitam keluar dari salah satu rumah produksi industri tahu di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, Senin 18 November 2019. (Foto: Fariz/ngopibareng.id)
Asap hitam keluar dari salah satu rumah produksi industri tahu di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, Senin 18 November 2019. (Foto: Fariz/ngopibareng.id)

Sebelum Gunakan Sampah, Pernah Pakai Ban Bekas untuk Masak Tahu

Ngopibareng.id Reportase 18 November 2019 16:59 WIB

Polusi benar-benar terasa di sebagian Dusun Areng-areng.  Dari jauh sudah tampak asap-asap hitam yang mengepul di atas rumah warga. Asap hitam ini berasal dari rumah-rumah yang digunakan untuk industri tahu. Sebenarnya industri tahu ini tak hanya berada di Dusun Areng-areng, namun juga ada di Dusun Klagen.

Ya, sebagian Dusun Areng-areng dan Klagen, sebagian warganya memang memiliki usaha pembuat tahu. Namun sayangnya, para warga yang memiliki usaha tahu ini memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan bakar memasak kedelai.   

Tak heran, jika asap hitam yang berasal dari rumah-rumah industri tahu itu begitu bau. Apalagi cerobong pembuangan asapnya bisa dibilang pendek. Cerobong asap asap ini rata-rata hanya dibangun dengan ketinggian sekitar 10meter saja. Kurang lebih tingginya seperti atap rumah dua lantai. Karena cerobong asapnya yang relatif pendek itu, tak heran jika asapnya kemudian “menyerbu” rumah-rumah warga.

Salah satu pengusaha warung, Ismiati mengaku, jika polusi itu sudah sejak lama ia rasakan. Namun, karena sejak kecil sudah terbiasa ia mengaku tidak terkendala apapun.

Ia mengaku, bahwa ia telah merasakan polusi yang berbeda-beda. Di antaranya polusi asap yang disebabkan karena sampah dan bau pembakaran menggunakan kayu bakar.

"Memang kadang bau Mas. Kalau pakai sampah soalnya asapnya kan masuk ke rumah kadang. Tapi kalo pakai kayu tidak terlalu mengganggu," katanya saat ditemui, Senin 18 November 2019.

Lebih parah, kata Ismiati, jika dulu pernah menggunakan karet bekas sepatu atau ban yang paling mengganggu. Sampai-sampai saat itu ia harus mengungsi untuk menyelamatkan anaknya yang masih bayi agar tidak terkena polusi.

"Tapi sekarang sudah tak ada lagi. Soalnya sudah tak boleh," akunya.

Hal senada juga disampaikan oleh warga Dusun Areng-Areng, Yudiono. Ia mengaku juga terganggu dengan adanya polusi pembakaran sampah itu. Namun, ia tak bisa menuntut banyak karena industri rumahan itu memang sudah sejak lama ada.

"Ya pasti terganggu Mas. Tapi, mau bagaimana lagi karena ini memang sudah lama. Saya belum lahir saja industri ini sudah ada," ungkap pria yang akrab disapa Yudi.

Karena itu, untuk mengatasi permasalahan ini, ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi agar dapat mengurangi polusi. Sebab, sejak lama memang tidak ada pemangku kebijakan yang melakukan pengawasan terhadap industri ini.

"Satahu saya juga tak ada itu paguyuban,atau ada pemerintah yang datang mengawasi. Makanya sekarang kita mau bagaimana pemerintah mengatasi masalah itu," pungkasnya.

Penulis : Fariz Yarbo

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Nov 2020 09:45 WIB

Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM) Beroperasi,2 Minggu Gratis

Jawa Timur

Tarif tol normal sebesar Rp29 ribu untuk 29 kilometer.

24 Nov 2020 21:45 WIB

Satpol PP Sidoarjo Musnahkan Miras Hasil Sitaan Setahun

Jawa Timur

Hasil operasi sepanjang tahun 2020.

22 Nov 2020 19:05 WIB

Tiga PAC Sidoarjo Tak Dukung Gus Muhdlor, Gus Yaqut Geram

Pilkada

Gus Yaqut akan memanggil tiga PAC yang tak mendukung Gus Muhdlor.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...