Kapal pesiar asing memasuki perairan Indonesia di sekitar Benoa, Bali, Rabu, 28 Februari. Polisi menyita kapal pesiar senilai 250 juta dolar AS tersebut karena diduga hasil kejahatan pencucian uang. (Foto: Antara)
Kapal pesiar asing memasuki perairan Indonesia di sekitar Benoa, Bali, Rabu, 28 Februari. Polisi menyita kapal pesiar senilai 250 juta dolar AS tersebut karena diduga hasil kejahatan pencucian uang. (Foto: Antara)

Polisi Periksa Nakhoda Kapal Equanimity

Ngopibareng.id Nasional 01 March 2018 15:04 WIB

Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri memeriksa nakhoda Kapal Equanimity beserta 34 anak buah kapal yang semuanya warga negara asing untuk menelusuri kasus tindak pidana pencucian uang.

"Pemeriksaan terhadap Kapten Rolf sebagai nakhoda kapal dan sejumlah ABK," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal melalui layanan pesan singkat, Kamis, 1 Maret 2018.

Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri juga telah berkoordinasi dengan PT Indonusa selaku agen pengurus dokumen kapal pesiar serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Benoa untuk mengecek dokumen administrasi pelayaran kapal Equanimity.

Iqbal mengatakan polisi juga berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi untuk mengecek kelengkapan dokumen nakhkoda dan 34 anak buah kapal pesiar yang diduga merupakan barang bukti tindak pidana pencucian uang di Amerika Serikat itu.

Kapal mewah tersebut dinakhkodai oleh Kapten Rolf, yang selama berlayar mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) sehingga kapal tidak terdeteksi ketika masuk perairan Filipina dan Singapura.

Dari hasil penyelidikan, polisi menduga Kapten Rolf berusaha menyembunyikan tindak pidana pencucian uang dengan menyembunyikan kapal pesiar itu.

Polisi akan mendalami kasus ini dengan memeriksa sejumlah ahli, termasuk ahli tindak pidana pencucian uang, ahli pelayaran dan ahli forensik. Dalam waktu dekat, polisi akan melakukan gelar perkara untuk menetapkan tersangka.

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri menyita kapal Equanimity, kapal mewah yang ditaksir senilai 250 juta dolar AS atau setara Rp3,5 triliun, di Tanjung Benoa, Bali, Rabu, 28 Maret.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan kapal tersebut merupakan barang bukti kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat.

Menurut Agung, Kepolisian sudah menerima surat dari FBI pada 21 Februari 2018 yang berisi permintaan bantuan untuk mencari keberadaan kapal tersebut. Superyacht tersebut diketahui masuk ke wilayah perairan Indonesia pada November 2017 sehingga FBI berkoordinasi Polri untuk melakukan penyitaan.

"Jadi, FBI AS melakukan joint investigationdengan Bareskrim. Kami membantu," kata Agung.

FBI telah memburu kapal tersebut selama empat tahun. Agung menjelaskan saat ini kasus pencucian uang yang melibatkan kapal tersebut sudah diputus di pengadilan Amerika Serikat. Superyacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang yang melibatkan orang-orang dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Swiss, Malaysia, dan Singapura. (ant)

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

05 Mar 2020 09:30 WIB

Rumah Eks Kiper Madrid Iker Casillas Digerebek Polisi Portugal

Liga Spanyol

Iker Casillas bersikap kooperatif dan mendukung investigasi tersebut

29 Nov 2019 06:13 WIB

Pencucian Uang, Mantan Presiden Maladewa Divonis 5 Tahun Penjara

Internasional

Yameen, dikenal memimpin Maladewa dengan tangan besi.

18 Sep 2019 12:47 WIB

Pendiri Kaskus Bantah Terlibat Kasus Pencucian Uang

Nasional

Pendiri kaskus klaim melakukan transaksi sesuai aturan

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...