Poernomo menunjukkan motor roda tiga hasil modifikasinya. (foto: Amanah/ngopibareng.id)

Polio Tak Hentikan Jiwa Sosialis Kreatif Poernomo

Feature 03 December 2018 20:47 WIB

Meski menderita kelumpuhan sejak berusia dua tahun akibat penyakit polio, tak membuat Slamet Poernomo berkecil hati. Bagi laki-laki asal Surabaya ini, keterbatasan fisik tak menjadi alasan untuk menatap masa depannya.

Semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), kemandirian itu telah diajarkan orang tua Poernomo dengan memasukannya di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Malang.

Hingga menginjak remaja tepatnya saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Poernomo ingin mempunyai kendaraan yang dapat digunakan dengan mudah.

Berawal keinginan itu, Poernomo berinisiatif membuat alat transportasi yang ramah bagi para difabel. Belajar dari seorang kawan yang juga seorang difabel, Poernomo akhirnya bisa membuat sepeda ramah bagi para penyandang difabel.

"Waktu SMA saya ingin punya sepeda roda tiga. Kebetulan waktu di Malang saya lihat ada orang menggunakan sepeda roda tiga. Akhirnya saya belajar sama dia," kata Poernomo ketika ditemui ngopibareng.id di rumahnya di Keputih IIIE/37 Surabaya, Senin, 3 Desember 2018.

Setelah lulus SMA, Poernomo kembali ke Surabaya dan melanjutkan kuliah di Universitas W.R. Supratman (Unipra) jurusan Administrasi Negara. Sembari menuntut ilmu, ia mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai mekanik di bengkel umum.

Delapan tahun Poernomo menekuni dunia otomotif. Kemudian, laki-laki yang juga pernah menjadi atlet tolak peluru memutuskan untuk membuka bengkel sepeda khusus untuk para penyandang difabel. Total sudah lebih 90 unit motor roda tiga hasil karya Poernomo. 

Dari jumlah itu, enam di antaranya juga telah diekspor ke Timor Leste. Sedangkan, sisanya dikirim ke Bali dan hampir semua daerah di Jawa Timur.

"Di sini saya bekerja sendiri mulai belanja bahan, pengecatan, hingga perakitan. Saya juga bekerja sama dengan seorang teman di bengkel konstruksi dan las karena keterbatasan alat," kata bapak dua anak ini.

Dalam merakit satu unit motor roda tiga ini, Poernomo butuh waktu sebulan. Poernomo juga mematok harga lebih mahal dibanding di bengkel lain. Satu unit motor roda tiga ini dihargai antara Rp6 juta hingga Rp6,5 juta.

Lanjut Poernomo, dalam perakitan Poernomo tidak merusak keorisinalan motor, mengembalikan spare part motor secara utuh kepada konsumen dan selalu memberikan bahan pilihan terbaik.

Karena keterbatasan fisiknya, ia hanya menerima maksimal dua motor. "Sebenarnya banyak permintaan modifikasi, tetapi saya hanya menerima dua motor saja setiap bulannya," ujarnya.

Poernomo pun berharap agar teman-teman yang senasib seperti dirinya tidak pantang menyerah dan tetap terus berjulan.

 

"(Keterbatasan) Ini harus kita terima dan sadari. Ngak usah merasa minder, nggak usah malu dan tidak usah mendengarkan ocehan orang lain. Semangat itu berawal dari keluarga, kalo keluarga mendukung pasti rasa minder itu hilang. Kalau kita memiliki kreativitas atau kemampuan jangan pernah merasa malu untuk menciptakan hasil karya," ujar Poernomo. (amm)

Penulis : Amanah Nur Asiah

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Mar 2020 05:25 WIB

Fikih Difabel, Ini Rumusan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah

Khazanah

Kok Fikih Difabel dan bukan Fikih Disabilitas?

24 Feb 2020 09:59 WIB

Honda Tutup Pabrik Mobilnya di Filipina

Ekonomi dan Bisnis

Produsen mobil Honda tutup pabriknya di Filipina.

11 Feb 2020 20:22 WIB

Potret Kehidupan Janda Miskin Harus Hidupi 3 Anaknya yang Difabel

Jawa Timur

Suami pergi ketika Juama melahirkan anak keempat dalam kondisi tunanetra.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.