Antrean truk yang akan menyeberang ke Pelabuhan Lembar melalui Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Muh Hujaini/Ngopibareng.id)
Antrean truk yang akan menyeberang ke Pelabuhan Lembar melalui Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Muh Hujaini/Ngopibareng.id)

Plus Minus Jasa Penyeberangan Banyuwangi-Lembar Versi Sopir

Ngopibareng.id Jawa Timur 18 September 2020 16:39 WIB

Ada rute penyeberangan kapal baru di Banyuwangi, Jawa Timur, dari Pelabuhan Tanjungwangi ke Pelabuhan Lembar, Nusa Tenggara Barat (NTB). Banyak kendaraan barang yang menggunakan jasa penyeberangan tersebut.

Sejumlah pengemudi menyebut, rute pelayaran ini lebih efisien dari sisi waktu dan risiko dalam perjalanan. Namun, pengemudi juga mengeluhkan tidak pastinya jadwal bongkar muat kapal-kapal tersebut.

Salah seorang pengemudi truk pengguna jasa penyeberangan Banyuwangi-Lembar, Vincentius Antonius Rani mengatakan, menumpang kapal lebih banyak waktu istirahatnya dibanding menggunakan jalur darat melalui penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

"Begitu naik saya bisa istirahat sampai 10 jam. Saat tiba di Pelabuhan Lembar, kondisi badan sudah fit untuk melanjutkan perjalanan," ujar pria asal Flores ini, Jumat, 18 September 2020.

Pria yang dipanggil Rani ini menyebut, selain waktu istirahat yang lebih banyak, dengan menumpang kapal langsung dari Banyuwangi ke Pelabuhan Lembar juga mengurangi risiko di jalan. Misalnya risiko kemacetan di jalan, ban meletus dan lainnya.

Dari sisi waktu, menurut pria 36 tahun ini, perjalanan dengan kapal juga relatif lebih singkat. Perjalanan kapal dari Banyuwangi lembar membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 12 jam. Sehingga lebih menghemat tenaga.

"Kalau lewat darat waktunya lebih lama, sekitar 24 jam," ujar pria yang sudah empat kali memanfaatkan kapal jurusan Banyuwangi-Lembar ini.

Senada dengan itu, Suparjo mengatakan, jika melalui Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, masih harus melalui perjalanan darat di wilayah Bali. Setelah itu, pria asal Sidoarjo ini harus naik kapal lagi dari Pelabuhan Padangbai menuju Pelabuhan Lembar.

Selama perjalanan darat itu, menurut pria 46 tahun itu, banyak risiko yang dihadapi para sopir antara lain ban meletus atau kemacetan di jalan raya. "Yang pasti kalau naik kapal langsung ke Lembar mengurangi risiko kami di jalan," jelasnya.

Namun sejumlah sopir yang sudah pernah memanfaatkan jasa penyeberangan dari Pelabuhan Tanjungwangi ke Pelabuhan Lembar ini mengeluhkan tidak pastinya jadwal bongkar dan muat kapal. Sehingga mereka tidak memiliki kepastian berapa lama harus menunggu kapal datang. Bahkan, beberapa sopir ada yang harus menunggu lebih dari 24 jam.

"Kapal itu tidak pasti jadwal datangnya. Sehingga kami harus menunggu tanpa kepastian. Apakah bisa menyeberang siang ataukah malam. Yang jelas kalau jadwal tidak pasti," keluh Suparjo.

Dari sisi tarif, Ngopibareng.id mencoba membandingkan tarif yang berlaku di Pelabuhan Padangbai-Lembar dan Ketapang-Gilimanuk saat ini dengan tarif kapal jurusan Tanjungwangi-Lembar.

Tarif penyeberangan di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk untuk Golongan V Barang Rp 268.000; Golongan VI Barang Rp 447.000; Golongan VII Rp 553.000; Golongan VIII Rp 792.000; dan Golongan IX Rp 1.112.000.

Tarif penyeberangan Pelabuhan Padangbai-Lembar Golongan V kendaraan barang Rp 1.628.000; Golongan VI kendaraan barang Rp 2.732.000; Kendaraan golongan VII Rp 3.501.000; kendaraan golongan VIII Rp 4.955.000, dan Golongan IX Rp 7.246.000.

Sementara, hasil pantauan di salah satu agen penjualan tiket kapal jurusan Tanjungwangi-Lembar untuk kendaraan golongan V Bus Kecil Rp 2.500.000; kendaraan Golongan V truk sedang Rp 1.900.000; kendaraan golongan VI bus besar Rp 4.200.000; kendaraan golongan VI truk besar Rp 3.000.000;  kendaraan golongan VII Rp 3.900.000; kendaraan golongan VIII Rp 5.500.000; dan kendaraan golongan IX Rp 8.000.000.

Dalam daftar tiket tersebut juga diberlakukan cashback pembelian tiket dengan nilai antara Rp 50.000 hingga Rp 200.000 sesuai dengan golongan kendaraannya.

Untuk diketahui pembukaan rute penyeberangan Banyuwangi-Lembar menuai protes dari Gapasdap. Rute pelayaran ini dianggap bisa mematikan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Karena banyak armada truk jurusan Nusa Tenggara Barat memilih menggunakan kapal di rute yang baru dioperasikan pada 10 Agustus 2020.

Penulis : Muh Hujaini

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 Oct 2020 18:43 WIB

Selain Beasiswa Hingga Kuliah, MAJU Janji Sekolah Swasta Gratis

Pilkada

Selama ini bantuan pemerintah hanya fokus di sekolah negeri saja.

24 Oct 2020 18:28 WIB

Film Resident Evil: Final Chapter, Misi Penyelamatan Manusia

Film

Bioskop Trans TV akan menayangkan film Resident Evil: Final Chapter.

24 Oct 2020 18:13 WIB

Program J3K Gojek Terapkan 3M

Rek, Ojok Angel Tuturane

J3K untuk jaga mitra driver dan pelanggan terpapar Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...