PLTSa Surabaya, Ini yang Harus Diperhatikan

15 Jan 2020 05:00 Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya beberapa waktu yang lalu memperkenalkan salah satu teknologi pengelolaan sampah yang akan dijalankan. Yakni pengolahan sampah menjadi energi listrik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.

Pro dan kontra pun sempat hadir di masyarakat penyikapi hal tersebut. Menurut Prof (em) Paul Connett dari Work On Waste USA, selain mempromosikan teknologi ini pemerintah juga harus mengedukasi masyarakat tentang fakta inseminator yang digunakan dalam PLTSa.

"Pemerintah harus mengedukasi masyarakat bahwa inseminator yang digunakan bisa melepas zat yang paling berbahaya didunia, yakni dioksin dan furan. Dimana belum ada teknologi yang bisa mengemdalikannya," ujar Paul Connett saat ditemui dalam talk show bertajuk 'Apakah Zero Waste Itu Mungkin?'. Acara digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur dan Aliansi Zero Waste Indonesia.

Paul Connett menambahkan, dioksin dan furan sendiri akan mencemari udara. Saat udara tercemar itu masuk ke tubuh, otomatis akan sangat berbahaya dan bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.

"Harus diketahui pula membakaran sampah tersebut tetap akan menghasilkan abu sebanyak 25 persen. Misalnya dari 4 ton sampah yang dibakar, satu tonnya akan jadi abu. Dimana abu merupakan limbah B3 yang berbahaya dan beracun," ungkap penulis buku Zero Waste Solution.

Menurut Paul Connett, pemerintah pusat tidak boleh memaksakan teknologi ke pemerintah daerah. Sebab, pemerintah daerah tentu akan kebingungan untuk mengungkapkan faktanya kepada masyarakat.

Paul Connett mencontohkan, untuk pengelolahan sampah sendiri Aliansi Zero Waste Indonesia sudah memiliki beragam kontruksi untuk pengelolaan sampah.

Salah satunya yang diterapkan di Desa Wringin Anom, Gresik. Paul Connett mengungkapkan, di sana sedang dikembangkan gaya hidup zero waste seperti pengumpulan sampah terpilah komposan komunal, dan daur ulang setempat.

"Ini pun bisa dilakukan, meskipun tanpa bantuan pemerintah, bantuan dana, atau aturan dari nasional. Model ini sudah berjalan meskipun masih pilot project," beber dia.

Selain di kawasan tersebut, ada pula yang sedang di jalankan di Bandung di beberapa kelurahan tentang bagaimana menerapkan gaya hidup zero waste.

"Tentang bagaimana mengolah sampah. Investasinya bukan ke mesin tapi ke masyarakat dengan menambah lapangan pekerjaan, mengurangi emisi dan lainnya," kata Paul Connett.

Senada, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Jawa Timur yang diwakili Sarifah Hidayah selaku staf progrming juga mengatakan, kurang setuju bila PLTSa dilakukan di Surabaya.

"Karena sampai saat ini pemerintah belum mempunyai studi tentang pencemaran udara yang akan dihasilkan nantinya," ujar dia.

Penulis : Pita Sari
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini