Ilustrasi daun ganja. (Foto: Google)

PKS Kecam Anggotanya yang Usul Ekspor Ganja

Nasional 01 February 2020 18:16 WIB

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rafli mengusulkan agar tanaman ganja dijadikan komoditas ekspor. Usul tersebut disampaikan Rafli kepada Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Tentunya usul tersebut lantas menjadi sorotan berbagai pihak. Bahkan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menilai adanya paradigma politik di Fraksi PKS sehingga muncul usulan ekspor ganja tersebut.

Tak ingin usul komoditas ekspor ganja menjadi permasalahan, Fraksi PKS pun menegaskan jika ide tersebut merupakan pendapat pribadi Rafli sang anggota.

"Itu pendapat pribadi, bukan pendapat fraksi," kata Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini.

Lebih lanjut, Fraksi PKS sudah mengingatkan para anggotanya agar berhati-hati dalam membuat pernyataan. Apalagi pernyataan-pernyataan yang sensitif dan menyinggung SARA.

"Dan fraksi sudah mengingatkan agar berhati-hati dalam membuat pernyataan," ujarnya. "Jangan yang menyinggung SARA, jangan hal-hal yang sensitif."

Jazuli juga menambahkan jika PKS sama sekali tidak menoleransi soal narkoba. Bahkan pihaknya telah bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melakukan tes urine pada para anggotanya secara berkala.

"Kalau sikap Fraksi PKS tegas terhadap narkoba. Bahkan setiap tahun dua kali kita melakukan tes urine untuk keluarga besar Fraksi PKS bekerja sama dengan BNN. Jadi tidak ada toleransi terhadap barang haram ini," terang Jazuli.

Ganja sendiri banyak diperdagangakan dalam bentuk cannabidiol atau disingkat CBD. Ini merupakan ekstraksi dari tanaman yang bernama latin cannabis sativa ini.

Permintaan akan CBD terus meningkat untuk dipakai di bidang kedokteran. Pasar CBD bahkan diprediksi tumbuh hingga 2,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp289 triliun di tahun 2020.

Kementerian Pertanian Puerto Riko mencatat, setidaknya akan ada 10.000 hektar lahan ganja yang akan dipakai untuk budidaya ganja untuk tujuan komersial di tahun 2020.

Tak hanya untuk obat-obatan, permintaan akan CBD terus meningkat pesat karena komoditas ini mulai banyak diaplikasikan sebagai zat tambahan untuk bahan baku pembuatan makanan hingga make-up.

"Konsumen akan semakin memahami manfaat CBD dan mereka mulai mencari tahu barang yang mereka bayar dan apa manfaatnya ketika mereka membeli CBD," jelas Detwiller.

Di sisi lain, penelitian akan manfaat ganja terus dilakukan. Israel, sejauh ini jadi negara terdepan dalam penelitian terkait ganja.

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Jun 2020 17:00 WIB

Helikopter jatuh di Kawasan Industri Kendal

Nasional

Belum ada informasi lengkap soal kejadian ini.

06 Jun 2020 16:52 WIB

Update Corona di Indonesia: Kasus Positif 30.514, Sembuh 9.907

Nasional

Bertambah 993, kasus Covid-19 sebanyak 30.514 orang.

06 Jun 2020 16:39 WIB

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Ikuti Rapid Test Massal di Ampel

Surabaya

Selain meninjau, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono ikut rapid test.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...