Pionir Sate Blotongan, Tongseng-Tenglengnya Bikin Leher Tengeng

30 Dec 2018 06:05 Suedep Tenan

Penggemar sate kambing perlu datang ke Blotongan. Inilah sentra sate kambing di Kota Salatiga. Tepatnya di perbatasan dengan Ambarawa, kabupaten Semarang. Sepanjang jalan itu bertebaran penjual sate yang enak.

Tapi, dari sekian warung sate di sepanjang jalan daerah situ, ada satu yang menjadi pionirnya. Namanya sate Masyudi. Warung sate terbesar yang terletak di sisi kanan jalan dari arah Semarang.

Pionir? Ya. Sebab, warung sate yang kini dikelola Helmi, sarjana teknik mesin lulusan Universitas Muhamadiyah Solo (UMS) ini mulai berjualan sejak tahun 1979. Masyudi yang kemudian menjadi nama warung itu adalah ayah Helmi. 

"Dulu, ayah saya mulai jualan sate di tengah kota Salatiga. Mulai dari jualan di pinggir jalan. Penjual sate kaki lima," kata Helmi mengenang usaha warung sate yang dirintis ayahnya. 

Saya menemukan warung sate ini tanpa sengaja. Ketika bersama rombongan pengurus P4M Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU) melakukan wisata kuliner akhir tahun ke Semarang dan Solo. Menginap di Bandungan-Semarang. 

Ketika makan malam, Dokter Mohamad Badri yang menjadi kepala suku rombongan ingin makan tongseng. Kebetulan sopir minibus yang disewa berasal dari Salatiga. Maka langsung saja diputuskan makan malam di Salatiga. Bandungan-Salatiga hanya 30 menit perjalanan.

Semula bukan Sate Masyudi yang jadi jujugan. Namun, begitu sampai di tempat yang dituju, semua jenis makanan yang berbahan kambing sudah habis. Akhirnya secara acak memilih warung sate yang tempat parkir dan warungnya agak luas. Ketemulah Sate Masyudi ini.

Ternyata justru inilah warung sate yang autentik di sepanjang jalan itu. "Hampir semua warung sate yang ada di daerah ini adalah mantan pekerja di sini. Ada juga beberapa milik saudara saya," kata Helmi yang mulai mengelola warung sate ini sejak tahun 1998. 

Sate, tongseng, dan tengleng Masyudi memang uenak tenan. Satenya disajikan dalam hotplate untuk menjaga daging kambing yang telah dibakar tetap hangat. Bumbunya terasa nendang. Juga ramuan lalapan, bawang merah, irisan kol, dan irisan cabenya. Dari segi rasa nilai satenya 9. Empuk dagingnya. 

Helmi Sarjana Teknik Mesin pemilik Sate Masyudi BlotonganSalatiga
Helmi, Sarjana Teknik Mesin pemilik Sate Masyudi Blotongan-Salatiga.

Tongsengnya juga sangat terasa bumbunya. Berbeda dengan kebanyakan tongseng di berbagai tempat, sate kambing berkuah ini tanpa banyak kecap. Sehingga gurihnya lebih terasa. Tidak semanis tongseng Yogya dan Solo. Lebih enak untuk lidah orang Surabaya.

Tenglengnya yang justru lebih terasa manis dibanding tongseng. Tengleng adalah sebutan untuk gulai kambing di Jawa Tengah. Kalau tongseng berisi daging kambing, sedangkan tengleng berisi balungan atau tulang, lemak dan jerohan. 

Makan sate kambing, tongseng dan tengleng di daerah dengan udara dingin seperti Salatiga menambah keenakan sendiri. Enaknya membuat susah berhenti. Resiko kebanyakan makan kambing sangat mungkin terjadi. Dan ini bisa bikin leher tegang alias tengeng karena tensi darah tinggi.

Keautentikan dan enaknya Sate Masyudi bisa dilihat dari omset harian maupun pelanggannya. Menurut Helmi, dua warung sate miliknya rata-rata menghabiskan empat kambing sehari. Itu setara dengan 36 kilogram daging kambing.

Pelantun di Sate Masyudi ikut menambah suasana makan makin enak
Pelantun di Sate Masyudi ikut menambah suasana makan makin enak.

Setiap satu kilogram daging bisa jadi 40 tusuk sate. Jadi, dalam sehari, ia berhasil menjual 1.440 tusuk kambing. Ia tidak menjelaskan berapa mangkok tongseng dan tengleng terjual setiap harinya. 

"Ya rata-rata kami punya penghasilan bersih Rp 3 juta dari dua warung sate ini," kata Helmi. Setiap tusuk sate harganya Rp 5 ribu. Jadi, dari sate saja, warung Helmi menghasilkan Rp 7,2 juta. Belum terhitung minuman dan lain-lain. Masuk akal.

Lantas apakah beroperasinya jalan tol mengurangi pelanggan? "Tidak. Malah cenderung bertambah. Orang Semarang kalau berniat ke sate Blotongan ya ke Blotongan. Dengan adanya tol, akses mereka justru lebih gampang," kata Helmi sambil tersenyum.

Helmi juga tak khawatir dengan banyaknya pesaing warung sate di daerahnya. Bahkan, dia merasa senang rintisan ayahnya menjual sate bisa menginspirasi banyak orang, khususnya mantan karyawannya, untuk membuka usaha yang sama. 

Sungguh pionir warung sate yang membuat nikmat para pelanggan dan menyejahterakan banyak orang. Menjadikan Blontongan Salatiga sentral sate kambing yang menggiurkan lidah banyak orang. (arif afandi)