PGI pun Prihatin atas Terorisme di Masjid Al Noor Selandia Baru

15 Mar 2019 20:09 Nasional

Terkait Penembakan di Selandia Baru Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengecam keras aksi terorisme di Masjid Christchruch dan Masjid Al Noor di pinggiran Lindwood, Selandia Baru, Jumat 15 Maret 2019.

Dalam keterangan pada ngopibareng.id, Humas PGI, Irma Riana Simanjuntak, atas nama Majelis Pekerja Harian PGI menyatakan keprihatinannya.

"Peristiwa brutal seperli ini sangat mengusik rasa kemanusiaan kita dan sangat bertentangan dengan prinsip Hak Asasi Manusia yang selama ini kita junjung," tutur Irma Riana, Jumat 15 Maret.

"PGI menyampaikan rasa keprihatinan dan ungkapan duka yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. Kiranya Tuhan menguatkan seluruh keluarga dalam menghadapi peristiwa menyedihkan ini."

Atas peristiwa ini, PGI menyampaikan beberapa hal berikut:

1. PGI menyampaikan rasa keprihatinan dan ungkapan duka yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. Kiranya Tuhan menguatkan seluruh keluarga dalam menghadapi peristiwa menyedihkan ini.

2. PGI mengecam keras segala tindak kekerasan, apalagi penghilangan nyawa, yang sangat berharga di mata Tuhan. Olehnya, PGI menolak segala bentuk peradaban yang mengedepankan kebencian atas dasar apapun, baik agama suku, asal-usul dan sebagainya.

3. Bumi ini, di bagian negara manapun, adalah anugerah Tuhan yang seharusnya bisa didiami bersama untuk menata  kehidupan yang lebih baik. Dan untuk itu dibutuhkan kehadiran negara untuk menjamin keamanan dan keberlangsungan hidup semua penduduk, pribumi maupun pendatang. Dalam kaitan ini, PGI berharap pemerintah Selandia Baru dapat segera memulihkan keadaan dan mengusut tuntas kasus ini.

4. PGI berharap agar masyarakat Indonesia, di mana pun berada, tetap tenang menyikapi peristiwa tersebut, dan tidak terpancing dengan video dan foto yang menciptakan teror.Sekaligus mengimbau untuk tidak menyebarkannya dengan sengaja, karena hal ini yang diinginkan oleh teroris tersebut dengan mendokumentasikannya agar masyarakat luas menontonnya dan menjadi khawatir.

5. PGI meminta agar Pemerintah Indonesia, dalam kapasitas dan jalur yang tersedia, melakukan langkah-langkah bilateral yang diperlukan, sebagaimana amanat UUD 1945, yakni untuk ikut serta dalam menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia.

Seperti diberitakan ngopibareng.id, salah seorang pelaku penembakan brutal di sebuah masjid di Christchurch, Selandia Baru sempat menayangkan aksi brutalnya via layanan live streaming di internet. Video live streaming berdurasi 17 menit itu telah dihapus dari internet oleh otoritas terkait.

Seperti dilansir media lokal Selandia Baru, The New Zealand Herald, Jumat 15 Maret 2019, dalam live streaming itu, pelaku menyebut namanya sebagai Brenton Tarrant. Nama itu mengarah pada seorang pria kulit putih berusia 28 tahun kelahiran Australia.

Memang, aksi terorisme di Selandia Baru ini, mengundang keprihatinan dari pelbagai pihak di Indonesia. Termasuk di antaranya dari Nahdlatul Ulama dan Majelis Dzikir Hubbul Wathon. Mereka mengutuk aksi tersebut, sebagai tindakan biadab.

Dalam aksi tersebut, sebelumnya diketahui dari video yang beredar di media sosial. Seorang teroris beraksi melakukan tembakan pada setiap orang yang ada di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru. Sejak dari pintu masuk, di ruang-ruang serambi masjid, hingga ke ruang utama masjid, sebelum dilaksanakan Shalat Jumat, 15 Maret 2019.

Fakta Terorisme

Sebanyak 27 orang tewas akibat penembakan yang terjadi di dua Masjid di wilayah Christchurch, Selandia Baru, Jumat 15 Maret 2019. Setelah peristiwa tersebut, polisi setempat berhasil mengamankan empat orang yang diduga sebagai pelaku pembantaian.

Mereka terdiri dari tiga pria dan satu wanita. Saat ditangkap, mereka memiliki senjata dan mobil yang berisikan bahan peledak rakitan.

Saat kejadian, salah satu pria bersenjata menyiarkan langsung serangan melalui akun Facebook pribadinya, yang kemudian diambil oleh saluran Youtube.

Dalam siaran tersebut, dengan menggunakan sejata semi otomatis, pria ini menembaki jemaah yang sedang berkumpul untuk menjalankan salat Jumat di Masjid Al Noor, Christchurch.

Pria berkulit putih ini dikonfirmasi sebagai Brenton Tarrant, berusia 28 tahun. Sebelum melancarkan serangan brutalnya, Brenton lebih dulu menulis manifes setebal 37 halaman yang berisikan rencana jahatnya itu.

Manifes tersebut diberi judul “The Great Replacement” dan diposting di dinding pesan website.

Dia menggambarkan dirinya sebagai orang kulit putih biasa, 28 tahun. Lahir dari Australia dari kelas pekerja dan keluarga berpenghasilan rendah.

Tepat di bawah judul, ia menuliskan, “Mengapa Anda melakukan serangan itu? Katanya untuk membalas kematian yang disebabkan oleh penjajah asing”.

Terkait kejadian tersebut, seorang saksi mata mengatakan, pelaku pertama kali pergi ke masjid sekitar pukul 1.40 waktu setempat. Di dalam masjid itu ada tim kriket asal Bangladesh yang juga terperangkap bersama 200 jamaah lainnya. Beruntung, tim kriket tersebut berhasil meloloskan diri dari pembantaian.

Namun nasib berbeda dialami puluhan orang lain yang tak sempat kabur. Sejumlah orang dewasa dan anak-anak kecil dikabarkan tewas. Selain di dalam masjid, mayat-mayat dilaporkan juga terbaring di tanah di luar masjid. Akibat serangan itu, rumah sakit dan sekolah-sekolah di Christchurch pun terpaksa ditutup.

"Kami sekarang telah dipengaruhi oleh virus terorisme," ujar mantan analis dan konsultan kebijakan intelijen dan pertahanan untuk agen keamanan pemerintah AS, Paul Buchanan, kepada 1 NEWSNZ seperti dilansir dari The West Australian.

Saksi Mata

Seorang saksi mata yang diwawancara TVNZ mengatakan seorang pria memasuki Masjid Al Noor dengan menenteng pistol pada pukul 13.45 waktu setempat.

"Saya mendengar suara letusan senjata api. Lalu, ketika suara itu terdengar kembali, saya pun lari. Banyak jemaah sedang duduk di lantai masjid. Saya berlari ke bagian belakang masjid," kata dia.

Seorang saksi mata lainnya mengatakan banyak orang tewas dalam aksi terorisme di sebuah masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat 15 Maret. (adi/*)