Pertimbangkan Karakter Masyarakat, NU Tegaskan Model Dakwahnya

13 Jul 2019 18:41 Khazanah

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, mulai mengaktifkan lagi Ngaji Rutin Ba'da Maghrib bertajuk Ngaji Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja), Sabtu 13 Juli 2019. Ini Kajian Aswaja pertama setelah Idul Fitri yang lalu, di Musala PWNU Jatim di Surabaya.

Dalam pesannya, Kiai Marzuki mengingatkan, kedatangan Islam di Indonesia berlangsung secara bertahap dan mempertimbangkan faktor budaya dan karakter masyarakat di Nusantara.

"Karena itu, nilai-nilai Ajaran Islam ala Ahlussunnah waljamaah yang dibawa NU lebih mudah diterima di masyarakat. Ini dilakukan untuk menghindari adanya ketegangan. Dengan mempertimbangkan faktor budaya dan karakter masyarakat, nyata Islam bisa menyebar di Indonesia," tutur Kiai Marzuki Mustamar.

Diingatkan, beribadah dengan kondisi masyarakat yang damai dan tenang, lebih diutamakan. Karena itu, pentingnya menjaga NKRI bagi kaum santri, sehingga dalam melaksanakan ibadah bisa lebih khusyuk dan tenang.

Pada bagian lain, Kiai Marzuki mengingatkan segenap umat Islam untuk senantiasa berbakti kepada orang tua dengan mendoakan keduanya baik saat hidup di dunia maupun ketika sudah dipanggil oleh Allah SWT. Ia mengingatkan juga bahwa doalah yang senantiasa diharapkan oleh orang tua kita.

"Yang bisa diberikan kepada orang tua apalagi sudah meninggal dunia adalah doa dari anak yang shaleh. Mari doakan minimal bada shalat maktubah karena itu merupakan waktu mustajabah untuk berdoa," ajaknya.

Selama ini, ada yang meragukan soal praktik yang dilakukan NU sebagai bagian tradisi masyarakat di Nusantara. Memang, ada sebagian paham yang tidak meyakini jika doa kepada mayit akan sampai dan bermanfaat.

Doa kepada orang yang meninggal dunia diterima oleh Allah SWT karena hal tersebut telah tertulis dalam Al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 41 yang artinya, "Ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang Mukmin, pada hari terjadinya hisab."

Setiap kali melaksanakan shalat jenazah juga dipastikan ada bacaan untuk mengampuni dosa si mayit dan bila tidak dibaca maka tidak sah shalat jenazahnya.

Hal inilah yang perlu dipahami oleh umat Islam agar tidak sempit dalam mempelajari dan memahami agama.

"Jangan mudah terkecoh dengan paham yang memahami dalil secara tekstual saja. Seperti ada yang mengatakan bahwa kumpul untuk tahlil hukumnya haram. Padahal yang namanya tahlil itu adalah mengucapkan lafadz La illaaha illallah. Dalam Majelis tahlil, dibacakan juga tasbih, tahmid, takbir dan sejenisnya," jelas Kiai Marzuki Mustamar.

Maka menurutnya beruntunglah masyarakat yang memiliki majelis dzikir dan takziyah di lingkungannya. Berbagai manfaat bisa didapatkan diantaranya silaturahmi, mendoakan orang tua dan para pendahulu.

"Yang tidak diperbolehkan adalah meminta kepada yang sudah meninggal," katanya sekaligus menjelaskan manfaat dari bertakziyah yaitu ingat akan kematian yang akan menambah ketakwaan kepada Allah SWT.

"Kematian pasti akan datang kepada kita, namun kita tidak akan tahu kapan datangnya".

"Karena itu, nilai-nilai Ajaran Islam ala Ahlussunnah waljamaah yang dibawa NU lebih mudah diterima di masyarakat. Ini dilakukan untuk menghindari adanya ketegangan. Dengan mempertimbangkan faktor budaya dan karakter masyarakat, nyata Islam bisa menyebar di Indonesia," tutur Kiai Marzuki Mustamar.