Bagian 1Pertanyaan Bikin Senewen, Apa Minum Kopi Bisa Kuruskan Badan?

10 Jun 2019 12:01 NekoNeko

Mudik usai. Lebarannya belum. Lebaran di kantor masih ada, kue lebaran juga bertebaran di atas meja. Tidak mengincipi tidak enak. Bisa dibilang tidak sopan. Bisa dirasani, nggak mau ngincipi karena kuenya tidak enak.

Bisa berubah juga jadi rasis: ini yang bikin wong ndeso. Tangannya tidak higienis. Bahan-bahannya tidak seperti yang di kota. Bentuknya apalagi, sama sekali tidak kota. Bahan bakar juga dari kayu, penuh asap, dan sangit. Kota kan pake elpiji, pakai listrik. Dan seterusnya. Nyinyir dan rasis. 

Padahal maksudnya tidak begitu. Menyudahi makanan. Seminggu sudah bejibun dengan makanan yang manis-manis. Makanan berlemak. Minumannya juga. Sekarang waktunya off. Diet lagi. Puasa lagi makanan enak. Biar kembali langsing. Agar dipuji suami lagi. Biar dipamerkan pacar ke teman-temannya lagi. Dianggap sebagai perempuan jempolan. Menjaga semua asupan makanannya.

Begitu? Belum! Makanan di atas meja harus diambil. Diincip sebiji dua biji. Padahal jumlah meja ada 20. Belum di ruangan lain. Belum di ruangan bos. Belum menghadiri beragam acara hal bil halal yang digelar oleh kantor. Kepala kantor sebelah. Oleh Gubernur, bahkan halal bil halal tingkat RT.

Hah... sampai seminggu ke depan masih selamat tinggal diet. Masih mengunyah makanan bejibun. Masih tak bisa menolak makanan. Karena sungkan. Karena memang enak. 

Ah iya kan ada kopi. Buat apa takut. Sikat aja kales. Kabarnya kopi adalah diet yang paling gambang. Hanya karena minum kopi, badan tetap terjaga kesegarannya. Pun kelangsingannya.

"Apa benar kopi bisa bikin langsing mas? Kalau iya, apa to kopinya. Apa yang dibilang orang kopi ijo itu?"

Begitu dia bertanya kala masuk coffee shop, kedai kopi, atau warung kopi yang jadi tujuannya. Bertanya kepada si barista, si penyeduh kopi, atau siapa sajalah yang bisa ditanyai di tempat itu. 

Ada dua kemungkinan jawaban yang diperoleh. Kalau tidak dua ya tiga jawaban. Mungkin tambah satu, jadi empat-lah. Atau jangan-jangan ada yang kelima?

Pertama, maaf ibu/mbak/kakak kami tidak punya produk itu. Yang kami punya hanya didaftar menu itu. Kali ada di tempat lain. Ke depan, coba kami akan berupaya menyertakan pilihan itu ke dalam menu kopi. (Muka manis, hati senewen)

Kedua, waduh ndak punya kakak/embak/ibu. Kita punya-nya kopi spesial. Dari gunung-gunung. Kita upayakan khusus, diproses khusus, dan diseduh khusus seperti ini. Kita upayakan sehat. Kalau sehat, tentu, dan mungkin akan berpengaruh kepada kesehatan. (Muka manis, sedikit berdalil, mencoba merayu dengan jenis kopi lain agar tetap bisa ngopi. Hati aslinya senewen)

Ketiga, awalnya kami punya produk itu kakak/mbak/ibu. Tapi sedang habis. Dan kami susah mendapatkan suplai lagi. Silahkan tinggal nomor phone, atau alamat. Nanti begitu dapat suplai lagi, kita hubungi. Tapi kita tidak janji ya, soalnya booming kopi diet itu sudah lewat. Tapi kami akan coba dech ya. (Hati cukup senewen. Ekonomi di depan mata. Untung kasarung bisa diambil. Kenapa kita pas tidak punya ya)

Keempat, terakhir: kakak/embak/ibu kopi diet itu tidak ada. Itu hanya blaving informasi saja. Sugesti yang dilemas media sosial. Selama kita belajar barista, mengejar sertifikasi, tidak pernah ada yang namanya kopi diet. Adanya kopi itu dipetik merah, diproses basah atau natural. Disimpan dengan baik selama masa resting. Baru kemudian disangrai dengan teknik tertentu biar bisa menghasilkan citarasa yang unik. Kopi tidak sekadar kopi yang dikenal pahit itu. Tetapi kopi yang bisa memanjakan lidah dengan sensasi citarasanya. (Ilmu baristanya keluar, senewen yang terpancing. Senewen yang mengarahkan, silakan coba kopi yang ada)

Kelima (bukan barista, bukan kopi lover, ikut-ikutan menjawab): tidak ada buk. Tidak ada mbak. Adanya kopi pahit. Adanya kopi hitam. Pakai kentel dan pake gula atau gula sedikit saja. Biar tidak diabet. Kalau diet memang tidak ada. Kalau tidak diabet ada, ya itu tadi gulanya sedikit saja. Tuh pilih sendiri kopinya, rentengan sudah terpajang. 

Puyeng juga ya soal kopi. Ada macam-macam kopi rupanya. Terus siapa yang bilang kalau kopi bisa dibikin diet. Bener  nggak sih ada kopi yang begitu? (widikamidi/bersambung)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini