Pernyataan Internal yang Tak Terkontrol Jadi Beban Prabowo

18 May 2019 14:36 Nasional

Hasil Pilpres 2019 berdasarkan hitung cepat (quick count) milik lembaga survei dan real count Komisi Pemilihan Umum (KPU), paslon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk sementara masih tertinggal dengan paslon Jokowi-Ma'ruf Amin.

Beberapa pengamat politik menilai Prabowo-Sandi sering direcoki oleh pernyataan yang tidak terkontrol oleh kalangan internal. Pengamat politik CSIS J Kristiadi menilai, internal Probowo-Sandi kurang memahami bahwa setiap ucapan atau pernyataan itu ada makna dan konsekuensinya yang harus dibayar.

"Dalam kompetesi harus didukung dengan strategi yang baik, tidak cukup hanya berteriak dan membuat pernyataan yang keras. Ada pepatah yang menyebutkan mulutmul adalah harimaumu," katanya, Sabtu 18 Mei 2019

Misalnya, pernyataan tokoh FPI Habib Riziek cenderung bernada provakasi, tidak memberikan nilai tambah bagi Prabowo-Sandi. "Nadanya mau ngajak perang terus, banyak pendukung Prabowo yang pindah haluan menjelang coblosan," kata J Kristiadi.

Di kubu Jokowi sendiri juga ada elitnya yang radikal sering mengeluarkan pernyataan yang membuat telinga panas.

Secara terpisah peneliti dan pengamat politik Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, juga berpendapat ada beberapa orang di internal Prabowo yang mencari panggung dengan memanfaatkan kebesaran Prabowo. "Orang semacam ini pernyataannya sering tidak nyambung dengan kebijakan dan arah pikiran Prabowo," ujarnya.

Siti Zuhro mengambil contoh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Payuono, yang tiba-tiba mengusir Partai Demokrat keluar dari koalisi Prabowo hingga tolak bayar pajak.
"Pernyataan Arief Payuono itu merepotkan Prabowo di saat menghadapi masa sulit seperti sekarang. Seharusnya mencari empati, malah mengobarkan permusuhan," terangnya.

Koordinator juru bicara BPN Dahnil Anzar Simanjuntak, dikonfimasi, mengatakan memang ada beberapa orang pendukung Prabowo, yang tidak terkontorol. Bukan Arief Payuono, tapi juga ada Andi Arief. "Mungkin nianya baik, tapi bahasa yang digunakan tidak pas," bebernya. (asm)

Reporter/Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini