Ilustrasi petugas medis menunjukkan alat tes cepat (rapid test) COVID-19 buatan dalam negeri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis 9 Juli 2020. (Foto: Antara/Arnold)
Ilustrasi petugas medis menunjukkan alat tes cepat (rapid test) COVID-19 buatan dalam negeri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis 9 Juli 2020. (Foto: Antara/Arnold)

Perlukah Tes Antigen Diuji Ulang dengan Swab PCR?

Ngopibareng.id Nasional 28 October 2020 17:49 WIB

Gerakan untuk melakukan tes antigen sudah digemakan. Tujuannya agar penderita Covid-19 bisa segera terdeteksi. Jika sejak awal bisa terdeteksi, maka untuk tracing pun menjadi mudah dilakukan. Pandemi pun diharapkan bisa terkendali.

Keterlambatan atau jeda antara deteksi dini dengan penanganan lanjutan penderita Covid-19 selama ini menjadi sorotan ahli epidemiologi. Pasalnya, semakin lama suspect terdeteksi tertular virus Corona dengan penanganan lanjutan, akan semakin banyak orang yang tertular.

Testing awal yang direkomendasikan pun memakai testing antigen. Tes antigen ini sudah direkomendasikan oleh WHO pada 11 September yang lalu. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan antigen karena dianggap akurat dalam mendeteksi virus Corona. Akurasinya bahkan diklaim mencapi 90 persen.

Namun yang dipertanyakan, apakah seseorang yang sudah menjalani tes antigen harus menjalani konfirmasi ulang dengan uji swab PCR?

Sekretaris Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bio-informatika (PRBMB) Universitas Padjadjaran, Muhammad Yusuf, menyebut karena akurasi antigen sudah tinggi, maka tidak diperlukan konfirmasi ulang dengan menggunakan tes swab PCR.

"Tapi ini pendapat pribadi saya," kata Muhammad Yusuf, peluncuran “Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia” yang dilakukan secara virtual.

Menurut Yusuf, tes antigen ini berbeda dengan tes antibodi. Jadi, kalau tes antibodi menyebut non reaktif, maka itu masihmulti interpretasi. Kemungkinan pertama apakah yang bersangkutan belum terpapar. Atau, kemungkinan kedua suspect sudah terpapar tapi antibodinya belum terbentuk.

Sedangkan untuk uji antigen, kalau hasil tes menyebut positif, sangat spesifik. Sehingga kalau tidak tersedia uji konfirmasi dengan menggunakan tes swab dengan menggunakan PCR, maka sebenarnya dalam prinsip pendeteksi sudah yakin dalam sampel tersebut positif sehingga tak perlu dikonfirmasi ulang.

"Ini pendapat pribadi saya, karena Standar of Procedures-nya harus dibuat dulu untuk ke depan. Berdiskusi juga dengan developer, patologi kilinis, dokter bagaimana SOPnya digunakan di masyarakat.

Sebelumnya, Gerakan Indonesia Kita (GITA) meluncurkan “Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia”. Gerakan ini mengajak seluruh warga Indonesia untuk berpartisipasi menyediakan penyediaan antigen.

Tes antigen ini merupakan salah satu cara untuk mengendalikan pandemi selain dengan cara menerapkan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Tes antigen ini akurasinya tinggi dibanding rapid tes antibodi yang hasilnya masih multiinterpretasi. Tes antigen ini, secara hasil juga cepat didapatkan tak jauh berbeda dengan rapid test. Hanya dalam hitungan menit atau jam.

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Dec 2020 09:42 WIB

Covid-19 di Kediri Tinggi Walikota Minta Warga Tak Nongkrong

Rek, Ojok Angel Tuturane

Efek libur panjang beberapa waktu lalu.

01 Dec 2020 09:34 WIB

10 Rekomendasi KPAI Jelang Sekolah Tatap Muka

Pendidikan

Sekolah tatap muka direncanakan berlangsung pada Januari 2021.

01 Dec 2020 09:15 WIB

Waspada Happy Hypoxia!

Nasional

Orang tanpa gejala atau gejala ringan Covid-19 mengalami happy hypoxia.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...