Orang Tua Rela Tidur di Tenda Demi Anak Bisa Nyantri di Gontor

15 Jun 2019 15:06 Feature

Menjadi santri Pondok Pesantren Moderen Gontor, ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Harus melalui perjuangan yang berat. Karena harus bersaing dengan ribuan calon santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Untuk tahun ajaran 2019, pendaftar calon santri putra-putri tingkat aliyah atau setara dengan SMA tercatat hampir 10.000 siswa. Mereka hari ini Sabtu 15 Juni 2019 sedang mengikuti tes tulis, setelah menyelesaikan tes wawancara, wawasan keislaman, kecakapan membaca Alquran dan menulis huruf Arab. Semua kegiatan ini dilaksanakan dalam satu pekan terakhir.

Tes yang panjang ini mengharuskan orang tua murid harus tinggal berhari-hari di pondok. Bagi yang kantongnya tebal, bisa menginap di hotel. Bagi yang mau ngirit bisa nginap di masjid atau tenda-tenda yang disediakan oleh pondok.

Salah seorang orang tua murid asal Jakarta Barat, bernama Rosyidi mengatakan kepada ngopibareng.id, kalau dia berada di Gontor sejak Senin lalu untuk mendampingi anaknya yang bernama Ahmad mengikuti tes di Gontor.

Pedagang sate Tegal ingin anak bisa mengikuti jejak dua kakaknya sebagai alumni Pondok Pesantren Putri Gontor. Salah satu anaknya sekarang menjadi pengajar di sebuah pondok pesantren di Aceh.

Calon santri Pondok Moderen Darussalam Gontor Ponorogo sedang mendengarkan pengarahan Foto Novi for ngppibarengid
Calon santri Pondok Moderen Darussalam Gontor Ponorogo sedang mendengarkan pengarahan. (Foto: Novi for ngppibareng.id)

Kata Rosyidi, tes lisan dengan tulis lokasinya berbeda. Untuk tes lisan dilakukan di Pondok Gontor II sedang tes tulis di Pondok Gontor I. Untuk berpindah ke Pondok I yang jaraknya sekitar 6,2 km, peserta tes diangkut menggunakan truk bak terbuka.

"Mirip karnaval, dan anak-anak senang. Mungkin ada yang tidak pernah naik truk," kata Rosyidi melalui telepon dari Gontor.

Salah seorang panitia penerimaan santri Pondok Gontor, Hudayah menyebut jika siswa berminat ingn menjadi santri di Pondok Gontor dari tahun ke tahun jumlah terus meningkat.

"Santri yang diterima, murni hasil seleksi yang dilakukan secara transparan," kata Hudayah.

Transparansi ini dilakukan sejak pendaftaran. Saat mendaftar, siswa  harus datang sendiri tidak boleh diwakilkan. Mengenai jumlah calon santri yang diterima, akan disesuaikan dengan kapasitas pondok dan nilai hasil tes.

"Jadi yang menentukan diterima atau tidak adalah siswanya sendiri. Ukurannya kemampuan akademik dan kedisiplinan, terang Hudayah.

Bagi calon pelajar yang telah lulus Ujian Masuk Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI),  diberi kesempatan untuk mengikuti Program Ujian Lanjutan, yaitu ujian akselerasi ke kelas yang lebih tinggi jika memenuhi syarat-syarat tertentu, di antaranya memiliki kemampuan dengan bekal keilmuan yang cukup untuk duduk di kelas yang lebih tinggi dari kelas 1 KMI.

Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah adalah Lembaga pendidikan khusus santri putra tingkat menengah, dengan masa belajar 6 atau 4 tahun, setingkat Tsanawiyah dan Aliyah. KMI didirikan pada 19 Desember 1936, setelah Pondok Modern Darussalam Gontor berusia 10 tahun.

Kulliyatul Mu'allimat Al-Islamiyyah (KMI) adalah Lembaga pendidikan khusus santri putri tingkat menengah, dengan masa belajar 6 atau 4 tahun, setingkat Tsanawiyah dan Aliyah.

Pendirian KMI Pondok Gontor Putri merupakan wasiat para Pendiri PMDG. Maka sesuai keputusan Badan Wakaf PMDG, pada tanggal 7 Rabiul Awwal 1411, Pondok Modern Gontor Putri resmi didirikan di Mantingan, Ngawi.

Pesantren putri ini berjarak 100 km dari Pondok Modern Gontor. Kurikulum dan program pembelajaran Gontor Putri serupa dengan KMI Gontor, dengan penyesuaian pada muatan lokal dan penekanan pada pembekalan santriwati untuk menjadi wanita shalihah.

Pondok Modern Gontor Ponorogo Jatim didirikan KH. Ahmad Sahal, KH. Zainudin Fananie; KH. Imam Zarkasyi, pada 20 September 1926. Pondok Gontor yang diasuh oleh Dr. KH  Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH. Hasan Abdullah Sahal, telah melahirkan tokoh nasional dan ulama besar. Antara lain mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsudin, mantan Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, budayawan MH Ainun Najib, cendikiawan Muslum Nur Cholis Madjid, Menteri Agama Lukman Hakim dan masih banyak lagi nama nama besar yang lahir dari Pondok Pesantren Gontor Ponorogo. (asm)

Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini