Peringati Seabad Hizbul Wathan, Jambore Nasional pun Digelar

21 Dec 2018 01:19 Pendidikan

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW), dalam perjalanannya, tahun ini telah genap seabad. Untuk itu, Silaturahim Nasional (Silatnas) Kwartir Pusat HW Muhammadiyah mengadakan Apel Besar Mahrojan atau Jambore Nasional yang digelar di Bumi Perkemahan (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, Kamis 20 Desember.

Acara yang sebelumnya dijadwalkan berada di Lapangan Terbuka Gunung Kidul tersebut merupakan puncak dari rangkaian Apel Bersama Kwartir Pusat HW yang telah dimulai melalui Pawai Silaturahim Satu Abad HW di Yogyakarta, 18 November 2018 silam.

Ketua Koordinator Bidang Lapangan Apel Besar Bambang Suwedi menyampaikan bahwa latihan kepanduan yang digagas Kiai Ahmad Dahlan memiliki andil besar dalam membina bangsa, terbukti munculnya berbagai tokoh nasional didikan HW seperti Jenderal Soedirman, KH Dimyati, Surono, Ki Bagus Hadikusumo, Perdana Menteri Adam Malik, Presiden Soeharto, Sunandar Priyo Soedarmo, Kasman Singodimedjo dan lain sebagainya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Muhadjir Effendy menyampaikan, HW memiliki sejarah yang panjang dan andil yang besar dalam memerdekakan Indonesia ini.

"HW adalah barisan kepanduan pertama yang dibentuk oleh pribumi. Karena saat itu kepanduan hanya dimiliki oleh anak-anak keturunan dan sekolah Belanda saja. Awalnya diambil nama 'Pembela Tanah Air', tapi karena bersiasat agar tidak dicurigai Belanda, maka dipakai dalam bahasa Arab 'Hizbul Wathan'".

"HW adalah barisan kepanduan pertama yang dibentuk oleh pribumi. Karena saat itu kepanduan hanya dimiliki oleh anak-anak keturunan dan sekolah Belanda saja. Awalnya diambil nama 'Pembela Tanah Air', tapi karena bersiasat agar tidak dicurigai Belanda, maka dipakai dalam bahasa Arab 'Hizbul Wathan'.

"Ketika awal kemerdekaan dibentuk tentara PETA, kekuatan utamanya adalah HW. HW menjadi bibit kekuatan bersenjata dalam mengusir penjajah," ungkap Muhadjir.

Muhadjir menyatakan, HW merupakan cetak biru bagi konsep pendirian Gerakan Pramuka di Indonesia.
"Pada 1951 ada gagasan menyatukan seluruh kepanduan di tingkat nasional bernama Pramuka oleh Presiden Sukarno. Hamengku Buwono IX mengambil berbagai konsep gerakan kepanduan yang ada di HW. Karena itu Kemendikbud akan berusaha menjadikan Pramuka sebagai konfederasi sehingga kepanduan lain seperti HW bisa tetap eksis," imbuhnya.

Di depan 5.528 peserta Apel Akbar dari seluruh Indonesia yang bertema "Kepanduan Hizbul Wathan untuk Indonesia Berkemajuan", Muhadjir berharap agar semua anggota HW dari yang masih kanak-kanak hingga usia senja tetap menjaga sikap keperwiraan dan komitmen menjaga HW.

"Saya berharap HW mengembangkan diri tidak hanya di sekolah-sekolah Muhammadiyah, tapi juga di sekolah lain. Tirulah Tapak Suci yang bisa diterima di mana-mana Saya berharap ini diikuti, agar HW menyongsong kebangkitan baru," kata mantan rektor UMM ini. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini