Ilustrasi: Fa Vidi/Ngopibareng.id)
Ilustrasi: Fa Vidi/Ngopibareng.id)
Islam Sehari-Hari

Perempuan Haid Belajar Al-Quran, Boleh atau Dilarang?

Ngopibareng.id Islam Sehari-hari 27 January 2021 06:14 WIB

Al-Quran adalah kitab suci yang hanya boleh disentuh bagi yang tidak berhadats, baik besar maupun kecil. Harus berwudhu terlebih dahulu.

Tapi, bila hendak memelajari Al-Quran, bagi perempuan yang sedang haid akhirnya menjadi halanangan. Benarkah Islam menghalangi menuntut ilmu? Berikut Ust Ma'ruf Khozin memberikan penjelasan hal itu:

Pada pengajian kitab Tadzhib bersama jamaah Masjid Wal Ashri Pertamina (Surabaya) kali ini membahas bab haid dan beberapa larangan yang disebabkan hadas kecil dan besar. Karena kebanyakan pesertanya adalah bapak-bapak maka saya prediksikan tidak terlalu banyak pertanyaan. Dugaan saya salah. Ternyata cukup beragam pertanyaannya.

Di antaranya seputar perempuan haid yang sedang menempuh pendidikan belajar Al-Qur'an, baik Tahfidz atau ngaji Tafsir. Saya teringat dulu di Pondok Ploso Kediri, Kiai Nurul Huda Djazuli tetap menyuruh para santriwati ikut ngaji Tafsir Jalalain, tentunya bersentuhan dengan ayat-ayat Al-Quran saat ngaji sistem pesantren.

Rupanya memang ada pendapat yang membolehkan perempuan haid memegang Al-Qur'an dengan alasan belajar dan mengajar:

(ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻣﺲ ﻣﺼﺤﻒ) ﺃﻱ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻣﻌﻠﻤﺔ ﺃﻭ ﻣﺘﻌﻠﻤﺔ ﻭﺇﻻ ﺟﺎﺯ ﻣﺴﻬﺎ ﻟﻪ

Haram memegang Al-Qur'an bagi perempuan haid selama bukan pengajar perempuan atau pelajar perempuan. Bagi mereka boleh (Hasyiah Ad-Dasuqi 1/174)

Ada juga yang bertanya tentang wanita meminum obat untuk mencegah haid agar selama puasa tidak terjadi haid dan bisa genap 30 hari. Dalam Mazhab Syafi'iyah hukumnya diperbolehkan:

وَفِي فَتَاوَى الْقِمَاطِ مَا حَاصِلُهُ جَوَازُ اسْتِعْمَالِ الدَّوَاءِ لِمَنْعِ الْحَيْضِ

“Dan dalam Fatawa al-Qimath adalah boleh menggunakan obat-obatan untuk mencegah haid.” (Ghayah Talkhish al-Murad min Fatawa Ibn Ziyad 247)

•] Tabel larangan melakukan ibadah bagi perempuan haid/nifas, hadas besar seperti junub dan hadas kecil. Yang berwarna biru bersifat kesepakatan ulama. Dan warna hijau masih khilafiyah, namun dilarang menurut Mazhab Syafi'i.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Feb 2021 14:05 WIB

Ganjar Gowes sambil Pantau Penanganan Banjir di Semarang

Nusantara

Sejumlah titik-titik banjir di Semarang mulai surut.

28 Feb 2021 13:51 WIB

BNN: Jika Tak Punya Resep Dokter Millendaru bisa Dijerat Pidana

Nasional

Millendaru kembali berurusan dengan narkoba. Kali ini ia positif benzo.

28 Feb 2021 13:39 WIB

Tingkat Kesembuhan Covid-19 di RSLI Lebih Dari 90 Persen, Menkes

Surabaya

Tingkat Kesembuhan Covid-19 di RSLI Lebih Dari 90 Persen, Menkes Apresiasi

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...