PESANTREN: KH Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren Dar-el Tauhid, Arjawinangun, Cirebon. (foto: dok)
PESANTREN: KH Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren Dar-el Tauhid, Arjawinangun, Cirebon. (foto: dok)

Perempuan di Ranah Publik Perlu Ditingkatkan, Ini Pandangan Kiai Pesantren

Ngopibareng.id Khazanah 09 May 2018 15:42 WIB
“Hak-hak perempuan harus dibuka agar dapat berpartisipasi dan beraktualisasi di segala ruang kehidupan, tidak hanya di ruang domestik,” kata Kiai Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren Dar el-Tauhid, Cirebon, pada ngopibareng.id.

KH Husein Muhammad mendorong keterlibatan perempuan untuk meningkatkan perannya di ranah publik. Pada prinsipnya perempuan sama dengan laki-laki. Ia memiliki seluruh potensi sebagaimana potensi manusia umumnya.

“Hak-hak perempuan harus dibuka agar dapat berpartisipasi dan beraktualisasi di segala ruang kehidupan, tidak hanya di ruang domestik,” kata Kiai Husein, Pengasuh Pesantren Dar el-Tauhid, Cirebon, pada ngopibareng.id.

Menurut Kiai Husein, Islam membolehkan peran perempuan di ranah publik. Dalam Islam disebutkan Muslim laki-laki dan Muslim perempuan satu dengan yang lain harus saling menolong untuk melakukan kebaikan dan mencegah keburukan (amar mar’uf nahi munkar).

Keterlibatan perempuan Indonesia di ranah publik sudah banyak. Melalui buku Perempuan Ulama di Panggung Sejarah, Kiai Husein menuangkan keterlibatan perempuan dalam bidang politik, berkiprah sebagai pengusaha, pemimpin organisasi, cendekiawan yang juga mengajar di hadapan publik laki-laki.

Akses pendidikan yang terbuka lebar bagi perempuan, menghasilkan fenomena bahwa perempuan ternyata banyak yang lebih unggul daripada laki-laki. Banyak sekali tokoh perempuan yang sudah berpartisasi dan memegang jabatan-jabatan publik, seperti presiden, menteri, anggota DPR, walikota, gubernur.

“Mereka pintar, cerdas, tegas,” kata penulis buku Sang Zahid: Megarungi Sufisme Gus Dur ini.

Kiai Husein juga menyebutkan, keterlibatan perempuan di ranah publik semakin penting mengingat keputusan untuk kaum perempuan tidak bisa hanya ditentukan kaum laki-laki. “Itu akan menghasilkan keputusan yang tidak adil,” ujar kiai kelahiran Cirebon ini.

Selain itu, keterlibatan perempuan di ruang publik bakal menguntungkan bagi laki-laki dalam hal ini suami. Suami akan sangat tertolong dengan adanya perempuan yang aktif dan produktif di ranah publik.

“Karena anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan dari ibunya,” tandas Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon ini. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Nov 2020 03:07 WIB

Jangan Diam atas Kejahatan, Kata Sayidina Ali bin Abi Thalib

Islam Sehari-hari

Tindakan dan aksi-aksi anti-kemanusiaan tak dibenarkan agama apa pun

21 Nov 2020 07:04 WIB

Cahaya dan Cinta, Prinsip Timbal Balik demi Kemanusiaan

Khazanah

Menyelamatkan dari kefakiran dan melahiran keindahan

21 Nov 2020 06:08 WIB

Makna Tauhid Melahirkan Etika Kemanusiaan

Islam Sehari-hari

Cinta bekerja tanpa lelah menghapus penderitaan sesama manusia

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...