Presiden Palestina, Mahmoud Abbas saat berkunjung kepada Raja Salman bin Abdul Aziz di Riyadh. (Foto: aljazeerah)
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas saat berkunjung kepada Raja Salman bin Abdul Aziz di Riyadh. (Foto: aljazeerah)

Palestina Ditinggal Negara-Negara Arab? Ini Fakta di Timur Tengah

Ngopibareng.id Internasional 12 September 2020 09:44 WIB

Negara-negara Liga Arab menggelar KTT Darurat membahas normalisasi hubungan Uni Emirat Arab-Israel, pada 10 September 2020. Pertemuan dilaksanakan secara daring itu, merupakan bentuk desakan Palestina agar Liga Arab mengutuk dan mengambil sikap terhadap “Perjanjian Ibrahim”.

Menteri Luar Negeri Palestina, Riyard Al Maliki, dalam KTT menyebut normalisasi hubungan Uni Emirat Arab dan Israel, seperti gempa bumi.

"Situasi menjadi terbalik di mana kami menjadi pembuat onar dan yang harus disalahkan. Sebab, kami berani menghadapi gempa karena kami melawan pemerintah AS yang mengambil hak kami,” tegas Maliki dalam KTT Darurat Liga Arab, Kamis 11 September 2020 lalu.

Maliki turut menyinggung, saat ini rakyat Palestina seakan-akan harus berjuang sendiri, setelah adanya pengumuman normalisasi hubungan UEA-Israel.

“Pengumuman Israel, UEA dan AS seperti gempa bumi. Dan, alih-alih berpihak pada tingkat Arab di depan kemunduran yang tercermin dari pengumuman ini, kami mendapati diri kami berada dalam posisi di mana kami harus membela diri dan tujuan kami,” jelasnya.

Secara mengejutkan Arab Saudi dalam KTT Darurat Liga Arab meski mendukung pendirian negara Palestina berdasarkan keputusan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Namun, dalam pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud, tidak menyebutkan secara langsung kesepakatan normalisasi antara Israel dan Uni Emirat Arab.

Menurut pernyataan itu selama perang 1967, Israel merebut wilayah termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza.Sebelumnya, ketika mengumumkan normalisasi hubungan bersama Uni Emirat Arab, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, mengatakan, adanya “Perjanjian Ibrahim” bagi Israel merupakan langkah untuk melakukan transformasi kawasan untuk masa depan bersama negara-negara di Timur Tengah.

Dalam KTT Darurat Liga Arab, Palestina dan negara-negara Arab sepakat untuk memasukkan penekanan dalam kesepakatan akhir tentang komitmen pada Prakarsa Perdamaian Arab 2002, solusi dua negara dan prinsip tanah untuk perdamaian.

Komitmen Arab Saudi pada Palestina

Dalam catatan Ngopibareng.id, pada 16 Oktober 2019m Presiden Palestina, Mahmoud Abbas berkunjung ke kota Riyadh, Arab Saudi. Kedatangan Mahmoud bersama rombongan disambut oleh sejumlah pangeran, menteri dan pemimpin tinggi militer Arab Saudi.

Raja Salman bin Abdul Aziz turut hadir menyambut kedatangan Mahmoud dengan menyelenggarkan makan siang bersama. Kedua pemimpin Arab tersebut kemudian mengadakan dialog tertutup, sekaligus Saudi kembali menyampaikan penegasan posisi Arab Saudi yang selalu bersama bangsa Palestina.

Pembicaraan keduanya bersama pejabat terkait berkisar tentang hak-hak rakyat Palestina untuk memiliki negara yang berdaulat, termasuk meneguhkan Quds sebagai ibukotanya.

Normalisasi UEA-Israel

Sementara, bagi Israel normalisasi hubungan bilateral dengan Uni Emirat Arab (UEA) merupakan prestasi yang dicapai untuk ketiga kalinya. Dimana sebelumnya kesepakatan damai dibuat bersama Mesir pada 1979 dan perjanjian damai bersama Yordania pada 1994.

Sebelumnya, Benyamin Netanyahu mengumumkan akan mencaplok 30 persen wilayah Tepi Barat Palestina yang juga didukung oleh Amerika Serikat melalui proposal perdamaian “Kesepakan Abad Ini”. Namun, Israel menunda rencana yang seharusnya dilakukan pada 1 Juli 2020 itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada 1 September, penerbangan maskapai komersil Israel resmi melakukan penerbangan perdana ke Uni Emirat Arab. Penerbangan bersejarah itu merupakan hasil dari kesepakatan normalisasi Uni Emirat Arab dan Israel dengan difasilitasi oleh Amerika Serikat. Kesepakatan yang diberi istilah sebagai Perjanjian Ibrahim itu sebelumnya diteken pada 13 Agustus lalu.

Penerbangan perdana maskapai Israel ke Uni Emirat Arab itu turut membawa dampak positif bagi nama Amerika Serikat, yang dinilai berhasil menjembatani perbaikan hubungan diplomatik Israel bersama negara Arab.

Di atas maskapai bertuliskan “Peace” atau “Perdamaian” itupun, menantu yang juga penasehat Presiden Donald Trump, Jared Khusner, mengatakan penerbangan bersejarah itu sebagai bukti adanya harapan perdamaian bagi rakyat di kawasan Timur Tengah dan Israel.

"Perdamaian itu adalah sesuatu yang memungkinkan dan ada babak baru yang akan bisa dibaca. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa hal ini adalah visi Presiden Trump untuk kawasan Timur Tengah sejak awal,” ujar Kushner.

Presiden Donald Trump resmi dinobatkan sebagai nominasi Nobel Prize 2021 atas upayanya memfasilitasi normalisasi hubungan diplomatik UEA-Israel pada 13 Agustus lalu.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Oct 2020 19:15 WIB

Transformasi Sains dan Teknologi Penting bagi Kaum Santri

Khazanah

Pesan Hasan Chabibie, Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud

22 Oct 2020 19:00 WIB

KREBS, Aplikasi Cegah Obesitas Buatan Mahasiswa Unair

Pendidikan

KREBS Aplikasi Hindari Obesitas, Buatan Mahasiswa Unair

22 Oct 2020 18:45 WIB

Pemprov Gelar Jatim Fair 2020 Secara Virtual

Jawa Timur

Buka jaringan luas lewat sistem online

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...