Perawatan Fahd Pahdepie di rumah sakit. (Foto: Dok. Pribadi)
Perawatan Fahd Pahdepie di rumah sakit. (Foto: Dok. Pribadi)

Perang Melawan Covid-19 (8): Covid itu Sakit Banget!

Ngopibareng.id Feature 11 January 2021 06:29 WIB

PENGANTAR REDAKSI: Fahd Pahdepie, peneliti yang juga penggerak politik anak muda sedang berjuang sembuh melawan Covid-19. Alumni Monash University ini mulai dengan isolasi mandiri sampai dengan dirawat di Rumah Sakit. Bagaimana ia tahu terpapar Covid? Bagaimana ia melawan virus yang ganas itu? Berikut catatan pengalamannya yang ditulis secara bersambung.

---------------------------

Berapa orang di sini yang belum percaya bahwa Covid itu ada?

Kita mulai dari angka statistik Covid hari ini (29/12). Meski data kurang solid dan masih saja simpang siur, kita pakai saja yang ditampilkan panel Google untuk data Covid19 terkini di Indonesia. Sampai hari ini, ada sekitar 713.000-an kasus aktif di Indonesia, 584.000-an di antaranya sembuh, dan 21.237 meninggal dunia.

Perlu diingat data itu berdasarkan record (rekaman). Artinya berdasarkan orang yang 'terdeteksi' sakit dan atau melakukan tes. Angka tes di Indonesia sangat jauh untuk dikatakan baik, edukasi dan pemahaman masyarakat tentang virus ini masih buruk. Masih cuek.

Padahal, menurut data Kemenkes RI dan KawalCovid19, jika tes dilakukan lebih massif, bisa jadi kita menemukan angka yang lebih besar. Sebagai contoh, tanggal 21 Desember 2020 dilakukan 24.752 tes di seluruh Indonesia (standard WHO 38.500 tes per hari), hasilnya kasus harian menembus angka 6.848 orang. Hari itu Indonesia menembus positive rate record hingga 27,6%. Bisa dikatakan 1 dari 4 orang Indonesia hari itu yang melakukan swab PCR dinyatakan positif Covid19.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti dengan angka-angka ini. Tapi jika Anda masih cuek malas pakai masker, mencuci tangan dan jaga jarak, segeralah kasihani diri Anda. Atau kalau memang Anda tak peduli, jangan celakakan keluarga Anda. Covid itu sakit. Sakit banget. Ini bukan 'seperti flu biasa' atau 'nanti juga sembuh sendiri'. Masalahnya, Covid ini belum ada obatnya. Belum ada yang benar-benar bisa memastikan bagaimana cara penyembuhannya.

Dalam gejalanya yang ringan saja, seperti di masa awal saya alami, demam dan nyeri otot yang mendera rasanya berbeda. Mungkin demamnya tidak tinggi sekali (hanya 38-39.5), tapi efek yang ditimbulkannya berat sekali. Sakit kepala yang timbul terasa hebat sampai membuat kita susah tidur. Badan semua rasanya sakit kayak habis dijadiin sansak tinju sama Mike Tyson (Hehehe. Kayak pernag aja. Ya pokoknya sakit, deh).

Jika batuk kering mulai timbul, kita perlu waspada. Artinya Covid sudah mulai menyerang area pernafasan. Itulah sebabnya saya diminta dokter menyiapkan oksigen dan pulse oxymeter di kamar, jika saturasi di bawah 95 saya harus bergerak ke penanganan yang lebih serius. Oksigen harua terus dipakai, terutama ketika tidur. Untuk menghindari kadar oksigen dalam darah tiba-tiba drop, itu berbahaya untuk organ yang lain.

Apa obatnya? Banyak! Obat dan vitamin dari dokter yang saya minum saja lebih dari 8 tablet sekali minum. Banyak teman juga menyarankan suplemen, vitamin atau obat-obatan lain. Ada yang menyarankan madu, jamu, obat china, serum dari Armenia, herbal Timur Tengah, dan lainnya. "Teman saya ampuh pakai ini." Kata yang satu. "Saudara saya sembuh dengan ini." Dan seterusnya.

Kenapa obatnya banyak dan saran-saran beragam sekali di luar sana tentang Covid? Itu tadi, karena memang belum ada obatnya. Semuanya bisa benar menyembuhkan. Tapi bisa juga tidak, tergantung kondisi medis masing-masing orangnya. Yang berbahaya juga adalah mencampuradukkan semua obat dan suplemen tanpa nasihat yang benar dari orang yang memahami kondisi kesehatan kita dan ilmu farmasi.

"Ah, tapi kan lebih banyak yang sembuh! Datanya juga gitu." Iya sih. Tapi bukan berarti kalau kita kena kita pasti mengalami gejala dan pengalaman medis yang sama dengan orang lain. "Pasti sembuh" adalah afirmasi positif yang baik, tapi perjalanan menuju sembuh itu yang perlu kita siapkan masing-masing. Beda-beda satu sama lain. Jangan sampai kita mengalami 'survivorship bias', ibi logical fallacy yang membuat kita merasa bahwa kita akan seperti orang lain yang sembuh, padahal belum tentu.

Terakhir, coba Googling berapa biaya perawatan Covid19. Memang penderita Covid19 ditanggung pemerintah, tetapi kita tahu penanganannya yang prosedural dan berbelit tidak akan membuat kita bahagia, maklum yang diurusi pemerintah banyak sekali pasien di seluruh Indonesia. Mending jika Anda taat membayar premi BPJS Kesehatan atau punya asuransi lain. Jika tidak, bersiaplah merogoh kocek rata-rata 184 juta. Bahkan dalam kasus yang cukup berat bisa 466 juta (kontan.co.id).

Ya, Covid itu sakit banget. Menyiksa tubuh kita, menjauhkan dari keluarga, menyerang mental kita, mengguncang psikis kita, dan bisa merampok kita secara finansial juga. Jadi jangan coba-coba anggap remeh. Apalagi berfikir bahwa Covid itu tidak ada, konspirasi belaka, sampai Anda merasakannya sendiri.

Ada yang sedang berjuang melawan virus ini dalam tubuhnya, seperti saya dan ribuan pasien lain. Anda jangan. Berjuanglah melindungi diri Anda dan keluarga agar jangan sampai kena. Saya doakan yang terbaik buat Anda dan keluarga.

Saya Insya Allah sembuh. Sedang berjuang. (Fahd Pahdepie/Bersambung)

Penulis : Azhari

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Feb 2021 14:21 WIB

Sinopsis Cold Eyes: Misteri Organisasi Perampokan

Film

Film Cold Eyes akan tayang di program K-Movievaganza Trans 7.

28 Feb 2021 14:05 WIB

Ganjar Gowes sambil Pantau Penanganan Banjir di Semarang

Nusantara

Sejumlah titik-titik banjir di Semarang mulai surut.

28 Feb 2021 13:51 WIB

BNN: Jika Tak Punya Resep Dokter Millendaru bisa Dijerat Pidana

Nasional

Millendaru kembali berurusan dengan narkoba. Kali ini ia positif benzo.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...