Obat dan ransum di Rumah Sakit.

Perang Melawan Covid-19 (20): Alternatif Bagus, Tap...

17 Jan 2021 04:40

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

PENGANTAR REDAKSI: Fahd Pahdepie, peneliti yang juga penggerak politik anak muda berhasil sembuh melawan Covid-19. Alumni Monash University ini mulai dengan isolasi mandiri sampai dengan dirawat di Rumah Sakit. Bagaimana ia tahu terpapar Covid? Bagaimana ia melawan virus yang ganas itu? Berikut catatan pengalamannya yang ditulis secara bersambung.

---------------------

"Coba deh terapi kayu putih. Balur sekujur tubuh setiap hari. Teteskan ke lidah. Minum bersama air hangat." Begitu saran seorang teman.

"Temenku sembuh pake jamu sambiloto. Berjemur setiap hari. Cepet negatifnya." Sergah yang lain.

"Aku dibantu Lianhua Qingwen Jiaonang. Sinseiku bilang Covid19 itu karakternya dingin, Lianhua membantu Chi di tubuh kita lebih panas." Ujarnya.

"Ini aku kirim Rhea, ya, di Armenia dipakai jadi obat Covid19."

Masih banyak lagi saran-saran datang sejak saya positif Covid19. Semua yang menyarankan dengan penuh perhatian dan kasih sayang, sekaligus berisi harapan agar saya segera sembuh. Ada yang mengirim Jamu Javita, Propelix, British Propolis, Clover Honey, Qisthul Hindi, Jinten Hitam, dan tak terhitung aneka jus pendorong imun (imun booster).

Menurut saya yang paling unik adalah saran untuk membersihkan hidung dengan Betadine kumur dibantu cotton bud, alih-alih dengan nasal spray. Katanya itu membantu menghilangkan virus. Saya pernah coba beberapa kali, sakit dan perih. Berhenti karena saya jadi mimisan, hidung saya sensitif.

Saya menulis jurnal ini dengan empati karena pasti banyak teman-teman juga mengalami kebingungan yang sama ketika menghadapi Covid19. Saran-saran ini semua baik, ingin kita terapkan, tapi di saat yang bersamaan bikin kita juga bingung. Karena ingin cepat sembuh, kita coba semuanya, tapi konon mencampurkan semua suplemen makanan juga ada madharatnya juga. Apalagi buat yang punya alergi tertentu.

Jadi harus bagaimana? Saran saya sebagai yang pernah melalui masa-masa itu. Pilihlah satu atau dua saja. Yang paling membuat kita tenang dan meyakinkan kita untuk sembuh. Semua suplemen pasti baik karena sudah melewati serangkaian ujian, kita hanya tinggal pilih salah satu atau salah duanya dan konsisten mengkonsumsi sesuai ketentuan. Saran-saran lain pasti datang, tapi berusaha mencukupkan apa yang kita perlu saja adalah tindakan yang bijaksana.

Bagaimana dengan terapi alternatif lainnya? Kayu putih? Berjemur? Cuci hidung? Selama itu baik dan kita temukan rasionalnya, lakukan. Tetapi jangan berhenti di sana. Semua yang alternatif adalah percobaan (attempt) yang boleh jadi belum teruji secara klinis. Kalau tidak membahayakan tentu oke-oke saja. Namun hanya berharap dari yang alternatif, seraya menolak obat medis, saya kira itu tindakan yang tidak bijaksana.

Apalagi kalau kondisi kesehatan pasca positif Covid19 menurun. Tubuh mulai memperlihatkan gejala yang serius: Demam tak kunjung turun, batuk kering, pilek, anosmia atau kehilangan penciuman dan perasa, saturasi oksigen turun, pusing, teman-teman harus segera ke dokter. Wajib ke Rumah Sakit. Sementara tinggalkan dulu yang alternatif itu, jangan keukeuh. Covid19 ini berbahaya, badan bisa drop dengan sangat cepat, banyak kasus mendadak kritis dan meninggal dunia hanya dalam beberapa hari saja.

Hal lain yang penting adalah makanan dan asupan gizi. Konon Covid19 ini menyerang protein dalam tubuh kita juga, jadi kita harus menggantinya dengan protein lain yang lebih banyak. Selama di Rumah Sakit saya banyak diberi ikan, ayam, telur, dan protein lain. Itu penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita yang sedang berjuang melawan Covid19. Poinnya, makan bukan asal kenyang saja, perhatikan kadar proteinnya. Jangan lupa juga istirahat yang cukup!

Akhirnya, teman-teman, yang alternatif itu bagus. Tapi kita harus tahu batas kewajarannya. Kita harus tahu bahwa ia adalah sebuah ikhtiar, kita harus berpikiran terbuka memahami bahwa saat ini penanganan yang paling terukur tentang Covid19 adalah dengan obat dan perlakuan medis yang tepat. Tubuh kita butuh vitamin C, butuh vitamin D, butuh Zinc, dan virus juga harus dilawan dengan antivirusnya seperti Avigan atau Remdisivier. Pada saatnya kita semua akan mendapatkan vaksin Covid19.

Apakah doa adalah terapi juga? Iya. Membaca al-Quran bagi yang muslim, mendawamkan zikir dan shalawat Nabi, semua itu memberi kita suasana batin yang baik. Mengantarkan kita pada frekuensi tertentu yang menenangkan dan memberi dampak positif bagi tubuh. Seperti afirmasi positif kita, doa-doa, kasih sayang dari teman dan keluarga.

Covid19 ini tak terlihat, belum diketahui sepenuhnya oleh dunia sains dan medis, seperti makhluk gaib. Hehehe. Wajar kalau kita melawannya sambil mencoba-coba ini dan itu. Menduga-duga ini dan itu. Konon kita takut karena kita tidak tahu, kan? Kalau sudah tahu nanti, kita tidak takut lagi. Tapi untuk tahu, semoga teman-teman tidak mengalaminya. Cukup kami saja. (Fahd Pahdepie/Bersambung)