Plasma Konvalesen yang dimasukkan ke tubuh penderita Covid.
Plasma Konvalesen yang dimasukkan ke tubuh penderita Covid.

Perang Melawan Covid-19 (11): Terapi Plasma Konvalesen

Ngopibareng.id Feature 12 January 2021 04:15 WIB

PENGANTAR REDAKSI: Fahd Pahdepie, peneliti yang juga penggerak politik anak muda sedang berjuang sembuh melawan Covid-19. Alumni Monash University ini mulai dengan isolasi mandiri sampai dengan dirawat di Rumah Sakit. Bagaimana ia tahu terpapar Covid? Bagaimana ia melawan virus yang ganas itu? Berikut catatan pengalamannya yang ditulis secara bersambung.

---------------------------

Tak terasa sudah hampir 12 hari saya berjuang dengan Covid19 ini. Melewati hari-hari berat, hari-hari penuh optimisme dan harapan, hari-hari landai di mana secara manusiawi saya merasa bosan dan kelelahan. Efek Covid19 di tubuh setiap orang berbeda-beda, saya pas kebagian yang tidak ringan-ringan saja. Sayangnya. Kemungkinan saya mengalami apa yang orang sebut sebagai happy hypoxia. Penurunan kadar oksigen dalam darah karena infeksi virus ini.

Saya juga mengalami penggumpalan darah, membuat harus disuntik di perut dua hari sekali untuk diberi pengencer darah. Belum berhenti, Covid19 ini juga membuat saya lemas. Dua hari yang lalu saya jatuh di kamar mandi, tak sadarkan diri tiba-tiba, pipi jadi memar dan biru, terbentur lantai.

Awalnya gejala yang saya alami ringan. Tetapi antibodi saya banyak kalah melawan Covid. Malam di mana saya merasa sesak nafas dan esoknya harus dibawa ke rumah sakit, kemungkinan besar saya mengalami badai sitokin. Virus yang sudah sampai paru-paru membuat sitokin berusaha melindunginya mati-matian dari serangan virus. Untung keadaannya membaik, saya juga segera ditangani dengan treatment yang tepat di Rumah Sakit.

Setelah itu, keadaan tidak menentu. Saya bolak-balik dipasang infus, obat-obatan, vitamin, maupun pengganti cairan tubuh. Lengan kiri kanan juga udah hitam-hitam diambil darah terus. Memastikan semuanya aman dan baik-baik saja. Syukurnya sekarang sudah nggak sesak lagi, batuk kering jauh berkurang, saya mulai bisa pelan-pelan melepaskan oksigen.

Dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan terapi plasma konvalesen. Plasma darah survivor Covid19 yang sudah sembuh ditransfusikan ke tubuh saya untuk mengajari sel-sel darah saya membentuk antibodi untuk melawan Covid19. Semalam saya sudah ditransfusi 200cc, tinggal dua kali lagi. Semoga segalanya segera membaik.

Terima kasih untuk para pendonor yang menyumbangkan plasma darahnya agar dipakai membantu pasien Covid19 yang lain. Kalian luar biasa mulia. Kalau sudah sembuh, saya juga ingin menyumbangkan plasma darah saya untuk pasien yang lain. Saya ingin kita menang bersama-sama melawan pandemi ini. Sesakit apapun itu. Seberat apapun itu.

Teman-teman yang baik, Covid19 ini nggak sederhana. Nggak biasa-biasa saja. Tidak semua orang akan sembuh hanya dengan minum jamu, madu, vitamin, suplemen makanan atau berjemur. Dalam kasus-kasus ringan mungkin iya. Tapi dalam kasus-kasus sedang ke berat seperti yang saya alami, apalagi kritis, Covid19 ini perlu penanganan dokter dan pengawasan medis yang memadai. Semua bisa terjadi, virus ini bisa menyerang darah, paru-paru, lever, jantung, atau organ-organ penting lainnya.

Perlahan kondisi saya sekarang membaik. Tapi saya harus tetap hati-hati dan waspada. Makan harus tetap terjaga. Suasana hati dan pikiran harus terus optimistis dan positif. Saya sudah tidak sabar kembali berkumpul dengan keluarga, kembali beraktivitas, kembali pada tugas sejarah saya untuk memberi manfaat dan membantu sebanyak mungkin orang. Tapi ya sekarang harus sembuh dulu. Mudah-mudahan semua ini segera terlalui.

Dua hari lagi saya akan menjalani test swab. Rasanya degdegan. Rasanya nggak mau gagal dan positif lagi. Tapi saya harus ikhlas, apapun yang terjadi, saya siap hadapi. Dalam dua hari kedepan, saya akan terus ditransfusi plasma konvalesen, juga diberi antivirus Remdisivir dan obat-obatan lain, dua hari rasanya panjang sekali untuk ditunggu.

Seperti kita tahu hari ini adalah hari terakhir di tahun 2020. Ini lembar ke 366 dari 366 halaman di tahun ini. Bagi saya pribadi, ada banyak hal luar biasa terjadi di tahun ini, hal-hal yang tak akan saya lupakan. Semua yang mungkin berat tetapi telah membentuk siapa diri saya yang sekarang. Tahun ini ditutup dengan cara yang kurang menyenangkan, memang, saya sedang sakit. Tapi saya percaya ini cara Allah untuk mempersiapkan 2021 sebagai salah satu tahun terbaik dalam hidup saya kelak, juga hidup kita semua.

Akhirnya, saya ingin mendedikasikan jurnal kali ini untuk teman-teman yang sedang berjuang melawan Covid19. Tetap semangat, kawan-kawan. Jangan sampai putus harapan. Insya Allah kita akan sembuh. Kita akan lebih kuat. Kita akan jadi pribadi yang lebih baik di tahun depan.

Konon, tak ada yang lebih baik dari sakit, kecuali semua ini menghapus dosa-dosa berat kita yang terdahulu. Kemudian Tuhan membuka pintu doa: Bahwa apapun yang kita minta akan dikabulkanNya. Doa saya, semoga Allah segera angkat wabah ini. Semoga Allah berikan kehidupan yang lebih baik, jauh lebih baik, bagi kawan-kawan saya yang sedang membaca jurnal ini. (Fahd Pahdepie/Bersambung)

Penulis : Azhari

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Feb 2021 14:21 WIB

Sinopsis Cold Eyes: Misteri Organisasi Perampokan

Film

Film Cold Eyes akan tayang di program K-Movievaganza Trans 7.

28 Feb 2021 14:05 WIB

Ganjar Gowes sambil Pantau Penanganan Banjir di Semarang

Nusantara

Sejumlah titik-titik banjir di Semarang mulai surut.

28 Feb 2021 13:51 WIB

BNN: Jika Tak Punya Resep Dokter Millendaru bisa Dijerat Pidana

Nasional

Millendaru kembali berurusan dengan narkoba. Kali ini ia positif benzo.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...