Iman Supriyono, CEO SNF-CPengibar Merah Putih di 18 Negara itu Bukan BRI

18 Aug 2018 06:50 Ekonomi

Suasana peringatan Hari Ulang Tahun RI ke 73 ini paling asyik membicarakan peran perusahaan dalam mengibarkan sang Merah Putih. Ini penting karena perusahaan itulah yang menjadi ujung tombak daya saing sebuah bangsa. Jika dulu penanda sejarah adalah karya negara, kini penanda itu dibuat oleh perusahaan.

Mari kita belajar dari sebuah perusahaan yang sangat menarik. Menarik dari kacamata peran dalam mengibarkan tinggi-tinggi bendera negerinya di kancah ekonomi global. Menjadi ujung tombak negerinya dalam persaingan bisnis antar bangsa.

Ini adalah sebuah perusahaan yang bergerak di sektor perbankan sejak masa penjajahan. Berbagai peristiwa bersejarah dilaluinya sejak pendiriannya tahun 1912. Termasuk peristiwa pergolakan politik sammpai berbuah kemerdekaan negerinya.  

Akhirnya, kini perusahaan ini telah hadir melayani 18 negeri yaitu Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia, Myanmar, Philipina, Thailand, Vietnam, Jepang, Korea Selatan, RRC, Hong Kong, Macao, Taiwan, USA, Australia, UK dan Dubai. Pundi-pundi uang pun dikirim dari berbagai negara untuk kesejahteraan negerinya.

Bukan hanya sekedar kesejahteraan. Ada yang tidak bersifat fisik tapi sangat penting: membanggakan negerinya dalam perctauran bisnis antar bangsa. Menjadikan warga negerinya bermental bos. Bukan mental anak buah.

Siapakah perusaaan itu? Tidak lain adalah Bank OCBC. Lho, bukankah ini perusahaan asal Singapura? Bagaimana bisa mengibarkan Merah Putih? Hehehe… Jangan lupa bendera Singapura juga merah putih. Hanya berbeda tambahan logo bulan sabit dengan lima bintang. Hehehehe.

Memang OCBC dari Singapura. Tapi ada pelajaran penting yang bisa kita ambil dari bank asal negeri yang luasnya sepeti kota Surabaya ini. Pelajaran tentang bagaimana menjadi bank beraset besar. Palajaran tentang bagaimana masuk ke pasar negara lain dengan sangat cepat sekali gebrak. 

Mari kita pelajari sejarah, strategi dan angkanya. Tujuannya agar kita bisa mencontoh dan menerapkan pada perusahaan-perusahaan kita. Agar kita juga bisa mengangkat tinggi-tinggi sang Merah Putih. Tentu saja merah putih polos tanpa tambahan logo bulan bintang.

Mulai Gabungan Tiga Bank

Bank OCBC berdiri tahun 1932 sebagai gabungan dari 3 bank yang porak poranda akibar great depresion. Ketiganya adalah Chinese Commercial Bank Limited (berdiri 1912), Ho Hong Bank Limited (berdiri 1917) dan Oversea-Chinese Bank Limited (berdiri 1919). 

Jadi akar sejarah perusahaan bermula tahun 1912. Di Indonesia pada tahun tersebut berdiri Muhammadiyah yang kelak menghasilkan tokoh pejuang legendaris Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Pendiriannya sudah menunjukkan semangat yang sering kita dengar dan ucapkan “Bersatu kita teguh”. Di dunia politik semangat ini menjadi spirit hadirnya sebuah negara. Di dunia bisnis spirit ini dijalankan dengan menggabungkan kekuatan modal banyak orang dan perusahaan.

Semangat “bersatu kita teguh” dieksekusi OCBC secara terus menerus. Caranya dengan menerbitkan saham baru untuk menerima setoran modal dari investor baru. Akibatnya tidak ada pesaham pengendali. Perusahaan murni dijalankan dengan sistem manajemen dan tata kelola. Tidak ada raja yang bisa berbuat sesuka hati.

Berikut ini adalah sepuluh pesaham terbesar OCBC saat ini: Citibank Nominees Singapore Pte Ltd (15,93%), Selat Pte Limited (11,04), DBS Nominees Pte Ltd (10,63%), DBSN Services Pte. Ltd (6,16%), HSBC (Singapore) Nominees Pte Ltd (5,50%), Lee Foundation (4,34%), Singapore Investment Pte Ltd (3,75%), Lee Rubber Company Pte Ltd (3,10%), United Overseas Bank Nomnees Pte. Ltd (1,99%), Raffles Nomines Pte Ltd (1,74%). 

Perhatikan mereka adalah perusahaan-perusahaan investasi. Nominee adalah perusahaan yang bekerja dengan mengelola dana investasi dari pihak lain. Bersatunya uang banyak orang dan perusahaan menjadikan OCBC tumbuh pesat. Saat ini asetnya adalah SGD 455 Milyar (IDR 4 831 T). 

Bandingkan misalnya dengan Bank BRI yang berdiri tahun 1859 alias 73 tahun sebelum OCBC lahir. Saat ini bank yang dirikan dari uang kas masjid di Purwokerto oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja ini asetnya adalah 1126T alias hanya 23% aset OCBC.

Mestinya BRI Bisa

Mengapa BRI yang lebih senior tertinggal sangat jauh dari si yunior OCBC? Karena sampai saat ini BRI masih malu-malu mengumpulkan uang banyak orang. BRI pernah menerima dana dengan menerbitkan saham baru melalui IPO tahun 2003. 

Setelah IPO sampai saat ini BRI belum pernah membuka kesempatan kepada masyarakat luas untuk “urunan” membesarkannya sebagai setoran modal. Saham pemerintah tetap bertahan pada angka 56,75%.

Tahun 2004 Bank OCBC mulai masuk pasar Indonesia dengan membeli 22,5% saham bank NISP senilai SGD 119 Juta (IDR 1,263T kurs saat ini, aau IDR 602). Sat itu harga tersebut adalaah 47% di atas harga pasar. 

Setelah itu OCBC terus-menerus melakukan pembelian saham NISP sampai akhirnya menjadi pesaham pengendali dan NISP resmi menjasdi anak perusahaan. NISP pun berubah menjadi OCBC NISP.

OCBC masuk saat NISP membutuhkan setoran modal tambahan. Untuk melakukan hal ini, OCBC siap modal nyaris tanpa batas karena terus membuka diri terhadap setoran modal baru. Saat ini misalnya, jika menerbitkan 10% saham baru, OCBC akan menerima dana sekitar IDR 50 Trilyun. Cukup untuk mengakuisisi bank BTN dengan harga 100% diatas harga pasar.

Itulah cara OCBS membesar. Terus-menerus menerbitkan saham baru. Perusahaan membesar. Perusahaan menikmatinya sebagai modal besar dengan adanya agio saham alias “upeti” dari pesaham baru. Pemegang saham lama menikmatinya dengan kenaikan laba dan ujung-ujungnya adalah kenaikan dividen serta nilai saham yang dipegangnya.

Tahun 2014 bank J Trust dari Jepang mengakuisisi bank Mutiara dari tangan LPS. Otoritas penjamin simpanan milik negara ini melepasnya dengan harga IDR 4,2T. Andai membuka diri, cukup melepas 1,1% saham saja BRI sudah mampu mengakusisi bank Mutiara. Tidak butuh bank asing seperti Jtrust itu.

Bahkan jika mau, BRI juga bisa mengakuisisi dan masuk ke belasan negara seperti yang dilakukan oleh OCBC. Tetapi selama ini BRI menutup diri. 

Demikian juga bank-bank BUMN lain. Akibatnya satu demi satu bank-bank negeri ini diakuisisi oleh bank asing. Pasar pun dikuasai bank-bank asing.

Pada usia RI yang ke 73 hari ini, mari merenung. Mari belajar dari OCBC. 

Renungkan kembali apa yang kita lakukan di dunia bisnis selama ini. Mestinya, BRI dan bank-bank BUMN lain maupun bank swasta nasional juga punya kesempatan seperti yang dilakukan oleh OCBC. Terus-menerus menerbitkan saham baru untuk menerima tambahan setoran modal dari masyarakat. 

Melakukan korporatisasi. Dananya digunakan untuk membesar dan berekspansi di luar negeri. Menguasai pasar dunia. Mengangkat mental Indonesia menjadi bangsa bos bukan bangsa anak buah. Mengibarkan sang Merah Putih di 18 negara bahkan lebih. Sang Merah Putih yang polos. Bukan yang ada tambahan logo bulan bintang. 

Mari gelorakan kembali semangat Bung Tomo di dunia bisnis. Semangat arek-arek Suroboyo. Merdeka! Allahuakbar! (IG/TG/Twitter: @imansupri)

Reporter/Penulis : Azhari


Bagikan artikel ini