Para pemrotes menghadiri pawai Hari Hak Asasi Manusia di distrik Causeway Bay di Hong Kong. (Foto: wsj.com)

Penghormatan bagi Mahasiswa yang Tewas, Ini Aksi Warga Hong Kong

Internasional 16 December 2019 08:42 WIB

Hong Kong terus menghangat. Ribuan warga kota Hong Kong, membentuk barisan panjang untuk menghadiri upacara misa penghormatan bagi seorang mahasiswa, yang tewas, pada Kamis 12 Desember 2019 lalu.

Kematiannya telah memicu bentrokan paling keras dalam demonstrasi pro-demokrasi yang berlangsung enam bulan ini di negeri bekas koloni Inggris tersebut.

Alex Chow, 22 tahun, meninggal dunia bulan lalu karena cedera kepala yang dideritanya saat jatuh di tempat parkir. Saat itu sedang terjadi bentrokan antara demonstran dan polisi.

Meskipun rangkaian peristiwa yang mengarah pada kecelakaan fatal itu belum jelas dan masih diperdebatkan, para demonstran menjadikan kebrutalan polisi sebagai sasaran gerakan demonstrasi mereka.

Tiga hari setelah kematian Chow, polisi menembak seorang demonstran tidak bersenjata yang berusia 21 tahun, di bagian perut. Hal tersebut kembali memicu kerusuhan politik selama beberapa hari, yang mencapai puncaknya dengan pertempuran sengit di kampus-kampus.

Tiga minggu terakhir ini sudah jarang terjadi aksi kekerasan dan vandalisme setelah partai-partai pro-demokrasi menang telak dalam pemilu dewan lokal. Tetapi China dan pemimpin Hong Kong Carrie Lam tidak menunjukkan tanda-tanda mereka bersedia membuat konsesi lebih jauh, sehingga memicu kekhawatiran akan terjadinya bentrokan lagi.

Emosi memuncak di luar lokasi persemayaman Chow hari Kamis ketika orang antri hingga beberapa jam. “Ada begitu banyak elemen mencurigakan dan saya berharap ia akhirnya dapat beristirahat dengan tenang ketika kebenaran terungkap,” ujar Joe Cheung, seorang mahasiswa berusia 18 tahun, kepada AFP.

Media tidak diizinkan memasuki lokasi acara itu. Tetapi seorang guru yang datang bersama putranya, mengatakan bagian dalam tempat itu dihiasi bunga berwarna putih dan foto-foto Chow.

Di atas foto utama, ada spanduk dengan karakter Tiongkok yang bertuliskan “beristirahatlah dalam pelukan Tuhan,” ujarnya. “Hal itu sederhana dan membuat Anda merasa tenang dan damai,” tambahnya.

Bintang musik pop Kanton Denise Ho, yang musiknya dilarang di Tiongkok Daratan, dan mantan kardinal Katholik Joseph Zen, adalah sebagian tokoh penting pendukung gerakan demokrasi yang hadir.

Polisi telah berulangkali membantah tuduhan melakukan kesalahan dalam kaitannya dengan kematian Chow, dengan mengatakan petugas tidak berada di dekat tempat itu ketika ia jatuh.

Awalnya aksi demonstrasi ini menentang RUU ekstradisi, yang kini telah dicabut. Akhir-akhir ini, salah satu tuntutan utama demonstran –selain pemilu yang sepenuhnya bebas– adalah penyelidikan terhadap polisi yang terlibat aksi kekerasan dengan aktivis-aktivis berpakaian serba hitam, dan kini dibenci oleh warga yang sudah sangat terpolarisasi itu.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

08 Aug 2020 15:07 WIB

Buaya Besar Berhasil Ditangkap Usai Memangsa Seorang Ibu

Nusantara

Asmila, 40 tahun, warga Mamuju Tengah, Sulbar, tewas diterkam buaya.

05 Aug 2020 17:39 WIB

Warga Binaan Asimilasi di Malang Curi Motor di Teras Rumah

Kriminalitas

Kondisi motor dalam keadaan tidak dikunci setir.

05 Aug 2020 17:20 WIB

Lebih dari 250 Ribu Warga Beirut Kehilangan Tempat Tinggal

Internasional

Turki tawarkan bangun rumah sakit terbuka di Beirut.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...