KH Abdul Syukur, Pengasuh Ponpes Al Islah Ngasem, Kediri dikabarkan meninggal. (Foto: Dok PP Al Islah)
KH Abdul Syukur, Pengasuh Ponpes Al Islah Ngasem, Kediri dikabarkan meninggal. (Foto: Dok PP Al Islah)

Pengasuh dan Pendiri PP Al Islah Assuyuthi Dlopo Kediri Wafat

Ngopibareng.id Jawa Timur 28 November 2020 22:00 WIB

Pengasuh Pondok Pesanten Al Islah Assuyuthi, Dlopo, Karangrejo, Ngasem, Kediri KH Abdus Syukur dikabarkan meninggal pada Sabtu, 28 November 2020 petang.

Kabar duka ini dikonfirmasi Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kediri Rizmi Haitami Azizi dalam akun facebooknya, Sabtu, 28 November 2020.

"Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Keluarga Besar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kab. Kediri menyampaikan Duka Cita Yang Mendalam atas Wafatnya:
KH. ABDUL SYUKUR (Pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Dlopo Ngasem Kediri) Wafat: Sabtu, 12 Robi'ul Tsani 1442 H / 28 November 2020 M. Allahummaghfirlahu Warhamhu Waafihi Wa’fuanhu," tulisnya.

Sejumlah tokoh dan ulama Kediri pun ikut berbela sungkawa atas meninggalnya ulama yang terkenal dengan hidup sederhana ini. Salah satunya disampaikan Gus Reza, salah satu pengurus PP Lirboyo Kediri.

"Keluarga besar PP Lirboyo turut berbelasungkawa yang mendalam atas wafatnya KH Abdus Syukur (Pondok Pesantren Al-Ishlah, DLOPO, Kediri) Semoga Husnul Khotimah, dilipat gandakan semua amal baiknya, diampuni segala kesalahannya, keluarganya yang ditinggalkan diberi ketabahan... Amiin Ya Robbal Alamiin," tulis Gus Reza.

KH Abdul Syukur merupakan Ketua Syuriah MWC NU Ngasem, Kabupaten Kediri. Ia dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah Assuyuthi, Dlopo, Karangrejo, Ngasem, Kediri.

Pertama kali didirikan pada tahun 1979, santri PP Al Islah berjumlah 16 orang dan menempati teras rumah KH Abdul Syukur. Sebagian menempati serambi masjid.

Pada tahun 1987 di bangun sebuah gedung berlantai 2 (dua) dari kayu (gladak) dengan ukuran 6m x 8m berisi 6 kamar dan 2 ruang kelas untuk sarana belajar .

Mengingat semakin banyaknya santri yang mondok sehingga gedung yang lama tidak mencukupi hingga pada tanggal 11 Juni 1992 bertepatan dengan hari raya Idul Adha, gedung tersebut direhab total dan dibangun gedung baru dengan 3 (tiga) lantai.

Pada awalnya pembelajaran hanya dilakukan dengan sistem bandongan. Setelah jumlah santri mengalami peningkatan yang cukup pesat maka didirikanlah madrasah diniyah pada tahun 1989.

Dan mulai tahun 1996 program pondok ditambah dengan bidang pendidikan anak yatim piatu yang khusus mengelola anak-anak yatim piatu. Pada tahun 2000 secara resmi dibuka bidang tahfidzul quran yang mengurusi santri yang belajar Al-Quran baik binnadzor ataupun bil-ghoib.

Terakhir pada tahun 2006, PP Al Islah melaksanakan program wajardikdas 9 tahun yang pengawasannya berada di bawah Departemen Agama Kabupaten Kediri dengan jumlah santri kurang lebih 600 orang. 

Penulis : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Jan 2021 19:57 WIB

20 Hari Isolasi, Emil Ungkap Kondisi Terkini Gubernur Jatim

Jawa Timur

Terkait kembali aktifnya Khofifah Pemprov tunggu keputusan tim dokter.

22 Jan 2021 19:12 WIB

Wow! Pendaki Gunung Raung Sempat Berfoto Berlatarbelakang Erupsi

Jawa Timur

Termasuk beruntung karena berhasil mengabadikan momen istimewa.

22 Jan 2021 19:01 WIB

Jemput Paksa Jenazah Covid-19, Polisi Periksa Warga Kalibuntu

Jawa Timur

Polisi cari satu per satu warga Kalibuntu Probolinggo.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...