Pendana Bom Paskah di Sri Langka Ditangkap, Ini Identitasnya

12 May 2019 19:46 Internasional

Pihak berwenang Sri Lanka telah menangkap seorang ustadz lulusan Arab Saudi atas apa yang mereka klaim terkait dengan Zahran Hashim, tersangka pemimpin pemboman bunuh diri berdarah Minggu Paskah, juga aliran dana kepada para pelaku. Penangkapan ini sekaligus menyoroti meningkatnya ideologi Salafi-Wahhabi pada Muslim di pulau itu.

Mohamed Aliyar, 60 tahun, adalah pendiri Pusat Bimbingan Islam, yang memiliki masjid, madrasah, dan perpustakaan, di kota Kattankudy, kota kelahiran Zahran, sebuah kota yang didominasi Muslim di pantai timur Sri Lanka.

“Informasi telah terungkap bahwa tersangka yang ditangkap memiliki hubungan dekat dengan Zahran dan telah mengoperasikan transaksi keuangan,” bunyi sebuah pernyataan polisi dikutip Reuters, Sabtu 11 Mei 2019.

Pernyataan itu mengatakan Aliyar “terlibat” dengan pelatihan di kota selatan Hambantota untuk kelompok pembom bunuh diri yang menyerang hotel dan gereja pada Minggu Paskah, yang menewaskan lebih dari 250 orang.

Seorang juru bicara polisi menolak memberikan rincian tentang tuduhan itu.

"Salafisme, penafsiran puritan Islam, terkait erat dengan Wahhabisme, dan telah sering dikritik sebagai ideologi Islam radikal di seluruh dunia. Islam Wahhabi berakar di Arab Saudi dan didukung oleh para penguasanya."
Gereja di Sri Langka yang dibom saat Paskah 2019 Foto reuters
Gereja di Sri Langka yang dibom saat Paskah 2019. (Foto: reuters)

Pemerintah mengatakan Zahran, seorang pengkhotbah radikal berbahasa Tamil, adalah pemimpin kelompok itu.

Dua sumber komunitas Muslim di Kattankudy mengatakan kepada Reuters bahwa pandangan garis kerasnya sebagian dibentuk oleh teks-teks Salafi-Wahhabi yang sangat konservatif yang ia ambil di perpustakaan Pusat Bimbingan Islam milik Mohamed Aliyar, sekitar 2-3 tahun yang lalu.

“Saya dulu selalu bertemu dengannya di pusat bimbingan, membaca jurnal dan literatur Saudi,” kata salah satu sumber.

Selama waktu itu, Zahran mulai mengkritik praktik meminta bantuan Tuhan, misalnya, dengan alasan bahwa permohonan semacam itu merupakan penghinaan terhadap Islam murni (bid’ah).

“Pengajaran seperti itu tidak ada di Sri Lanka pada tahun 2016, kecuali jika Anda membacanya dalam literatur Salafi,” tambah sumber itu, yang meminta namanya tidak disebutkan untuk menghindari dampak di Kattankudy.

Salafisme, penafsiran puritan Islam, terkait erat dengan Wahhabisme, dan telah sering dikritik sebagai ideologi Islam radikal di seluruh dunia. Islam Wahhabi berakar di Arab Saudi dan didukung oleh para penguasanya.

Selain fakta bahwa Zahran sering mengunjungi pusat bimbingan itu, sumber-sumber di Kattankudy mengatakan mereka tidak mengetahui adanya ikatan pribadi antara dia dan Aliyar.

Aliyar mendirikan pusat bimbingan itu pada tahun 1990, setahun setelah ia lulus dari Universitas Islam Imam Muhammad ib Saud di Riyadh, dalam apa yang dikatakan oleh seorang warga menandai momen kunci dalam penyebaran doktrin Salafi di Kattankudy. Pusat itu sebagian didanai oleh uang Saudi dan Kuwait, sebagaimana tertulis di sebuah plakat di luar pusat tersebut.

Presiden Beri Penjelasan

Presiden Sri Lanka mengatakan, serangkaian serangan mematikan di negara itu pada Minggu Paskah lalu, didalangi oleh pihak asing.

“Sangat mungkin” bahwa “dalang asing” merencanakan serangan mematikan di Sri Lanka, kata Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena kepada Sky News. Presiden juga menyatakan bahwa ada kemungkinan bahwa kelompok teroris Daesh  telah memulai “strategi baru” dengan mulai menargetkan negara-negara kecil.

Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah Sri Lanka menerapkan kembali jam malam dua hari di wilayah sekitar kota Kalmunai di negara bagian timur itu, yang dilanda tiga pemboman pada 26 April.

Jam malam pertama nasional di Sri Lanka, selama seminggu tahun ini diberlakukan pada 21 April, hari serangkaian pemboman Paskah yang mematikan yang menewaskan ratusan orang dan melukai ratusan lainnya di seluruh negeri. Setelah itu, jam malam diberlakukan kembali setiap hari.

Kelompok teroris internasional Daesh dilaporkan mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Sri Lanka meluncurkan investigasi kriminal ke dalam serangan dan telah menangkap lebih dari 100 tersangka. Menurut jaksa penuntut, sembilan pelaku bom bunuh diri yang melakukan serangan, delapan di antaranya telah diidentifikasi. (adi/arn)

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini