Pemkot Malang Pakai Sumur Bor untuk 10 Ribu Pelanggan PDAM

15 Jan 2020 19:36 Jawa Timur

Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berencana menggunakan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air 10 ribu pelanggan PDAM yang terdampak pecahnya jaringan pipa air di Jalan Raya Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Wali Kota Malang Sutiaji menyebut, sumur bor akan digunakan pada pelanggan yang berada di kawasan atas wilayah Kota Malang, seperti Buring Atas, Kelurahan Kedungkandang.

"Untuk 10 ribu ini nanti akan kami maksimalkan sumur bor yang ada. Nanti pompanya berasal dari bantuan Kementerian PUPR. Nanti itu bisa mengcover yang ada di Buring Atas," terang Sutiaji usai melangsungkan Rakor tertutup dengan Kepala Pusat Air Tanah dan Air Baku, Dirjen sumber Daya Air Kemenpupr , Ir. Iriandi Azwartika, pada Rabu 15 Januari 2020 .

Sejumlah sumur bor yang dimiliki Pemkot Malang antara lain di Buring Hill, Tlogomas dan Terminal Hamid Rusdi.

Direktur Utama PDAM Kota Malang, Nor Muhlas mengatakan penggunaan sumur bor tersebut merupakan solusi jangka pendek. Pemkot akan mendapat bantuan pompa untuk sumur bor dari Kementerian PUPR.

"Dari rakor tadi, diperkirakan 2 sampai 3 hari akan datang bantuan pompa tersebut," tuturnya.

Sedangkan pipa bantuan dari Kementrian PUPR yang memiliki kekuatan sebesar 20 Pressure Nominal (PN) diperkirakan datang dalam jangka waktu satu bulan.

"Pipa yang pecah itu kan berkekuatan 10 PN, sedangkan tekanan air itu 12 PN lebih. Idealnya itu pipa yang terpasang memiliki kekuatan sebesar 16 PN. Untuk bisa mengalirkan air ke tandon di Buring Atas,"

Dijelaskan Muhlas bahwa bantuan pipa berkekutan 20 PN dari Kementrian PUPR itu memiliki daya tahan hingga 50 tahun lamanya. "Bantuan pipa dari Kementerian PUPR itu nominalnya sekitar Rp35 miliar," jelasnya.

Sebelumnya, terdapat sekitar 26 ribu pelanggan PDAM yang terdampak pecahnya pipa air di Jalan Raya Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. 16 ribu pelanggan di antaranya sudah mendapat suplai air yang mengalir dari sumber air Wendit 1 dan Wendit 2.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul
Editor : Dyah Ayu Pitaloka


Bagikan artikel ini