Save Balai PemudaRencana Proyek Pemkot di Balai Pemuda Makin Ngawur

04 Jan 2018 17:29 Surabaya

Pembangunan di komplek Balai Pemuda semakin menjadi-jadi. Pemerintah Kota Surabaya, melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang malah ingin membangun basement parkir dua lapis ke bawah tanah di areal Cagar Budaya itu, bahkan sampai memakan areal jalan Gubernur Surya pula. Basement itu akan menembus di bawah Jl. Yos Sudarso, menghubungkan kawasan Balai Pemuda dengan areal di pojok Jalan Pemuda.

Lilik Arijanto Sekretaris Dinas Cipta Karya mewakili Ery Cahyono, menjelaskan pada  rapat pembangunan kawasan Balai Pemuda yang mengundang perwakilan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan Bengkel Muda Surabaya (BMS), Kamis, 4 Januari 2018.

Pihak Cipta Karya lalu menayangkan beberapa rancangan mega proyek itu. "Di bawah areal Balai Pemuda yang saat ini sudah terbangun parkir basement, nantinya akan dilanjutkan kembali ke level dua," ujar Lilik.

Artinya di bawah areal parkir yang sekarang dengan luas 600 meter persegi, akan dibangun kembali basement serupa dengan ukuran yang klebih besar 1008 meter persegi, jadi ada dua level basement.

Kemudian proyek basement ini juga bakal memakan bawah jalan depan Gedung Merah Putih, jalan Gubernur Suryo.

"Basement tahap 3 dan tahap 4 akan dikerjakan di tahun berikutnya, dengan kedalaman 8-9 meter ke bawah," ujar Lilik.

Basement ini, ujarnya akan digunakan untuk areal parkir, juga sebagai cultural walk, dan kepentingan komersial.

Mananggapi pemaparan Dinas Cipta Karya Surabaya, para seniman jadi heran. Mereka berpendapat, proyek Pemkot kok tambah ngawur dan gila-gilaan di kawasan Balai pemuda.

"Lho, saya kira ini rapat membahas hasil kesepakatan hearing antara legislatif, eksekutif dan para seniman tanggal 20 Desember lalu. Dalam hearing itu ada empat poin kesepakatan, yaitu masjid Assakinah dibangun kembali, DKS dan BMS tetap di Balai Pemuda, tiga warung yang sejak tahun 1969 berada di komplek Balai Pemuda akan  diakomodasi, dan terakhir gedung baru dewan akan dibangun di atas gedung lama tanpa menggunakan tanah Balai Pemuda. Lha kok yang dipaparkan malah proyek-proyek lainnya yang makin merajalela," kata Wawan Hendriyanto salah seorang pengurus DKS.

Ketua DKS Chrisman Hadi dengan tegas menolak mega proyek itu. "Pemkot itu menganggap Balai Pemuda sekadar bangunan buatan kolonial. Kalau cuma pemahaman pemkot memang cuma segitu, ya hancurkan saja Balai Pemuda. Tidak usah dijaga dan dilestarikan. Toh peninggalan kolonial Belanda. Tapi persoalannya haris dilihat pula dari sisi spiritul. Balai Pemuda itu ruh kota Surabaya. Mau bangun pasar bawah tanah seperti di Korea Selatan atau China, cari lahan lain. Jangan di Balai Pemuda. Ini kawasan spirit, urusan nasionalisme. Bukan urusan pasar," kata Chrisman.

Amang Mawardi dari BMS  meminta pihak Cipta Karya mengkaji ulang rencana proyek itu."Rencana pembangunan ini seharusnya dikaji ulang, sejauh mana peraturan dan perundang-undangan tentang Cagar Budaya, apakah rancangan tadi tidak melanggar?" tanya Amang.

Ia juga menyayangkan bila selama dua tahun ini, proyek-proyek pembangunan di Balai Pemuda ini nampak tak terintegrasi dengan baik, dan juga mengenyampingkan aspek budaya di bangunan bersejarah itu.

"Beberapa tahapan pembangunan ini tidak terintegrasi, di sebelah barat Gedung Merah Putih itu ada bangunan kotak yang tak nyambung sama sekali," ujarnya

"Saya melihatnya bentuknya seperti kotak korek api," tambah Amang, merujuk pada areal jalan menuju parkir basement.

Proyek basement ini mendapat penolakan oleh beberapa perwakilan yang juga hadir. Dikhawatirkan bila proyek basement ini dilanjutkan, akibatnya bisa merusak areal lingkungan.

"Seharusnya studi amdalnya juga bisa dikaji, karena lokasi juga berdekatan dengan Sungai Kali Mas," ujar Heru, salah satu perwakilan BMS yang hadir.

Wawan Hendriyanto minta rapat sebaiknya fokus pada pembangunan kembali masjid Assakinah yang sudah dirobohkan Pemkot. "Fokus ke masjid saja, desainnya bagaimana, dibuat desain kearab-araban, atau disesuaikan dengan lingkungan sekitar, atau seperti masjid para sunan dahulu yang desain kearifan lokal. Ini sesuai dengan hasil hearing di Komisi C beberapa waktu lalu.

Lilik Arijanto Sekretaris Dinas Cipta Karya akhirnya sepakat, nannti diagendakan pertemuan dengan seniman. "Komunikasi seperti ini penting. Kami ini mencari masukan, karena itu nanti kita komunikasikan lagi," katanya.

Rapat dihadiri sekitar 40 orang, berlangsung sekitar 1,5 jam. Sayangnya, di pertemuan itu, beberapa kepala dinas yang juga diundang yakni, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Dinas Perhubungan serta Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau, tak terlihat hadir. (frd)

Penulis : Farid Rahman


Bagikan artikel ini