Dokter Rita Tjandra saat memeriksa retina mata pasien. (Foto: Dokumentasi RSMU)
Dokter Rita Tjandra saat memeriksa retina mata pasien. (Foto: Dokumentasi RSMU)

Pemeriksaan Rutin, Bisa Hindarkan Mata dari Ablasio Retina

Ngopibareng.id RS Mata Undaan 26 November 2020 14:01 WIB
RS Mata Undaan

Ablasio retina mungkin salah satu penyakit mata yang kurang akrab di telinga. Namun, penyakit ini merupakan salah satu gangguan pada mata yang harus diperhatikan.

Ablasio retina merupakan penyakit mata akibat mengelupasnya retina dari dinding dalam bola mata yang mengakibatkan fungsi penglihatan terganggu.

”Ablasio retina merupakan kondisi darurat mata yang bisa menyebabkan kebutaan permanen jika tidak segera ditangani.” kata dokter Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya (RSMU), dr. Rita Tjandra,Sp.M.

Rita Tjandra menjelaskan, rabun jauh atau mata dengan minus tinggi merupakan salah satu penyebab terjadinya ablasio retina. Semakin tinggi minus mata seseorang, maka semakin tinggi pula resiko terjadi ablasio retina. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dengan usia yang masih muda hingga tua.

“Kondisi mata minus terjadi akibat bola mata yang terlalu memanjang, sehingga cahaya yang harusnya jatuh tepat pada retina justru berada di depan retina. Semakin bertambahnya perpanjangan bola mata, berakibat menipisnya retina. Penipisan retina ini yang nantinya akan menyebabkan robeknya retina atau mengelupas dari dinding bola mata bagian dalam.” imbuh dokter yang telah bergabung di RSMU sejak tahun 2005 ini.

Rita Tjandra menjelaskan, gejala yang timbul sebelum penyakit ablasio retina datang menyerang, adalah timbul bintik-bintik hitam yang melayang pada penglihatan atau biasa disebut floaters.

Selain itu penderita akan melihat kilatan cahaya, penglihatan menjadi bergelombang seperti melihat air dan penglihatan menjadi gelap sebagian.

“Jika merasa mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan sebaiknya segera memeriksakan kondisi retina secara seksama ke dokter spesialis mata. Penyakit ablasio retina ini tidak dapat dilihat secara kasat mata dan tidak disertai rasa nyeri ketika terjadi. Penyakit ini juga tidak menyebabkan mata merah, gatal, dan bengkak” ujar dr. Rita yang tergabung dalam Sub-Divisi Vitreoretina di RSMU.

Tindakan operasi adalah upaya yang dapat dilakukan ketika seseorang terdiagnosa ablasio retina.

Rita Tjandra, Sp.M menambahkan, tindakan operasi ini tidak sepenuhnya mengembalikan kondisi penglihatan untuk dapat kembali normal 100 persen, tergantung dari seberapa lama dan luas robekan terjadi.

Ablasio retina tidak selalu dapat dicegah, namun resiko terjadinya ablasio retina dapat dikurangi dengan pemeriksaan rutin mata ke dokter spesialis mata minimal setahun sekali jika mata masih normal dan enam bulan sekali yang memiliki kelainan yang sudah ada sebelumnya seperti mata minus.

Pemeriksaan rutin ini dapat Anda lakukan di RSMU yang berada di Jalan Undaan Kulon No.17-19.

Penulis : Pita Sari

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Jan 2021 12:56 WIB

Pilih PSBB, Pakar Unair Sebut PPKM Tak Efektif

Surabaya

Pakar Sebut PPKM yang Diterapkan Saat Ini Tidak Efektif

22 Jan 2021 12:23 WIB

Viral, Bayi Empat Bulan Dicekoki Miras oleh Pemuda

Reportase

Polisi menangkap pemuda dan beberapa rekan yang berpesta miras.

22 Jan 2021 12:06 WIB

Pelatih Timnas Aljazair Tolak Karim Benzema

Liga Spanyol

Djamel Belmadi merasa Timnas Aljazair tak butuh Benzema.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...