Brenton Tarrant,, di Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru. (Foto:Reuters)

Pembantai 51 Jemaah Masjid Christchurch Mengaku Bersalah

Internasional 26 March 2020 12:44 WIB

Brenton Tarrant, tersangka kulit putih yang membantai  51 jemaah Muslim di Christchurch, Selandia Baru, mengaku bersalah. Sebelumnya, penganut supremasi kulit putih ini dalam melakukan pembelaaan selalu menolak dikatakan bersalah.

Brenton Tarrant, yang muncul melalui tautan video, mengakui 51 tuduhan pembunuhan, 40 tuduhan percobaan pembunuhan, dan satu tuduhan melakukan aksi terorisme, dalam persidangan di Pengadilan Tinggi Christchurch, Kamis.

"Dia telah dihukum atas masing-masing dan setiap dakwaan itu," kata hakim ketua Justice Cameron Mander dalam berita acara sidang yang dirilis oleh pengadilan.

"Masuknya permohonan bersalah merupakan langkah yang sangat signifikan untuk mengakhiri proses pidana ini," kata Justice Mander.

Tarrant telah ditahan polisi sejak 15 Maret 2019, ketika ia ditangkap dan dituduh menggunakan senjata semi-otomatis untuk membantai umat Islam yang tengah menjalani shalat Jumat di dua masjid di Christchurch. Serangan itu disiarkan langsung melalui Facebook.

Tarrant, warga Australia berusia 29 tahun, sebelumnya mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan.

Hakim Mander mengatakan sekarang tidak perlu mengadakan persidangan enam minggu yang sebelumnya akan dimulai pada 2 Juni.

Pengadilan sekarang akan menghukum Tarrant atas seluruh 92 tuduhan, tetapi tidak memberikan tanggal untuk hukuman itu. Tarrant dikembalikan ke tahanan hingga 1 Mei.

Karena karantina nasional yang diberlakukan Selandia Baru akibat wabah virus corona, sidang pengadilan pada Kamis berlangsung dengan hanya 17 orang di ruang sidang, yang termasuk sedikit staf, pengacara, dan beberapa media lokal. Seorang imam dari masing-masing dua masjid yang diserang juga diizinkan untuk menghadiri persidangan.

Selandia Baru mengumumkan karantina secara nasional mulai Kamis, untuk memerangi penyebaran virus corona.

Pengadilan memberlakukan embargo satu jam untuk melaporkan berita tersebut untuk memberitahu anggota keluarga dan korban tentang apa yang terjadi sebelum berita itu dipublikasikan.

"Permohonan bersalah hari ini akan memberikan bantuan kepada banyak orang yang hidupnya hancur atas apa yang terjadi pada 15 Maret," kata Perdana Menteri Jacinda Ardern dalam sebuah pernyataan.

"Permohonan dan vonis bersalah ini merupakan pertanggungjawaban atas apa yang terjadi dan juga menyelamatkan keluarga yang kehilangan orang yang dicintai, mereka yang terluka, dan saksi lainnya - yang adalah cobaan berat," kata Ardern. (ant/rtr)

Penulis : M. Anis

Editor : Rohman Taufik

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

04 Jun 2020 13:55 WIB

Terapkan New Normal, Pedagang Pasar Manyar Dipuji Khofifah

Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sidak ke Gresik.

04 Jun 2020 13:38 WIB

Partai Gelora Siap Ikut Pemilu 2024

Politik

Sudah Dapat SK Pemerintah, Partai Gelora siap ikut pemilu 2024

04 Jun 2020 13:35 WIB

Sembuh dari Covid, 20 Nakes RS Unair Kembali Bekerja

Kesehatan

Sudah Negatif, Nakes RS Unair yang Terpapar Covid Kembali Bekerja

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...