Penyerahan bantuan sembako untuk terdampak wabah Corona di sekitar masjid di daerah Surabaya Utara. (Foto Istimewa)
Penyerahan bantuan sembako untuk terdampak wabah Corona di sekitar masjid di daerah Surabaya Utara. (Foto Istimewa)

Pembagian Sembako Lewat DMI Bikin Lega Guru Ngaji

Ngopibareng.id Surabaya 19 April 2020 15:04 WIB

Guru ngaji di masjid-masjid juga ikut terkena dampak pandemi Covid-19. Mereka umumnya bergantung hidupnya pada iuran murid yang dibayarkan setiap sebulan sekali. Ketika jadwal ngaji ditutup akibat wabah Corona, maka mereka tak mendapat iuran atau bisyarah seperti biasanya.

''Alhamdulillah, barokallah. Sembako ini sangat berarti buat keluarga saya. Terutama dalam masa pandemi Corona seperti sekarang,'' kata Latifah, guru ngaji di kawasan Jalan Ikan Mungsing, Surabaya.

Ia merupakan salah satu penerima sembako Peduli Dampak Pandemi Covid-19 di Surabaya. Sembako dari Gusdurian, Buddhist Education Center (BEC), Metta School, dan Longevitology ini disalurkan lewat DMI Kota Surabaya untuk dibagikan melalui masjid-masjid.

Pada tahap awal ini, telah dibagikan 400 paket sembako yang berisi beras, gula, minyak goreng, dan mie instan. Paket sembako tersebut disebar ke 40 masjid di kota Pahlawan ini. Masing-masing masjid mendapat jatah 10 paket.

Selain mendistribusikan paket sembako sumbangan dari berbagai kelompok masyarakat di kota ini, DMI Kota Surabaya juga melakukan penyemprotan disinfektan untuk masjid dalam musholla. Kegiatan ini hasil kerjasama dengan EMCO Peduli.

Menurut Latifah, sejak wabah Corona melanda Indonesia, ia libur mengajar dari kegiatan mengaji. ''Jadi nggak ada pemasukan. Sehingga sembako ini sangat membantu sekali,'' katanya sambil tersenyum.

Hal yang senada diungkapkan Alhamdani. Guru ngaji yang juga khatib Jum'at ini mengaku lega dana pembagian sembako lewat DMI. ''Terus terang, wabah Corona ini mengganggu kegiatan saya. Sehingga berpengaruh dalam pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari,'' katanya.

Sejak pandemi Corona melanda, simpati banyak ditujukan kepada para pekerja informal. Terutama para driver ojol dan para pedagang jalanan. Sementara para terdampak lain yang tidak kelihatan kurang mendapat perhatian.

Para guru ngaji, misalnya, juga menjadi terdampak Corona. Hanya saja, mereka pada umumnya enggan mengeluh karena dianggap menyalahi adab sebagai guru ngaji. Sehingga saat mendapatkan perhatian, mereka mengaku sangat bahagia sekali.

Penulis : Azhari

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Jan 2021 10:10 WIB

Mahasiswa Unusa Buat Buku tentang Toleransi Beragama di Prancis

Unusa Gateway

Bukunya berisi pengalamannya saat berada di Prancis.

22 Jan 2021 09:50 WIB

UB dan RSSA Kirim Bantuan Tenaga Medis ke Mamuju Sulbar

Pojok Unibraw

Sebut korban masih sulit akses pelayanan kesehatan.

22 Jan 2021 09:35 WIB

Tips agar Bersepeda Bisa Genjot Imun Tubuh

Gowes Bareng

Terlalu lelah dan stres malah berakibat buruk bagi imun tubuh.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...