Eduardo Galeano, pemikir bebas. (Foto: Istimewa)

Pelarian Ulat Sutra Cina, Ini Renungan Eduardo Galeano

Tokoh 05 July 2020 07:28 WIB

Eduardo Galeano adalah salah satu penulis terbesar benua Amerika Latin—selain Gabriel Garcia Marquez, Pablo Neruda dan Mario Vargas Llosa—nama yang terakhir kemudian banting stir dan menjadi pembela paling tangguh sistem politik ekonomi neoliberal. Galeano pergi kealam baka pada 13 April 2015 dalam usia 74 tahun.

Eduardo Hughes Galeano, demikian nama panjangnya, lahir di Montevidio Uruguay pada 3 September 1940. Mengawali karirnya sebagai jurnalis dan editor pada harian terkemuka Marcha pada tahun 1960an.

Eduardo Galeano di Indonesia semula pemikirannya diperkenalkan Halim HD, lewat terjemahan Memory of Fire. Kini mendapat perhatian lebih luas, termasuk di antaranya aktivis sosial Wardah Hafidz dan kalangan intelektual lainnya.

Berikut di antara renungan hari ini, yang menarik dari Eduardo Galeano:

PELARIAN ULAT SUTRA CINA

lama setelah pengembangan seni pembuatan sutra di Cina itu, banyak musuh yang tidak lagi hanya menunggu di sepanjang jalur sutra. namun siapapun yang mencoba membawa benih murbei atau telur ulat penghasil benang sutra keluar Cina, dihukum penggal kepala.

pada tahun 420, Xuan Zang, raja Yutian, meminang seorang puteri Cina. sekali ia melihatnya, dan sejak itu ke manapun matanya memandang yang dilihatnya hanya sang puteri.

pinangannya kepada puteri yang bernama Lu Shi itu diterima.

seorang duta raja diutus pergi menjemput sang puteri.

upacara, jamuan makan yang tak berkesudahan, dan tukar menukar hadiah berlangsung.

suatu waktu, ketika mereka hanya berdua saja, duta raja menyampaikan kerisauan calon suami sang puteri.

kerajaan Yutian selalu membayar sutra Cina dengan batu giok, yang jumlahnya di negeri itu semakin menipis.

Lu Shi tak berkata sepatahpun, dan tak apapun nampak di wajahnya yang bulat rembulan.

mereka pun berangkat. ribuan onta dan ribuan genta mengiring, menyeberangi gurun pasir luas, dan mereka pun sampai di perbatasan di Puncak Yumenguan.

pemeriksaan berlangsung berhari2. sang puteri pun tidak luput dari pemeriksaan dan penggeledahan.

akhirnya, iring2an pengantin sampai di tujuan.

selama perjalanan Lu Shi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tak juga gerak isyarat.

ia memerintahkan iring2an untuk berhenti di sebuah biara. di sana ia dimandikan dan dibaluri wewangian. alunan musik mengiringi makannya, dan ia berangkat tidur dalam diam.

ketika raja, sang suami, datang, Lu Shi menyerahkan kepadanya biji murbei yang disembunyikannya di kotak obatnya. ia pun mengenalkan kepada raja tiga perempuan dari antara dayang2nya; sesungguhnya mereka bukanlah pelayan ataupun dayang2, tetapi ahli dalam seni pembuatan sutra. kemudian ia melepaskan tutup kepalanya yang tinggi dan terbuat dari daun kayumanis, dan mengurai rambutnya yang hitam panjang. di situ terletak telur2 ulat sutra.

dari sudut pandang Cina, Lu Shi adalah pengkhianat kepada negeri kelahirannya.

dari sudut pandang Yutian, ia pahlawan bagi negeri yang diperintahnya.

*) Diterjemahkan Wardah Hafidz dari buku Mirrors, karya Eduardo Galeano.

Ada catatan menarik tentang Eduardo Galeano.

Ketika kalangan militer melancarkan kudeta dan mengambil alih kekuasaan di Uruguay pada 1973, Galeano kemudian dipenjarakan dan dipaksa untuk meninggalkan negerinya. Karyanya Open Veins of Latin America dengan segera dilarang oleh pemerintahan militer dan pelarangan ini tidak hanya di Uruguay, tetapi juga berlangsung di Chile dan Argentina.

Ketika mengungsi ke Argentina, ia mendirikan majalah budaya, Crisis. Pada 1976, dia menikah untuk yang ketiga kalinya dengan Helena Villagra; pada saat yang sama, jenderal Jorge Rafael Videla mengambil alih kekuasaan di Argentina melalui salah satu kudeta militer paling berdarah di benua itu.

Nama Eduardo kemudian ditambahkan ke dalam daftar orang-orang yang dituduh dan dicari-cari oleh pasukan pembunuh. Tekanan ini memaksa Galeano mengungsi lagi, dimana kali ini dia menuju Espanyol, Spanyol.

Di sana dia menulis karya trilogy termasyhurnya, Memoria del Fuelgo (Memories of Fire), Genesis dan Century of the Wind, dikenal sebagai karya sastra yang menentang dengan keras kolonialisme dan imperialisme di Amerika Latin.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

09 Aug 2020 01:15 WIB

Tak Puas dengan Pemerintah, 7.000 Warga Beirut Turun ke Jalan

Internasional

Protes dengan pemerintahan yang korup.

08 Aug 2020 23:15 WIB

Pengurus Tebuireng Tegaskan Makam Gus Dur Belum Dibuka

Jawa Timur

Makam Gus Dur belum dibuka untuk kunjungan wisata.

08 Aug 2020 22:45 WIB

Surabaya Zona Merah, Persebaya Tunda Latihan di Lapangan

Liga Indonesia

Persebaya belum kumpulkan pemain dan pelatih.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...