Tim Demits Evo 1 saat menunjukan inovasi pelampung yang bisa mencegaj hipotermia. (Foto: Dok. ITS)
Tim Demits Evo 1 saat menunjukan inovasi pelampung yang bisa mencegaj hipotermia. (Foto: Dok. ITS)

Inovasi Pelampung Cegah Hipotermia saat Kecelakaan Laut

Ngopibareng.id Pendidikan 24 January 2021 11:28 WIB

Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam Tim Demits Evo 1, menciptakan inovasi pelampung Anti Hypothermia Lifevest atau Hy-Live. Pelampung dirancang untuk dapat digunakan mencegah terjadinya hipotermia pada korban kecelakaan kapal di laut. Pelampung dilengkapi heater atau pemanas.

Ketua Tim Demits Evo 1, Ferdina Ramadhansyah mengatakan, inovasi Hy-Live dapat menjadi inovasi baru dalam bidang keselamatan yang diharapkan mampu mengurangi angka kematian akibat kecelakaan kapal.

"Kerja dari pelampung Hy-Live tersebut menggunakan tiga sensor LM35 yang telah ditempatkan di titik tertentu. Sensor tersebut akan mendeteksi suhu tubuh korban dan lingkungan," kata mahasiwa yang akrab disapa Ferdi.

Terang Ferdina, pembacaan suhu didapatkan dari area sekitar heater yang dekat dengan kulit tubuh, di mana heater tersebut ditempatkan pada bagian dada dan punggung pelampung.

Inovasi pelampung Anti Hypothermia Lifevest atau HyLiveFoto Dok ITSInovasi pelampung Anti Hypothermia Lifevest atau Hy-Live. (Foto: Dok. ITS)

Ferdi melanjutkan, hasil pembacaan suhu oleh sensor tersebut diteruskan ke mikrokontroler jenis arduino nano. Kemudian, mikrokontroler mengolah data dari ketiga sensor hingga didapatkan suhu referensi sebagai acuan untuk batasan nyala dan matinya heater.

“Saat suhu referensi berada di bawah suhu tubuh normal (36 derajat celcius), maka heater akan menyala dan membuat suhu di sekitar heater menjadi hangat,” jelasnya.

Menurut Ferdi, ketika pelampung tenggelam maka heater pun akan tercelup dalam air. Oleh karena itu, bila kondisi lingkungan air laut dan tubuh misalnya terdeteksi sekitar 32 derajat celcius, heater akan menyala terus menerus.

"Saat heater menghangatkan tubuh, sensor terus membaca suhu dan ketika panas heater telah membuat suhu lingkungannya mencapai 55 derajat celcius maka heater akan mati dengan sendirinya. Komponen heater tersebut mengunakan aluminium untuk mendistribusikan panas," imbuhnya.

Inovasi yang diinisiasi oleh Ferdina, Galih Sukma Adjie, Dyon Athallah Ramadhan, Athallah Ramadhan, dan Saktiawan Okto Bertha Agustien ini meraih medali emas dalam ajang Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO) pada kategori Applied Physics and Engineering, beberapa waktu lalu.

Penulis : Pita Sari

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Feb 2021 06:58 WIB

Messi Bintang Lapangan, Barcelona Raih 3 Poin di Markas Sevilla

Liga Spanyol

Messi mencetak satu gol dan satu assist saat Barca menumbangkan Sevilla 2-0

28 Feb 2021 06:25 WIB

Verona Gagalkan Kemenangan Juventus

Liga Italy

Verona berhasil menahan imbang Juventus 1-1.

28 Feb 2021 05:50 WIB

Dipenjara 20 Hari, Nurdin Ngaku Tak Tahu Suap: Demi Allah!

Korupsi

Nurdin Abdullah melimpahkan kesalahan kepada Sekretaris PUPR Sulsel.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...