KH Abdurrahman Wahid dengan kopiah yang khas, bersama ulama sepuh. (Foto: Istimewa)

Peci Gus Dur Hadiah Ulama Gorontalo, Menyimpan Misteri

26 Oct 2020 06:44

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) nampak sering menggunakan Upiah Karanji (peci keranjang) yang terbuat dari anyaman pohon minthu. Pohon sejenis rotan yang hanya tumbuh liar di hutan-hutan Gorontalo itu dianyam menyerupai peci pada umumnya.

Peci keranjang yang sering dipakai Gus Dur punya sejarahnya. Tak disangka, peci keranjang yang dipakai pertama kali oleh Gus Dur adalah pemberian Ulama Gorontalo.

Dalam suatu kunjungan pribadi ke Gorontalo, Gus Dur tanpa pengamanan ketat, tanpa paspampres. Menurut Gus Dur, kedatanganya saat itu adalah hasil dari mimpi. Dan dari buah tidurnya itulah, ia segera memutuskan untuk datang bertemu seorang Ulama Gorontalo. Tak ada yang tahu kedatangnya, bahkan pejabat dan aparat kepolisian pun dibuat geger. Kabar bahwa Gus Dur baru saja balik dari Gorontalo, setelah ia sudah berada kembali ke Jakarta.

Peci keranjang awalnya tidak sepopular seperti saat ini. Berkat Gus Dur peci keranjang hasil anyaman warga Gorontalo ini jadi terkenal seantero negeri. Peci keranjang sengaja dianyam agar pemakainya tidak merasa gerah. Dan apapun bentuknya, keunikan yang diciptakan oleh gradasi warna kulit minthu tak akan kehilangan pesonannya. Gus Dur berhasil mengangkat nama harum Gorontalo lewat upiah karanji.

Tak ada yang mengetahui pasti apa pertemuan dan maksud kedatangan Gus Dur secara diam-diam. Saat tiba di Gorontalo siang itu, Gus Dur bersama sopir pribadinya langsung menuju arah Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Gorontalo. Daerah ini cukup jauh ditempuh dari pusat Kota Gorontalo.

Menurut Dadi Kasim Usman, salah satu Tokoh Adat Gorontalo menuturkan, bahwa Gus Dur datang secara diam-diam menuju Desa terpencil di Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Gorontalo.

Setelah tiba pada sebuat tempat, Gus Dur begegas menuju sebuah gubuk tua. Sang sopir diminta agar tetap ditempatnya semula. Gus Dur berjalan menuju sebuah gubuk tua berjarak 50 meter dari mobil.

“Sepertinya, Gus Dur telah berkomunikasi langsung secara spiritual dengan sang penghuni gubuk tua itu. Sesampainya di depan gubuk tua, terdengar suara dari dalam dan mempersilahkan Gus Dur masuk,” tutur DK Usman.

Tak lama kemudian, Gus Dur keluar dari gubuk tua. Ia telah mengunakan peci keranjang yang tak lain pemberian seseorang dari dari dalam gubuk.

Menurut Gus Dur, bahwa seseorang yang barusan ia temui itu adalah ulama Gorontalo. Setelah balik dan tiba di Istana, beberapa hari kemudian, Gus Dur memesan kembali beberapa buah peci keranjang.

Namun menjadi pertanyaan, siapa Ulama Gorontalo pemberi Peci Keranjang kepada Gus Dur? Hanya Gus Dur dan Tuhan lah yang tahu.

Djemi Radji, 22 Januari 2020.
*) Dipetik dari Muhammad Abid Muaffan, santri Lirboyo, kini berdakwah di Gorontalo, Sulawesi Utara.