(Ilustrasi: Muid Mular/watyutink.com)

PDIP dan Golkar, Pelajaran dari World Cup 2018

19 Jun 2018 12:00

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Antara Kejuaraan Sepak Bola Dunia 2018 (World Cup) dengan Pemilu 2019, memang tidak ada hubungannya sama sekali. Tapi dari sejumlah pertandingan di babak penyisihan dalam World Cup kali ini, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Terutama bagi para petinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golongan Karya (Golkar), sebagai partai papan atas.

Dalam dunia sepak bola, kesebelasan Brazil, Spanyol, Jerman, dan terakhir Portugal, merupakan sederet nama besar yang pada setiap World Cup digelar, menjadi momok kesebelasan lawan mainnya. Penonton pun akan membanjiri stadion dan jutaan pasang mata dipastikan mengikuti tayangan langsung lewat teve. Nama-nama besar seperti Messi-Argentina, Neymar-Brazil, Ronaldo-Portugal, Ozil-Jerman, Harry Kane-Inggris, Paul Pogba-Perancis, dan terakhir bintang dari Mesir, Mohamed Salah, turut pula mengangkat minat publik untuk membanjiri stadion maupun nobar di berbagai café di seluruh penjuru dunia. 

Ekspektasi publik penonton pun cenderung menaruh harapan, bahwa setiapkali kesebelasan maupun nama-nama pemain papan atas berlaga, permainan bermutu menjadi harapan untuk ditampilkan. Bahkan lebih jauh lagi, publik selalu memprediksi secara dini bahwa kesebelasan papan atas yang diperkuat nama-nama besar, pasti akan dengan mudah menggilas setiap lawannya. 

Namun, apa yang terjadi di lapangan World Cup kali ini? Ternyata Jerman juara bertahan yang perkasa dipaksa bertekuk lutut oleh Meksiko. Argentina secara mengejutkan dipaksa bermain imbang dengan Islandia yang dalam ukuran di dunia persepakbolaan internasional, tergolong anak kemarin sore, pendatang baru yang masih ingusan. Hal yang juga mengejutkan ketika Brazil harus mengakui kegigihan kesebelasan Swiss, negara penghasil produk coklat dunia yang lebih dikenal dengan dunia perbankan ketimbang persepakbolaannya. Tak ada yang mengira bahwa Brazil harus cukup puas mengahiri pertandingan dengan skor imbang 1:1. Neymar dan Marcelo pun dibuat tak berkutik! Siapa yang mengira?

Realita di lapangan World Cup 2018 ini, ada baiknya menjadi bahan perenungan para petinggi PDIP dan Golkar. Dalam situasi anomali politik dalam kehidupan masyarakat Indonesia hari ini, apa yang terjadi dalam pertandingan di babak penyisihan World Cup kali ini, bukan tidak mungkin bisa juga terjadi di lapangan politik Pemilu 2019.

PDIP dan Golkar sebagai partai papan atas jangan merasa akan dengan mudah melewati pintu kemenangan dalam Pemilu 2019 kali ini. Pasalnya karena Pemilu 2019 merupakan pemilu uji coba dimana pileg dan pilpres digelar secara serentak. Sehingga bisa terjadi antara pilihan presiden dan pilihan partai tak berbanding lurus. Kerja mesin pemilu pun sepenuhnya dalam kendali penyeleggara pemilu (KPU-KPUD). 

Belum lagi faktor kekuatan dana. Bila dalam World Cup kekuatan dana tidak terlalu mempengaruhi kualitas penampilan kesebelasan negara masing-masing, tidak demikian halnya dengan partai-partai peserta Pemilu 2019. Money politic sudah tidak mungkin lagi untuk diberantas. Realita kehidupan ekonomi yang sangat memprihatinkan dalam kehidupan masyarakat pemilih mayoritas yang adalah penghuni perkampungan dan pedesaan, merupakan celah paling rawan yang lebar menganga dimana money politic mendapatkan ruang yang sangat kondusif.

Di sisi lain terjadi semacam penggelembungan kejenuhan terhadap partai-partai established-penguasa. Ditandai dengan meningkatnya kesadaran rakyat akan bahaya korupsi yang masih saja dilakukan oleh para fungsionaris partai-partai besar. Apalagi konsentrasi publik dipastikan akan lebih bergairah menyiapkan diri untuk memilih capres yang menjadi idolanya. Karena selama ini memilih partai dengan harapan besar, toh hasilnya tak terasakan oleh konstituen pasca hari pencoblosan. Sangat bebeda dengan pilihan terhadap figur capres yang pasca pencoblosan akan terus berada di pusaran kehidupan mereka sehari-hari (Jokowi effect).

Lewat gambaran ini, baik PDIP dan Golkar sebaiknya mulai berfikir dengan paradigma baru ketimbang melakukan kampanye tradisional yang tidak lagi pas dan jauh dari selera publik zaman now. Bagi PDIP tidak cukup lagi hanya menjual gambar Bung Karno dan Mega. Sementara bagi Golkar tak mungkin lagi jualan sukses story di masa lalu karena hal itu sudah menjadi jualan Partai Berkarya-nya Tommy dan Titiek Soeharto!

Yang pasti, rakyat bertambah pandai untuk bertanya; peningkatan kesejahteraan dan keadilan apa yang telah diperjuangkan partai untuk rakyat secara nyata yang langsung dapat dirasakan?

Silakan dirumuskan jawabannya! Mumpung ‘pertandingan’ baru memasuki babak penyisihan. Masih ada waktu sekitar 8 bulan sampai ke final!

*Erros Djarot - Dikutip sepenuhnya dari laman Watyutink.com