PBNU: Pernyataan Anning Melukai Rasa Kemanusiaan

19 Mar 2019 15:25 Internasional

Senator Australia Fraser Anning menyalahkan imigran Muslim atas teror di dua masjid, Al Noor dan Linwood Ave, Kota Christchurch, New Zealand (Selandia Baru). Teror tersebut menewaskan sebanyak 50 orang, termasuk di antaranya warga negara Indonesia yang tinggal di negeri tersebut.

"Pernyataan Anning sangat melukai rasa kemanusiaan. Tidak hanya terhadap umat Islam, tetapi seluruh umat manusia yang cinta perdamaian," kata Robikin Emhas, Ketua Harian Tanfidziyah PBNU pada ngopibareng.id, Selasa 19 Maret 2019.

Meskipun begitu, kata Robikin Emhas, dunia tidak boleh terpancing. Tidak boleh terprovokasi. Sikap protes yang disampaikan tetap harus mengedepankan akhlakul karimah.

"Saya berharap Indonesia menyampaikan nota protes akan hal itu. Sebagai organisasi dengan komitmen tinggi mewujudkan perdamaian dunia, NU tidak pernah akan merasa lelah mengupayakannya. Satu dan lain hal agar peradaban dunia mencapai keluhurannya," kata Robikin Emhas.

"Saya berharap Indonesia menyampaikan nota protes akan hal itu. Sebagai organisasi dengan komitmen tinggi mewujudkan perdamaian dunia, NU tidak pernah akan merasa lelah mengupayakannya. Satu dan lain hal agar peradaban dunia mencapai keluhurannya," kata Robikin Emhas.
Fraser Anning Foto australia today
Fraser Anning (Foto: australia today)

Seperti diketahui, Fraser Anning yang dikenal kontroversial menyebut, penembakan massal yang dilakukan warga Australia bernama Brenton Tarrant itu akibat bertambahnya keberadaan Muslim di Selandia Baru.

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengecam pernyataan Anning tersebut. Menurut Ardern, komentar tersebut memalukan.

"Memalukan," kata Ardern singkat, menjawab pertanyaan salah satu wartawan yang meminta pendapatnya terkait statemen Anning.

Alexander Downer mantan Perdana Menteri Australia Foto dok ngopibarengid
Alexander Downer, mantan Perdana Menteri Australia. (Foto: dok ngopibareng.id)

Sementara itu, PM Australia Scott Morrison meminta senator tersebut dikenakan dakwaan. "Kekuatan penuh hukum harus diterapkan kepada Senator Fraser Anning," tegas Scott Morrison, dikutip dari The Telegraph.

Pernyataan Fraser Anning juga memicu aksi nekat seorang remaja berusia 17 tahun bernama Will Connolly. Bocah yang dijuluki Egg Boy itu mengepruk kepala Anning yang sedang diwawancara media menggunakan telur hingga telur tersebut pecah berantakan ke kepala dan pakaian Fraser Anning.

Di sisi lain, petisi untuk mencopot Farser Anning dari posisinya sebagai senator Australia, muncul di change.org. Hingga saat ini hampir satu juta orang menandatangani petisi berjudul 'Remove Fraser Anning from parliament' (Usir Fraser Anning dari parlemen).

Pengakuan Mantan PM Australia

Berbeda dengan Aningga, pernyataan tokoh Australia ini justru merupakan pengakuan pada Islam, khsususnya NU sebagai representasi Islam moderat di Indonesia yang memberikan pengaruh bagi perdamaian dunia.

Alexander Downer, mantan Perdana Menteri Australia, mengapresiasi adanya gerakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) yang secara tegas melawan polarisasi masyarakat di Nusantara. Menurutnya, NU secara tegas melawan pengasong kebencian.

“...Dengan media sosial, sejumlah kecil ekstremis dapat berkomunikasi secara global satu sama lain, di mana pun mereka berada. Seorang perekrut ISIS di Suriah dapat membujuk tiga gadis di London Timur melarikan diri dari rumah untuk bergabung dengan kultus kematian. Dengan mengklik tombol, seorang penyerang di Selandia Baru dapat mengambil inspirasi bejat dari seorang pembunuh massal Norwegia."

Demikian dikatakan Alexander Downer, mantan Perdana Menteri Australia, dikutip ngopibareng.id dari The Sunday Times edisi 17 Maret 2019.

Keterkaitan ini, menurutnya, tidak ada sampai beberapa tahun yang lalu, ketika Osama bin Laden akan berkomunikasi dengan para murid Al-Qaeda dengan kaset selundupan - dan itu berarti bahwa tidak ada masyarakat yang dapat kebal dari jaringan global ekstremisme.

"Memecah jalur komunikasi ini - dan sejauh mungkin menghapus konten ekstremis dari internet - harus menjadi prioritas tinggi bagi pemerintah barat, terutama yang seperti Inggris dan Selandia Baru yang termasuk dalam kemitraan keamanan Five Eyes dan dapat bekerja sama dalam tugas ini," tutur Downer.

Mengapa, misalnya, rekaman mengerikan dari serangan Jumat begitu banyak tersedia di YouTube, Facebook, dan Twitter?

Menurut Downer, hal itu hanya akan mendorong lebih banyak kekerasan. Hal penting kedua adalah bekerja sama dengan pihak yang tepat yang telah berusaha untuk menghapus ekstremisme - dan menciptakan tekanan atas mereka yang memperburuknya.

"Di Indonesia, misalnya, gerakan Nahdlatul Ulama, dengan keanggotaan hingga 30 juta Muslim, melakukan pekerjaan luar biasa untuk melawan polarisasi masyarakat Indonesia dan memperkuat kohesi sosial. Dengan menantang ajaran lama dalam tradisi Islam yang digunakan untuk membenarkan kebencian dan kekerasan, mereka membuat serangan seperti pemboman Bali di masa depan lebih kecil kemungkinannya.”

Demikian pengakuan Alexander Downer. Ia memberikan komentar, menyusul adanya aksi terorisme di dua masjid saat Shalat Jumat, 15 Maret 2019, di kota Christchuch, Selandia Baru. Dalam aksi terorisme itu, terjadi di Masjid Al Noor di dekat Hagley Park.

Pelaku mengenakan pakaian ala militer membuka tembakan ke arah sekitar 300 jamaah yang menunaikan Shalat Jumat.

Teror itu berlanjut, terjadi di masjid yang terletak di Linwood di pinggiran kota Christchuch. Tercatat 49 orang meninggal dunia dan 20 lainnya mengalami cedera, termasuk dua warga negara Indonesia.

Sejauh ini semua masjid di Selandia Baru diminta ditutup untuk sementara waktu. Salah seorang pelaku serangan diketahui sebagai Brenton Tarrant yang menyiarkan aksinya secara langsung di Facebook Live. (adi)

"Di Indonesia, misalnya, gerakan Nahdlatul Ulama, dengan keanggotaan hingga 30 juta Muslim, melakukan pekerjaan luar biasa untuk melawan polarisasi masyarakat Indonesia dan memperkuat kohesi sosial. Dengan menantang ajaran lama dalam tradisi Islam yang digunakan untuk membenarkan kebencian dan kekerasan, mereka membuat serangan seperti pemboman Bali di masa depan lebih kecil kemungkinannya.” kata Alexander Downer, mantan Perdana Menteri Australia.