Menpar Arief Yahya. foto:kemenpar
Menpar Arief Yahya. foto:kemenpar

Pariwisata Indonesia Butuhkan Mobile Positioning Data

Ngopibareng.id Gerak Wisata 28 March 2018 08:28 WIB

Target tinggi dicanangkan Kementerian Pariwisata untuk tingkat kunjungan wisatawan mancanegara. Karenanya, dibutuhkan sebuah teknologi akurat untuk menghitung jumlah turis yang masuk Indonesia. Mobile Positioning Data (MPD) bisa mendukung hal tersebut.

MPD berbasis teknologi dan big data. Sehingga, berguna untuk menghitung pergerakan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Datanya dijamin lebih akurat dan aktual.Hal tersebut diungkapkan Menteri Pariwisata dalam acara Workshop International ‘The 2nd International Workshop The Use of Mobile Positioning Data (MPD) for Tourism Statistics’ di Ayodya Resort, Nusa Dua, Bali. 

Menpar tampil sebagai keynote speaker. Bersama Shanzhong Zhu, Executive Director UNWTO, dan Suhariyanto Kepala BPS RI.

“Kita membutuhkan MPD. Terutama untuk menganalisis data dan membuat keputusan cepat. Misalnya saat ada events yang kita promosikan. Kita bisa tahu seberapa efektif impactnya? Berapa crowds yang tercipta? Saya bisa dengan cepat menghitung dan membuat keputusan,” kata Menpar Arief Yahya. 

Dihadapan 100 peserta, Arief Yahya menjelaskan, MPD dapat digunakan untuk mengukur sentimen destinasi. Juga originalitas, dan minat visitor. Big data, lanjut Arief, merupakan teknologi untuk lebih mengenali potensi pariwisata di Indonesia. Juga lebih mengenal profil wisatawan yang datang di Indonesia.

Workshop bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih luas pada seluruh peserta. Khususnya mengenai pentingnya MPD. Terutama dalam membantu meningkatkan kualitas pengumpulan data statistik. Data ini juga bisa untuk berbagai macam kebutuhan.

Berbagai macam kebutuhan, meliputi data sensor untuk mengukur traffic kendaraan (populasi), mengetahui prilaku wisatawan terkait profil, pergerakan, pengeluaran, trending topik sosial media, serta banyak manfaat lainnya. Hingga saat ini, kemampuan MPD terus dikembangkan oleh para ahli dalam bidangnya.

“MPD ini semakin populer. Saat ini, MPD sudah digunakan oleh Estonia, dan direkomendasi juga oleh UNWTO. Seperti diketahui, pergerakan orang sama dengan pergerakan barang dan uang. Tourism adalah pergerakan orang. Kelak data ini bisa juga menghitung pergerakan trade and investment,” ujar Menpar Arief.

Menurutnya, sejak tahun 2016, Kementerian Pariwisata sudah memanfaatkan teknologi MPD. Tepatnya untuk pencatatan wisman lintas batas di 29 kabupaten. Metode ini dilakukan pada pintu-pintu masuk perbatasan yang belum ada tempat pencatatan imigrasi. 

Sehingga, lebih memudahkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai badan resmi penyedia data statistik Indonesia dan juga data statistik pariwisata di wilayah perbatasan.

Tujuannya untuk mengukur dan mengatur cross border tourism Indonesia. Sebab, cross border tourism Indonesia masih rendah dibandingkan negara lainya. Seperti Perancis, Jerman, Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Menpar Arief berharap, ke depannya Mobile Positioning Data tidak hanya dimanfaatkan pada sektor pariwisata. Tetapi juga pada data statistik untuk sektor pembangunan nasional lainya.

Menteri asal Banyuwangi ini menambahkan, penggunakan MPD pada era digital sangat tepat. Karena, dapat membantu mengumpulkan data kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dengan beberapa keunggulan. Yaitu dalam hal real time, kecepatan, ketepatan, dan cakupan yang lebih luas. 

”Kita biasa sebut dengan 3 V, yakni Volume, Velocity atau kecepatan dan Variety atau jenis. Kalau kita sudah mengedepankan digital, lalu kita tidak menggunakan MPD, maka nantinya disconnect. Karena Big Data atau MPD sangat banyak manfaatnya, karena di era sekarang adalah sebuah keniscayaan kita tidak menggunakan digital,”  kata Menpar.

Selain Menpar, narasumber asal mancanegara yang sukses menerapkan MPD juga ditampilkan. Yaitu Jaanus Kroon (Head of Statistics Department), Eesti Pank (Bank of Estonia), Erki Saluveer (Chief Excecutive Officer of Positium, Estonia).

Keberhasilan Estonia menerapkan MPD, memang dijadikan benchmarking bagi Indonesia. Sebagai perbandingan, Estonia memulai penggunaan MPD sejak 2018, sedangkan Indonesia mulai tahun 2016. 

Di Estonia, MPD awalnya diterapkan di Central Bank of Estonia. Yaitu memanfaatkan data telecom  provider seperti Telia, Elisa, dan Tele 2. Sedangkan di Indonesia MPD pertama kali digunakan Kemenpar. Dengan memanfaatkan Telkomsel dan Positium. 

Positium adalah perusahaan dari Estonia yang ditunjuk sebagai processor dan diperbantukan di Indonesia.(*)

Penulis : Widi Kamidi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 Oct 2020 22:00 WIB

Er-Ji akan Gunakan Big Data Pantau Kesejahteraan Warga Surabaya

Pilkada

Big data itu yang akan jadi kawah Eri dalam membangun Surabaya.

23 Aug 2020 21:27 WIB

Protokol CHSE Pariwisata DIY Perlu Verifikasi

Ekonomi dan Bisnis

Verifikasi protokol CHSE menumbuhkan trust konsumen atau wisatawan.

07 Aug 2020 10:30 WIB

HUT RI Saat Pandemi, Kemenparekraf Bikin Lomba Berhadiah Semiliar

Nasional

Peringatan dirayakan di tengah pandemi Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...