Ilustrasi: Fa Vidi/Ngopibareng.id)

Para Sufi Mencari Tuhan, dari Rumi hingga Hamzah Fansuri

29 Nov 2020 01:42

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Para sufi mempunyai aneka pengalaman terkait upaya mencari Tuhan. Mereka adalah orang-orang pejalan, para salik, yang terus-menerus berkeinginan menemukan Sang Pencipta.

Diriwayatkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi, guru dari Maulana Jalaluddin Rumi. Suatu ketika Abu Yazid Albistami (804-875 M) pergi ke Mekkah. Putra Persia yang juga dikenal dengan Bayazid Al-Bustami. Ketika sampai di Bashrah Irak, Abu Yazid bertemu salah satu guru sufi.

Lalu sang guru sufi bertanya, “Mau kemana engkau wahai Abu Yazid?”.

Abu Yazid menjawab, “Mau pergi haji ke Baitullah.”

Sang guru sufi bertanya lagi, “Berapa banyak bekal yang engkau punya untuk pergi bertemu Allah swt di Baitullah sana?”

Abu Yazid menjawab, “200 dirham.”

Guru sufi menasehati Abu Yazid, “Kau serahkan saja 200 dirham itu kepadaku, lalu kau tawaflah aku sebanyak 7 kali.”

Guru sufi ini lebih lanjut menerangkan kepada Abu Yazid, “Kau pikir Allah itu ada dalam Ka'bah? Apa kalian pikir Allah itu bisa kalian kurung dalam sebuah bangunan?”

“Jauh sekali engkau mencari Allah. Padahal, Dia ada dalam hati seorang mukmin. Dia dekat, lebih dekat dari urat leher. Kau tawaflah aku saja, karena Allah ada dalam qalbuku,” kata sang guru.

Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa qalbu seorang mukmin adalah baitullah. Qalbu para sufi adalah qalbu yang senantiasa mengalami muraqabah. Allah bersemayam dalam qalbu yang seperti itu.

Sementara qalbu manusia biasa justru menjadi sarang syaitan. Karena jarang bahkan tidak pernah mengalami proses penyucian (suluk).

Kata guru sufi ini, “Allah tidak pernah masuk ke dalam baitullah sejak itu didirikan. Namun Allah tidak pernah keluar dari qalbuku sejak ia dibangun oleh-Nya.”

Setelah pengajaran makrifat ini, sang guru tetap mempersilakan Abu Yazid menunaikan rukun Islam kelima ke Mekkah.

Namun ada pesan sangat hakiki tentang keberadaan Allah yang diperoleh Abu Yazid dalam perspektif tasawuf dari pengalaman itu.

Ini mirip dengan yang kemudian disyairkan Hamzah Fansuri. Mencari Tuhan sampai ke Mekkah. Tapi ketemunya di ‘rumah’ (di qalbunya sendiri):

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Kakbah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya ditemukan di dalam rumah

Demikian sekadar untuk membuka wawasan kita bersama. Semoga bermanfaat. Amin.