Tali Agel Madura Menembus Handmade Dunia (1)Para Janda, Para Pengungsi, Kerajinannya Keren Lalu ā€œMengungsiā€ ke Banyak Negeri

11 Jul 2018 11:47 Feature

Konon tali agel sekuat tali dari bahan serat nanas. Sebab itu, tali agel acapkali digunakan para pekerja kapal untuk menghela kapal laut dengan bobot mati ribuan gross ton.  

___________________ 

Itu kalau di laut. Itu kalau bertemu para pekerja atau perusahaan kapal. Tapi kalau di darat, sudah tidak bertemu dengan para pekerja laut lagi, namanya tali agel, bisa malih rupa. Bisa malih fungsi. Tidak lagi untuk nggeret kapal gede-gede, tapi untuk aksesoris penampilan. Eksotis, dan keren luar biasa.

Di Bangkalan – di Pulau Madura itu – tali agel malih rupa menjadi bahan baku handycraft cantik. Jangan lagi tanya siapa peminatnya, sebab para kolektor dari mancanegara sudah pada antri untuk memesan hasil kreativitas ini.

Kenapa dipesan? Mengapa laris? Trus kok bisa eksotis? Jawabnya cukup sederhana: tali agel tidak saja sangat ramah lingkungan tapi juga memiliki kualitas dan keunikan yang jarang ada pada tali dari jenis bahan lain.

Daya magnitut luar biasa besar inilah yang ditangkap Faiqatul Himmah, 47 tahun, untuk kemudian diterjemahkan menjadi berbagai produk kreatif handmade dalam kategori handycraft. Perempuan asli Bangkalan ini pun lantas melakukan sejumlah eksplorasi.

Faiqatul Himmah penggiat pengungsi sekaligus pemilik brand Daun Agel Bangkalan fotowidikamidi
Faiqatul Himmah, penggiat pengungsi sekaligus pemilik brand Daun Agel Bangkalan. foto:widikamidi

Diawali benar-benar dari nol. Nol karena keterbatasan SDM. Bentuk dan model diawali dari hanya sekadar lemek dan tutup gelas. Lalu alas meja, lalu tikar. Dibuat dengan apa adanya, natural, dan nyaris tanpa polesan. Apalagi kemasan! Hasilnya? Lebih mendekati produk asal-asalan dengan kualitas yang sangat kasar.

Satu, lalu dua, dan tiga dibikin. Walau alot tapi laku dipasaran. Kemudian bikin empat, bikin lima, eh.. juga laku. Digenjot lebih banyak lagi malah semakin laris. Fenomena ini membuat eksplorasi diperkaya. Model pun lantas dipercantik. Unsur desain kemudian dimasukkan. Kualitas juga diperbaiki. Lalu kualitas menjadi prioritas. Cukup sukses, dari mulai laris biasa menjadi laris dengan catatan pemesanan. Ini dan itu. Model begini dan model begitu.

Setelah itu mulailah merambah model tas, topi hingga melayani pesanan dalam jumlah kecil, sedang, dan besar.

Berikutnya, banjir pesanan sudah menjadi aktivitas sehari-hari Faiqatul Himmah. Progres yang luar biasa ini membuat Faiq – nama sayang perempuan perkasa ini - mendirikan bendera Daun Agel Handicraft sebagai brand. Pusatnya di Jalan Graha Candra Lavender Blok M/4, Bangkalan, Madura.

Bentuk fisik pohon agel yang dari dahandahannya bisa dipilin menjadi bahan baku kerajinan tali agel fotoistimewagoogle
Bentuk fisik pohon agel yang dari dahan-dahannya bisa dipilin menjadi bahan baku kerajinan tali agel. foto:istimewa/google

Pengungsi

Respon luar biasa atas produk handmade dari tanah Bangkalan ini sungguh tidak terbayangkan sebelumnya. Sebab di Bangkalan cukup edentik dengan migrasi orang-orangnya untuk melangkah ke kota-kota besar. Tujuannya untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Nah, handmade, kerja banyak hasil sedikit, kreativitas, sungguh sangat jarang menempel di laku kehidupan dan kebiasaan warga Bangkalan, dan umumnya Madura.

Faiqatul Himmah, diawal kerja kreatifnya, didera permasalah ini. Para perajin yang dihimpunnya, di balik handycraft, di balik handmade berbahan tali agel tersebut, sejatinya bukanlah perajin tulen. What?. Iya betul!

Jumlah perajin dadakan itu mencapai 100-an orang dan semuanya adalah perempuan. Mereka, para perempuan Madura itu, menjadi perajin karena bertahan untuk hidup. Namun siapa nyana ekonomi akhirnya bisa mengalir cukup lancar hingga ke jauh ke gunung-gunung dimana Pohon Pocok alias Pohon Gebang alias Pohon Agel tumbuh dengan suburnya.

Perempuan-perempuan perajin dari Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu dan Desa Dopok, Kecamatan Kokap, Kabupaten Bangkalan itu sejatinya adalah para pengungsi dari Sambas, Kalimantan Barat. Mereka, saat itu, merana setelah tempat tinggalnya dilanda konflik besar, horizontal, akibat isu SARA.

Memanen pelepah daun agel tahapan awal untuk proses membuat tali agel fotoistimewagoogle
Memanen pelepah daun agel, tahapan awal untuk proses membuat tali agel. foto:istimewa/google

Seratus lebih perempuan itu kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Suami dan anak-anak karena kerusuhan Madura-Dayak. Demi keselamatan jangka panjang oleh pemerintah etnis Madura ini lalu dipulangkan ke Pulau Madura.

Kini, meraka sudah berproses. Menjalani hidup baru. Lalu malih rupa menjadi perajin tali agel. Ini, menurut mereka, adalah bagian dari proses berdamai dengan petaka kemanusiaan itu. Mereka butuh hidup, dan selanjutnya bisa rutin mendapatkan penghasilan agar mampu hidup layak seperti sediakala. (idi/bersambung)

Reporter/Penulis : widi kamidi


Bagikan artikel ini