Panglima yang Tertukar

29 Mar 2019 11:15 Ajar Edi

Letjen Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nasional, makin sering muncul di media. Sibuk wira-wiri menanggani bencana. Keliling Indonesia.

Terakhir kali, dia terlihat di Sentani, Papua. Mengurusi penanganan banjir bandang. Dengan pekerjaannya sekarang, akhirnya dia jadi “panglima”. Untuk urusan bencana, tentu saja.

Kalau dia berhasil melaksanakan tugas ini dengan baik, karirnya bisa bergerak lagi. Jika melihat perjalanan karirnya, dia salah satu jenderal terbaik. Cemerlang, salah satu bintang. Kandidat jadi Kepala Staff Angkatan Darat (Kasad) lalu Panglima TNI.

Panglima TNI, adalah posisi sakral dan penting. “Posisi Panglima itu, sakti mandraguna,” kata Menkopolhukam Jenderal (Purn) Wiranto di seminar Forum Nasional Mahasiswa Anti Penyalahgunaan Narkoba di UIN Syarif Hidayatullah, Kamis, 28 Maret 2019 lalu.

Hampir dipastikan, semua mantan Danjen Paspampres, akan jadi petinggi TNI. Bahkan jalur menjadi Panglima TNI. Tapi sejarah selalu punya mantranya sendiri.

Satu hal penting yang tak boleh dilupa, dia menjabat saat rejim siapa. Pak Doni contohnya. Dia jadi bos Paspampres saat jaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Jamak, hubungan SBY dan Megawati tak semulus dan sebulat donat.

Tahun 2004, di penghujung jabatannya, Presiden Megawati Soekarnoputri, mengeluarkan “cinderela policy”. Dia mengajukan Jenderal Ryamizard Ryacudu menjadi Panglima TNI. Calon tunggal ke Komisi I DPR.

Nyatanya, SBY sebagai presiden terpilih tidak merestui. Ryamizard tidak dilantik mempimpin tiga matra TNI. Sejak Oktober 2004 sampai Februari 2006, nasibnya digantung.

Akhirnya, SBY memilih Djoko Suyanto dari TNI Angkatan Udara. Lolos dari fit and proper test di Komisi I DPR-RI pada 2 Februari 2006, dia dilantik SBY pada 13 Februari 2006. Langkah SBY ini sempat jadi sorotan. Tapi, dunia tetap berputar.

Kini, garis tangan Jenderal Andika Perkasa terlihat benderang. Mantan Danjen Paspampres di masa Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini berada di masa yang tepat. Karirnya lengkap.

Pendidikannya sempurna. Lulusan Harvard ini, yang kini melesat paling cepat. Salah satu bintang sempurna di angkatan darat.

Kini setelah jadi Kasad, dialah kandidat terkuat Panglima TNI. Banyak analisa menyebut, Presiden Jokowi ingin melakukan penyegaran. Memotong beberapa generasi. Mirip di kepolisian, saat dia memilih Jenderal (Pol) Tito Karnavian yang melompati beberapa angkatan.

Namun, ada juga analisa sumir. Karena ada Jenderal (Purn) Hendropriyono, di lingkaran dekat Jokowi. Mertua Pak Andika ini yang kabarnya menolak ditawari jabatan menteri. Kedekatan itulah, yang disorot.

Yang pasti, dalam kotak kepemimpinan TNI, semua jenderal pasti memiliki kapabilitas mumpuni. Cerdas, tangguh, dengan doktrin NKRI harga mati. Jadi sebenarnya, untuk urusan kemampuan, modal mereka seiring. Tinggal garis tangan saja.

Kembali ke Pak Doni. Dulu sempat jadi polemik terkait pengangkatannya. Banyak ahli hukum yang meyakini, Kepala BNPB harus sipil. Jadi kalau ada TNI aktif, dia harus purna tugas terlebih dahulu.

Menariknya, Presiden Jokowi memintanya tetap jadi TNI aktif. Untuk memimpin BNPB. Entah, apa rencana Pak Jokowi.

Tentu menarik menunggu hasil pilpres kali ini. Bila Presiden Jokowi-KH Maruf Amin menang, karpet merah Jenderal Andika terbentang untuk jadi Panglima TNI. Di belakangnya, sudah menunggu Mayjend Maruli Simanjuntak, Danjen Paspampres yang menantu Menko Maritim Luhut Pandjaitan itu.

Namun, kalau Prabowo-Sandiaga yang menang, bisa jadi jalan Letjend Doni Monardo yang benderang, karena SBY jadi salah satu penyokong Prabowo.

Entahlah, garis sejarah akan mewarnai tangan siapa. Yang pasti, NKRI harga mati.

Ajar Edi, kolumnis ngopibareng.id

Reporter/Penulis : Arif Afandi
Editor : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini