Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menilai dunia maya harus diatur negara. (Foto: Puspen TNI)
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menilai dunia maya harus diatur negara. (Foto: Puspen TNI)

Panglima TNI Minta Negara Harus Atur Kehidupan Medsos

Ngopibareng.id Nasional 21 November 2020 17:50 WIB

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, media sosial (medsos) dapat menjadi alat propaganda pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sehingga, menurut Hadi, negara perlu mengatur kehidupan dunia maya karena sudah menjadi arena baru dalam kehidupan sosial.

"Medsos lahir dari adanya dunia maya. Seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan lainnya ternyata dapat pula dijadikan alat komunikasi politik," kata Hadi dalam Webinar bertajuk "Sinergi Anak Bangsa Dalam Menjaga Keutuhan Bangsa dan Negara Dari Aksi Separatisme di Dunia Maya" Sabtu, 21 November 2020.

Menurutnya, negara perlu mengatur kehidupan dunia maya, terlebih dunia maya punya implikasi serupa dunia nyata, bahkan lebih luas. Semua yang ada di dunia nyata ada di dunia maya.

Di sisi lain, Hadi juga menuturkan jika dunia maya memiliki kelebihan yaitu kecepatan dan kemudahan. Oleh sebab itu, hal ini bisa berdampak lebih masif kepada masyarakat daripada dunia asli.

Misalnya, ia mencontohkan bagaimana dunia maya mampu melahirkan dunia elektronik, seperti ecommerce, egovernment, dan alat diskusi online atau dalam jaringan yaitu webinar.

"Orang kembangkan bisnis berbasis elektronik di berbagai bidang baik itu pemerintahan, pertahanan juga termasuk. Hal ini menunjukkan bahwa dunia maya telah jadi arena baru dalam kehidupan sosial," katanya.

Meski dinilai lebih cepat dan memudahkan masyarakat, Hadi menyoroti pula dampak buruk dari adanya medsos. Ia menilai dampak buruk medsos yaitu bisa menjadi ajang propaganda bahkan memecah belah bangsa.

"Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akui bahwa media sosial telah dapat dimanfaatkan sebagai media propaganda, dengan penggunaan dan jangkauan yang luas, medsos bisa digunakan efektif untuk perang informasi dan perang ideologi," kata Hadi.

Jika hal ini terus dilakukan, kata dia, mampu menimbulkan politik identitas yang sempat digunakan penjajah kepada bangsa. "Politik identitas kembali marak digunakan, sejak beberapa tahun belakangan karena dinilai mudah menggerus masyarakat dan mudah meraih dukungan," katanya.

Penulis : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

20 Jan 2021 06:43 WIB

Inagurasi Biden, Pesta Bersama Jennifer Lopez dan Lady Gaga

Internasional

Pesta 24 jam, tradisi pelantikan presiden dan wakil presiden AS

20 Jan 2021 06:29 WIB

Ancaman Keamanan hingga Tabur Bintang, Meriahkan Pelantikan Biden

Internasional

Aparat keamanan berjaga-jaga di Gedung Capitol

20 Jan 2021 05:23 WIB

Orang-orang miskin, Pandanglah dengan Mata Rendah Hati

Islam Sehari-hari

KH Husein Muhammad berdasar pesan Imam Al-Ghazali

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...