Pameran Lukisan 'Sang Maha Guru' Gus Dur Dibuka

22 Nov 2018 17:36 Seni & Budaya

Pameran lukisan karya tunggal Nabila Dewi Gayatri bertajuk Sang Maha Guru, Kamis, 22 November 2018 di Hotel Sultan, Jakarta dibuka langsung Hj Sinta Nuriyah Abduurahman Wahid.

Pada pameran kali ini, Nabila memamerkan lukisan-lukisan khusus Gus Dur bersama beberapa tokoh dan Gus Dur dengan ragam dimensi.

Di dalam katalog pameran yang bekerjasama ISNU, NU Gallery dan didukung Angkasa Pura terdapat lukisan Gus Dur bersama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Gus Dur bersama Mahfud MD, Gus Dur bersama KH Ma’ruf Amin, Joko Widodo, dengan Menag Lukman Hakim Saifuddin dan tokoh lain.

Menurut Nabila, sebagai seorang santri, pameran tersebut merupakan salah satu peringatan untuk Hari Santri 24 Oktober dan menjelang peringatan Haul Gus Dur yang kesembilan, akhir Desember nanti.

"Dari Gus Dur saya banyak belajar hal, di antaranya adalah keberanian dalam menembus batas, menjadi pribadi yang berguna bagi manusia lain dengan berani menanggung segenap risikonya," katanya.

Lahirnya lukisan-lukisan ini, lanjutnya, bukan sekadar mengenang Gus Dur, tapi berharap lahir Gus Dur lain sesudahnya.

"Indonesia yang begitu besar, begitu plural, begitu banyak potensi masalah membutuhkan adanya pengayom, membutuhkan orang-orang yang sanggup menyatukan, menempatkan setiap golongan dalam satu ikatan," katanya, seperti dikutip nu online.

Sementara itu, Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengatakan lukisan buah karya Nabila Dewi Gayatri merupakan keberpihakan seniman terhadap nilai etik profetik (etika kenabian). Nilai yang berpihak kepada kemanusiaan dari sosok yang dilukisnya.

"Seni yang seperti ini mengandung etik profetik, seni yang tidak hanya keindahan," katanya saat membuka pameran.

Menurut Sinta, pameran tersebut tidak hanya memamerkan karya seni, tapi menggali nilai-nilai Gus Dur dalam merawat Indonesia.

"Saat radikalisme, egoisme kelompok menguat, ketika kebangsaan direncah-rencah, upaya mengingat spirit Gus Dur menjadi niscaya. Di sini lah strategisnya Gus Dur," katanya. 

Lebih lanjut Sinta mengatakan, spirit Gus Dur itu sebaiknya menjadi penyadaran dan aktualisasi dari untuk kepentingan bangsa.

Sementara Nabila Dewi Gayatri mengatakan kreativitasnya menghadirkan Gus Dur dalam karya lukis. Menurut dia, Gus Dur bukan hanya milik NU, tapi panutan banyak umat beragama. 

"Dan akhirnya menjadi ingatan kolektif bangsa karena obor sengkarut kegelapan. Saya berusaha menghadirkan Gus Dur di keseharian kita," ujar istri Gus Dur

Tidak cukup dengan kata-kata, seorang pelukis ya dengan lukisan yang ada di hari lahir hingga wafatnya. Katanya, maha guru karomah yang jelas, memberkati sekitarnya, setiap hari ribuan peziarah datang. 

Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siroj mengatakan pengalaman-pengalamannya saat menemani Gus Dur semisal pembelaannya terhadap Konghuchu dan saat jalan-jalan di Masjid Nabawi Madinah.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Ali Masykur Musa, Ketua Umum Pagar Nusa Nabil Harun, dan para cendekiawan lintas agama. (wit)

Reporter/Penulis : Witanto


Bagikan artikel ini