Pameran Lukisan Para Maestro di Galeri AJBS

15 Nov 2019 15:53 Seni dan Budaya

Pelukis Affandi memakai kaos merah dan bersarung motif kotak-kotak. Duduk bersila di kursi panjang dari kayu sambil mengisap rokok dengan pipa. Di sebelahnya duduk putrinya, Kartika, memakai tank top  dengan asesoris khasnya berupa topi lebar warna pink.  Yang aneh, wajah Kartika berhias mirip Jocker.

Affandi bersama Kartika, adalah lukisan karya Djoko Pekik berjudul Pejuang Seni Rupa ukuran 113 X 130 Cm, dilukis dengan media cat minyak. Kartika berwajah Jocker, tentu hanya pelukisnya yang tahu persis apa alasannya. Atau ini sekadar kepekaan Djoko Pekik saja dalam menangkap fenomena Jocker. Tapi mengapa Kartika? Lha ya itu, hanya pelukis kelahiran Purwodadi, Grobokan bulan Februari 1938 ini, yang tahu. Dia tentu mengenal persis Kartika, karena sama-sama tinggal di Yogyakarta.

Karya Djoko Pekik ini, bersama 41 lukisan lainnya ditambah enam  karya 3D, hingga tanggal 17 November mendatang dipamerkan di AJBS Gallery, Jl. Ratna 14, Ngagel, Surabaya.

Ini pameran lukisan berkelas. Surabaya beruntung disinggahi  pameran bersama bertajuk Minna Minkum Nusantara ini,  setelah sebelumnya digelar di Bali.

Bagaimana Surabaya tidak beruntung, karena nama-nama besar lainnya yang karya-karyanya bisa dinikmati di AJBS Gallery ini masing-masing adalah Nasirun, Putu Sutawijaya, Budi Ubrux, Afdal, Joni Ramlan, Erica Hestu Wahyuni, Iwan Yusuf, Albert Wenas, Lini Natalini, Yuswantoro Adi, Joko Gundul Sulistiyono, Bambang Herras, Erianto, Samuel  Indratna, Sigit Santosa, Beni Dewo, Indra Dodi, Pandu Pribadi, Klowor Waldiyono, Erwin Duta Rustaman, Ismanto Wahyudi, Akmal Jaya, dan  Albert Wenas.

Karya Joni Ramlan berjudul Rumahku Surgaku pada pameran lukisan bersama Minna Minkum Nusantara  di AJBS Gallery Surabaya FotoMinna Minkum Nusantara
Karya Joni Ramlan berjudul Rumahku Surgaku, pada pameran lukisan bersama Minna Minkum Nusantara, di AJBS Gallery, Surabaya. (Foto:Minna Minkum Nusantara))

Leo Kristi

Karya-karya 21 perupa papan atas ini, sepantasnya memang dibawa keliling ke seluruh Nusantara. Agar bisa diapresiasi oleh lebih banyak  masyarakat secara merata. Agar visi dan misi yang dibawa Minna Minkum Nusantara  akan tepat pada sasaran.

Saat ini, dunia politik sudah mengeringkan lahan yang sebenarnya luas dan subur ini. Politik membawa kemarau. Kekeringan sudah merata. Karya-karya seni yang bermutu amat diperlukan. Minna Minkum Nusantara sebagai bagian dari  air hujan yang dibutuhkan.  

Minna, dalam bahasa Arab, artinya dari kami. Sedang minkum artinya dari kalian. Minna Minkum Nusantara, dari kami dan dari kalian untuk Nusantara, sengaja  memungut  judul lagu Konser Rakyat Leo Kristi, Minna Minkum Nusantara

Leo Kristi yang aslinya bernama Leo Imam Sukarno, Sang Troubrador,  tak pernah berhenti berkelana ke seluruh penjuru nusantara, untuk bernyanyi sekaligus mencipta lagu.

Minna Minkum Nusantara diciptakan Leo tahun 1983, ketika penduduk Indonesia masih 150 juta. Salam persahabatan seratus lima puluh juta pada dunia. Tabuh- tabuhlah di segenap penjuru gong-gong rakyat persada. Tanah basah hujan pertama. Kususuri bedug subuh jalan setapak. Jadikan Persemaian Keadilan. Kuncup-kuncup putra bangsa besar.

Disekapatinya judul  lagu Minna Minkum Nusantara ini oleh para maestro sebagai tajuk pameran bersama, tentu merupakan penghormatan tersendiri untuk musisi asal Surabaya  yang meninggal  21 Mei 2017 itu. Lebih dari itu, semangat berkelana Leo terwakili oleh dikelilingkannya  pameran karya 21 perupa ini ke seluruh Nusantara. Minna Minkum Nusantara.

 

Pameran lukisan bersama Minna Minkum Nusantara di AJBS Gallery Surabaya Fotonis
Pameran lukisan bersama Minna Minkum Nusantara di AJBS Gallery, Surabaya. (Foto:nis)

E-Catalog

Menarik, pameran bersama yang diselenggarakan Talenta Organizer ini tidak membagikan katalog versi cetak, melainkan e-catalog. Pengunjung tinggal memindai barcode yang ditempel di banyak sudut, kemudian disimpan ke hape masing-masing.

Penggunaan e-catalog  untuk pameran lukisan begini, di Surabaya mungkin saja bukan yang pertama kali. Tetapi temasuk hal yang sama sekali baru. Hasilnya jauh lebih baik, dan tentu saja lebih efisien. Karena komponen anggaran untuk menyetak katalog ini, dalam sebuah pameran angkanya termasuk tinggi. Makin dituntut untuk menerbitkan katalog berkwalitas, berarti makin tinggi pula komponen anggarannya karena harus menggunakan kertas yang juga berkwalitas.

Dengan e-catalog, pengunjungpun dapat memperoleh foto-foto dari karya yang dipamerkan dengan kwalitas yang prima dalam format PDF. Tapi memang, e-catalog  sudah waktunya.

Komposisi Benda bertabur karya Erianto dalam pameran Minna Minkum Nusantara  di AJBS Gallery FotoMinna Minkum Nusantara
Komposisi Benda (bertabur), karya Erianto dalam pameran Minna Minkum Nusantara, di AJBS Gallery. (Foto:Minna Minkum Nusantara))

AJBS Gallery

Pameran Minna Minkum Nusantara ini jadi  lebih elegan karena dipamerkan di AJBS Gallery. Gedung yang sekarang dijadikan galeri ini dibangun tahun 1930, bersama-sama dengan beberapa bangunan lainnya yang tetap berdiri di areal bekas pabrik bir milik pemerintah kolonial Belanda.  Arsiteknya didatangkan khusus dari Belanda, yaitu Johan Frederik Lodewijk Blankenberg. Blankenberg meninggal di Oegstgeest pada tahun 1958.

Dinding galeri terasa luas dan lapang. Lukisan berukuran tiga meterpun, sebagaimana beberapa karya yang dipamerkan, tidak terganggu oleh kolom-kolom dinding. AJBS Gallery, sepertinya di Surabaya tidak ada yang menyaingi. Apalagi, jumlah galeri untuk lukisan di Surabaya jumlahnya tak sampai hitungan jari sebelah tangan. Bandingkan dengan jumlah restoran yang mencapai ratusan, atau bahkan ribuan.

Pemilihan AJBS Gallery sebagai tempat untuk memamerkan karya-karya para maestro ini, rasanya sangat pas. Karya-karya berkwalitas tampil di galeri yang cukup luas. Pengunjung dapat menikmati dengan begitu bebasnya, tanpa terganggu oleh suasana.

Sekali lagi, ini pameran lukisan berkelas. Surabaya beruntung disinggahi  Minna Minkum Nusantara ini, sebelum karya-karya ini  berkelana  lebih jauh lagi. Berkeliling Nusantara tanpa berhenti. Meneruskan semangat Leo Kristi. (m.anis)

 

Karya Putu Sutawijaya berjudul Tidak Merasa Sendiri 1 di AJBS Gallery FotoMinna Minkum Nusantara
Karya Putu Sutawijaya berjudul Tidak Merasa Sendiri 1, di AJBS Gallery. (Foto:Minna Minkum Nusantara))
Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini