Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo (kanan) berbincang dengan dua tersangka yang merupakan pasangan suami istri sejenis yang ditetapkan sebagai tersangka pemalsu dokumen persyaratan nikah (Foto: Antara)
Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo (kanan) berbincang dengan dua tersangka yang merupakan pasangan suami istri sejenis yang ditetapkan sebagai tersangka pemalsu dokumen persyaratan nikah (Foto: Antara)

Palsukan Identitas, Pasangan Sejenis di Jember Dituntut 1 Tahun Penjara

Ngopibareng.id Jawa Timur 10 March 2018 09:49 WIB
Terdakwa pasangan sejenis MF (21) dan AA (23) dituntut satu tahun penjara oleh jaksa penuntut umum dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri Jember, Jawa Timur, Jumat sore.

"Terdakwa dituntut 1 tahun penjara masing-masing karena terbukti memberikan keterangan tidak benar kepada aparat, dari pemerintahan desa hingga ke Kantor Urusan Agama (KUA)," kata jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Jember Nur Khoyin di Pengadilan Negeri Jember.

Menurutnya kedua terdakwa terbukti memberikan keterangan palsu, sehingga terbit surat nikah yang dinilai asli tapi palsu dan penetapan tuntutan penjara satu tahun itu, berdasarkan hasil pemeriksaan dan sejumlah alat bukti yang ada.

"Karena untuk mendapatkan akta nikah itu, terdakwa dengan sengaja memalsukan data identitas masing-masing, sehingga jelas melanggar pasal 263 KUHP ayat 1 dan dengan tuntutan hukuman 1 tahun penjara," katanya.

Sidang pembatalan akta nikah juga dilalui oleh pasangan sejenis tersebut karena pihak KUA Ajung sudah menerbitkan akta nikah akibat tidak tahu kalau AA dan MF adalah laki-laki atau sejenis.

Sebelumnya Polres Jember menetapkan pasangan sesama jenis yakni MF (21) dan AA (23) sebagai tersangka pemberi keterangan palsu untuk mengurus dokumen berupa akta pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ajung.

MF merupakan warga Dusun Plalangan, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, sedangkan yang berperan sebagai perempuan adalah Ayu Puji Astutik atau AA warga Dusun Krasak, Desa Panca Karya, Kecamatan Ajung.

Ayu Puji Astuti menggunakan hijab dan bercadar saat mengurus sejumlah syarat pernikahan dan melangsungkan pernikahannya di Kantor KUA Kecamatan Ajung, sehingga petugas KUA tidak mengetahui kalau yang bersangkutan adalah laki-laki.

Keduanya dijerat dengan pasal 264 ayat (1) huruf 1e dan atau pasal 266 ayat (1) (2) KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 7 tahun penjara.(ant) 

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

26 Oct 2020 11:16 WIB

Tambah Perjalananan untuk Long Weekend, KAI Terapkan Protokol 3M

Rek, Ojok Angel Tuturane

PT KAI menambah perjalanan kereta api dengan protokol 3M.

25 Oct 2020 10:05 WIB

Gempa Lumajang Dirasakan Hingga Jember

Reportase

Getaran gempa dirasakan II MMI.

21 Oct 2020 16:32 WIB

Karena Gay, Brigjen Polisi EP Dijatuhi Sanksi

Hukum

Dinyatakan gay, Brigjen Polisi EP sudah diberi sanksi setahun lalu.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...