Pakar Toksinologi, Tri Maharani saat ditemui di Gedung Graha Medika, Universitas Brawijaya, Malang (Foto: Theo/ngopibareng.id)

UB Jadi Pilot Project Riset Antibisa di Indonesia

Pojok Unibraw 13 January 2020 16:40 WIB

Pakar Toksinologi, Tri Maharani, akan membuat program pengembangan anti bisa hewan dan tumbuhan beracun. Program tersebut dicanangkan pasca melihat fenomena maraknya ular yang memasuki pemukiman warga pada 2019 lalu.

"Tanggal 30 Desember 2019 kemarin saya dipanggil Kementrian Kesehatan bersama Direktur Biofarma juga. Tahun depan targetnya ada satu antibisa. Nanti saya riset, dan biofarma yang memproduksi," ujarnya pada Minggu 12 Januari 2020 di Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya (UB), Malang.

Dalam program risetnya tersebut, Tri Maharani berencana untuk menggandeng UB dan Universitas Padjadjaran Bandung untuk meriset antibisa ular.

"UB ini bakal jadi pionirnya dan ini universitas pertama atau pilot projectnya yang sangat interest dengan penelitian tentang antibisa ular," ujar perempuan yang juga menjadi penasihat WHO di bidang antibisa ular tersebut.

Tak hanya soal riset, Tri Maharani juga meminta UB memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya antibisa ular melalui cara-cara kreatif salah satunya melalui film.

"Dalam edukasi harus ada integrasi keilmuwan. Nggak bisa cuma soal medisnya saja. UB saya harap bisa mengubah mindset masyarakat mengenai penanganan ular yang semula magis menjadi medis," tuturnya.

Sementara itu dengan Unpad sendiri, Tri Maharani mengatakan akan lebih pada pengembangan snake farm.

"Untuk meriset ular harus ada peternakan ular untuk mempelajari antibisanya," terangnya.

Untuk meriset serum antibisa ular, Tri Maharani menuturkan butuh waktu sekitar 5 sampai 10 tahun untuk menciptakan anti-venom bagi 77 jenis ular berbisa di Indonesia.

"Thailand yang 30 juta penduduk aja bisa, masa kita yang 278 juta penduduk nggak bisa," tutur perempuan alumnus Fakultas Kedokteran (FK) UB.

Tri Maharani memang mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan serum antibisa ular. Sejak 2014 ia menyisihkan 90 persen gajinya untuk membeli antivenom dari Thailand.

"Karena kita ini hanya memiliki tiga serum antibisa saja yaitu ular kobra, ular tanah dan weling," tutupnya.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul

Editor : Rizal A

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Feb 2020 17:00 WIB

Kick Andy Pamit

Hiburan

Talkshow Kick Andy tayang terakhir 28 Februari 2020.

28 Feb 2020 16:37 WIB

Khofifah Temui Warga Tumpang Pitu Setelah Mogok Makan Seminggu

Jawa Timur

Khofifah akhirnya menemui warga penolak tambang emas.

28 Feb 2020 16:30 WIB

Profesor Unair Ungkap Rahasia Mengapa Indonesia Bebas Corona

Kesehatan

Tiga hal yang membuat Indonesia aman dari corona.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.