Pak Prabowo, Ini Dia Menhan yang Bisa Jadi Teladan

30 Oct 2019 16:57 Ajar Edi
Ujar Ajar

Penunjukan Pak Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan (Menhan) terus menjadi cerita. Mulai pujian, kritik, hingga harapan. Masih ada juga urusan restu Pak Amien Rais, hingga persetujuan permohonan visa ke Amerika Serikat.

Yang pasti, perubahan adalah kepastian. Pak Amien Rais mungkin mulai melihat ada harapan atas kiprah Pak Prabowo. Kalau Amerika Serikat, jelas tak akan menolak Pak Prabowo lagi.

Pasalnya, Ketum Gerindra ini sudah jadi pejabat negara, apalagi Menteri Pertahanan. Walau sempat dulu, tahun 2000, saat ingin menghadiri wisuda putra semata wayangnya, permohonan visanya ditolak.

Bahkan pada 2012, permohonan visanya kembali membentur tembok. Sebenarnya, hal itu tak hanya dialami Pak Prabowo. Hal serupa juga terjadi kepada Narendra Modi, politisi dari India.

Pada tahun 2005, permohonan visanya ditolak. Kabar di media, dia dianggap menutup mata atas kerusuhan anti-Muslim di wilayahnya. Walau itu terjadi 3 tahun sebelumnya.
Namun, saat Pak Modi ini terpilih jadi Perdana Menteri (PM) India, cerita berbalik 360 derajat. Tentu saja, dia mendapat telepon ucapan selamat dari Presiden Barrack Obama. Lantas, diundang ngopi dan ngeteh di White House.

Biasanya, Kedubes AS akan mengeluarkan visa tipe A bagi pejabat pemerintahan. Termasuk untuk para diplomat. Nah, karena kepala pemerintahan, Pak Modi dapat visa tipe A-1.

Berkaca dari itu, selama lima tahun nanti menjabat, Pak Prabowo akan aman saja berpergian ke Amerika. Mendapatkan visa tipe A, karena pakai paspor biru. Entah, kalau beliau direshuffle atau tidak menjabat lagi. Bisa jadi, perlakuannya akan sama seperti sebelum menjabat.

Permohonannya mental terus, karena ditolak. Tanpa disebutkan alasannya karena apa. Jadi, agar aman sentausa ke Amerika, ya rumus sederhananya, harus jadi pejabat saja.

Mari kembali ke urusan Pak Prabowo yang bergabung ke pemerintah. Marilah, kita berbaik sangka saja. Akan maksud dan tujuannya. Kenapa Pak Prabowo sangat bersemangat ingin membantu Presiden Joko Widodo, dengan hati tulus.

Simak saja, pernyataanya saat acara Konferensi Nasional dan Temu Kader Gerinda 2019 di Hambalang beberapa waktu. Mantan Pangkonstrad ini mencontohkan rekonsiliasi di Amerika, China, juga Jepang. Para seteru berangkulan jadi sekutu.

Jadi, bersama Pak Jokowi, dia turut membangun bangsa. Dengan kerja nyata di birokrasi. Mengelola APBN secara tepat, dengan politik anggaran yang sesuai kebutuhan tentara.

Menjaga kedaulatan dan kesatuan negara. Ya, setidaknya dia bisa sedikit mewujudkan kampanyenya dulu. Menjadikan Indonesia kembali menjadi Macan Asia, minimal diurusan pertahanan dan keamanan.

Nah, kalau begitu, ada satu saran untuk Pak Prabowo. Belajarlah kepada ahlinya. Tapi, hanya ada satu Menhan RI/ Panglima ABRI yang bisa dijadikan teladan dan rujukan.

Namanya Jenderal M. Jusuf Amir. Cerita tentang Pak Jusuf ini melegenda. Sampai akhir hayatnya, baunya harum semerbak.

Saya banyak mendapat cerita tentang Pak Jusuf ini dari Pak Atmadji Sumarkidjo. Dia mantan wartawan yang nempel kemana saja saat Pak Jusuf bertugas. Pak Atmadji pun menulis buku biografi yang bagus sekali tentang kiprah Pak Jusuf.

Saat saya menerima buku biografi itu, Pak Atmadji bercerita panjang lebar tentang Pak Jusuf. “Beliau sangat lurus. Kesejahteraan prajurit dan keluarganya jadi perhatian utama,” ungkap Pak Atmadji.

Pak Jusuf ini, lahir di Bone, Sulsel pada 23 Juni 1928. Namanya terkenal saat bersama dua petinggi angkatan darat menyambangi Presiden Sukarno di Istana Bogor. Itu lho, urusan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang fenomenal itu.

Perbincangan tentang Supersemar, akan tetap ada sampai negara ini sirna. Baik itu tudingan keterlibatan CIA, kudeta merangkak Pak Harto, atau pemusnahan warga yang diduga simpatisan PKI.

Yang juga menarik dari Pak Jusuf, dia egaliter. Tak mabuk kuasa. Gelar bangsawannya ditanggalkan pada 1957.

Pak Jusuf memulai kiprahnya dengan melakukan modernisasi alutsista ABRI. Yang pertama, mendatangkan beberapa pesawat C-130 Hercules. Untuk mengembalikan kebanggaan para prajurit AU, selepas stigma para petingginya yang disusupi PKI.

Pesawat itu melengkapi skuadron angkut berat AU. Dua di antaranya merupakan Hercules tipe C-130 H(S). Di eranya, ini yang termasuk paling modern, dan mendarat di Pangkalan Halim pada 1981.

Keduanya ditempatkan di bawah Skadron Udara 17 VVIP. Hercules A-1314 merupakan pesawat komando  Pak Jusuf. Biasa diterbangkan untuk mengunjungi pelosok Indonesia.

Pesawat itupula, yang juga dipakai Jenderal LB Moerdani, saat mendengar kabar pembajakan pesawat Garuda di Bangkok. Tentu atas perintah Pak Jusuf. Saat itu para petinggi ABRI sedang rapat pimpinan di pinggiran Indonesia. Agar Pak Beny bisa bergegas ke Jakarta.

Pak Jusuf lebih gampang mendapatkan anggaran untuk beli pesawat, karena dekat dengan Kepala Bappenas saat itu. Pesawat komando itu muncul, bermula dari perintah daripada Presiden Suharto. “Tugas saya, mewujudkan kemanunggalan ABRI dengan rakyat,” kata Pak Atmadji menirukan Pak Jusuf.

Karena orang Bone, Pak Jusuf tak begitu paham istilah bahasa Jawa. Jadi dia menerjemahkannya dengan makin mendekatkan diri kepada tentara di ujung terdepan. Rutin meninjau barak prajurit ke pelosok tanah air.

Pengadaan barang untuk kesejahteraan tentara dilakukan dengan jujur. Pakaian dinasnya, sama dengan jatah kain yang diberikan ke tentara di lapangan. Pernah, saat sidak ke lapangan, dia menemukan perwira yang berseragam kain bagus. Langsung ditegur. Dia diminta menggunakan kain jatah pemberian negara.

Saat melakuan kunjungan itu, Pak Jusuf selalu membawa banyak wartawan. Pemberitaan kunjungan itu, membuat popularitas Pak Jusuf melejit. Disenangi tentara dan publik.

Jadi teori blusukan Pak Jokowi, sudah jauh-jauh hari dilakoni Pak Jusuf. Untuk Pak Prabowo, siapakan fisik saja. Selanjutnya, pilih hercules VIP.

Lantas berterbanganlah ke penjuru negeri. Raih simpati tentara dan publik seluas-luasnya. Tiru saja ilmu manunggal Pak Jusuf ini.

Tapi, harap jaga sikap. Agar apa yang dialami Pak Jusuf, semoga tak terulang lagi. Ceritanya begini. Bagi sebagian petinggi ABRI yang tak suka Pak Jusuf, rumor bahwa dia ingin jadi presiden dihembuskan.

Bahkan kabar itu masuk juga ke telingga Pak Harto. Namun, sebagai orang Bone yang paham situasi, Pak Jusuf paham. Tak mungkin orang luar Jawa jadi presiden, apalagi dengan kondisi menguatnya Pak Harto bersama gerbong Orde Barunya.

Dia berkeyakinan, apa yang dikerjakannya juga atas perintah Pak Harto. Pak Jusuf mencoba mengklarikasi hal itu. Dia bertemu dengan Pak Harto di Bina Graha, bersama beberapa petinggi tentara.

Namun, saat pertemuan ini, dia bertindak lebih keras. Apalagi ada pernyataan dari salah satu petinggi, akan hasratnya jadi presiden. Mungkin merasa harga dirinya diremehkan.

"Tidak benar hal itu,” jawabnya sambil mengebrak meja. Anda bisa bayangkan, Pak Harto yang orang Jawa itu diperlakukan seperti itu. Dalam buku itu, Pak Atmadji mengambarkan, Pak Harto saat itu tidak marah.

Malah menenangkan semuanya. “Ya sudah,” kata Pak Harto. Persamuhan itu akhirnya berakhir tanpa keputusan. Namun, ya orang Jawa, tentu ada tindakan Pak Harto.

Selepas kejadian itu, hubungan keduanya merenggang.  Seusai menjabat Menhan/ Panglima ABRI, Pak Jusuf ditugaskan jadi Ketua BPK. Diparkir, mungkin khawatir terjadi matahari kembar.

Saat menikmati pensiun, Pak Jusuf berkhidmat dalam urusan agama. Bila melawat ke Makasar, mampirlah ke Masjid Al Markaz Al Islami. Beliau yang membidani kelahiran masjid ini. Karena terinspirasi dari kemegahan Masjid Nabawi di Madinah, saat beliau menunaikan ibadah umrah.

Bila melihat gerak waktu, sepertinya ada irisan perjalanan karir Pak Jusuf dan Pak Prabowo. Lantas, apakah ada hubungan keduanya pada masa itu? Pak Atmadji hanya bertutur secara tersamar.

Namun, di buku itu ada sebuah cerita menarik. Suatu waktu, Pak Jusuf menerima sebuah surat kaleng. Tak jelas dari siapa.

Pengirimnya mengaku seorang perwira muda. Memintanya bertemu seorang diri. Tanpa ajudan dan sopir.

Di surat kaleng itu, disebutkan, akan ada perwira tinggi yang akan mengkudeta Pak Jusuf. Ingin mengantikan posisinya. Sang perwira muda itu bersama teman-temannya siap mendukung Pak Jusuf.

Tak lupa, memintanya agar membakar surat kaleng itu bila selesai dibaca. Pak Jusuf sempat bertemu perwira muda itu. Namun, surat itu tak dibakarnya. Bahkan dimasukkan ke buku itu sebagai dokumentasi.

Jadi, siapa perwira muda itu? Pak Atmadji tersenyum saat saya sodori pertanyaan itu. Dia menyebut sebuah nama yang terkenal. Karena gerak bibirnya tanpa suara, agak samar-samar saya menangkapnya.

Mari kembali ke urusan Pak Prabowo lagi. Masih ada satu lagi panglima militer lokal yang bisa jadi rujukan. Di jaman saat kerajaan-kerajaan berjaya di nusantara.

Cuma ini, saran nakal saja. Karena lebih ke urusan perebutan kekuasaan. Itupun kalau Pak Prabowo masih berminat ikut kontestasi Pilpres 2024.

Namanya Ranggalawe. Panglima perangnya Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Siasatnya yang sangat terkenal adalah menumpang kedatangan Kerajaan Mongol untuk menghancurkan Kerajaan Kadiri.

Jamak, orang menyebutnya dengan Siasat Raden Wijaya. Walau sebenarnya, siasat ini dirancang oleh Ranggalawe dengan ayahnya, Aria Wiraraja. Aria Wiraraja, juga dikenal dengan sebutan Banyak Wide.

Dia menjabat sebagai Bupati dari Sumenep. Raden Wijaya, sempat menumpang ke Sumenep selama pelarian karena kalah perang dengan Bupati Gelang-gelang, Jayakatwang.

Di sini pulalah, strategi meruntuhkan Kerajaan Kadiri dibabar dengan tuntas. Dimulai dengan bergabungnya Raden Wijaya menjadi sekutu Raja Jayakatwang.

Saat itu, Jayakatwang sudah berhasil meruntuhkan Kerajaan Singasari. Mengantinya dengan yang baru. Sesuai semangat nenek moyangnya. Dia menamakannya, Kerajaan Kadiri.

Lantas, cerita penaklukan menjadi menarik saat kedatangan Pasukan Mongol. Mereka mencari penguasa Kerajaan Singasari yang menyiksa duta besarnya. Namun, Ronggolawe dan Aria Wiraraja yang seharusnya menghela mereka pergi, bermain api.

Menjadikan mereka sebagai sekutu. Saling berbagi dukungan saat menyerang Kerajaan Kadiri. Misi itu berhasil. Kemenangan nan manis berhasil digenggam.

Namun, saat pasukan terbekap kemenangan dan lengah, pasukan Ronggolawe yang ganti menyerang Pasukan Mongol. Mereka porak poranda. Jenderal besarnya terbunuh. Membuat mereka melaut terbirit-birit kembali ke kampung halamannya.

Ah, pasti Pak Prabowo sudah hapal detail siasat ini. Tapi dari beberapa literatur, kesuksesan strategi ini karena kerja intelijen yang kuat. Informasi yang diperoleh lengkap. Jaringan bawah tanah yang berkerja dengan sel terputus membuat kerja besar itu tak terendus Jayakatwang.

Nah, sepertinya kalau Pak Prabowo mau maju perang Pilpres lagi, tambahi para jagoan intelijennya. Cari yang loyal. Tak sekadar asal bikin Pak Prabowo senang. Beberapa kali kontestasi Pilpres, jagoan intelijen Pak Prabowo kalah kelas dibanding lawan.

Pak Jokowi juga tak akan maju lagi jadi presiden. Setidaknya, tak akan ada gangguan darinya. Bisa jadi, ini seperti saat yang tepat Pak Jokowi membalas hutang budi. Seperti saat Pak Prabowo menyokongnya jadi Gubernur DKI Jakarta.

Masih ada waktu empat tahun lagi untuk bekerja di bawah tanah. Posisi Pak Prabowo juga sudah mirip kondisi Raden Wijaya. Punya akses birokrasi, akses ke senjata, dan akses informasi.

Untuk strategi Pilpres 2024 bagi Pak Prabowo, sederhana saja. Gabungkan saja gaya manunggal Pak Jusuf dan strategi Raden Wijaya. Jadi, Pak Prabowo selamat bekerja. Semoga sukses menjalankan strategi ini.

Ajar Edi, Kolomnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini