Grafis by: Ngopibareng.id

Pak Jokowi, Ini lho Kuliner Bogor yang Jelas Ngangeni

Ajar Edi 25 November 2019 09:47 WIB

Kanal media sosial Pak Jokowi, memang isinya beragam. Selain aktifitas sehari-hari, juga ada hal lain yang ngangeni. Salah satunya kuliner klangenan belio.

Dua hari lalu, kanal media sosialnya muncul liputan kuliner di Bogor. Tak jauh-jauh, tentu saja, daftar restoran dan makanan yang sudah dinikmatinya selama ini.

Bogor, dengan kesejukan udaranya, telah mencuri hati Pak Jokowi. Walau harus menempuh satu jam perjalanan ke Jakarta, itu tak jadi perkara. Beragam kelezatan makanannya juga sudah menetap di hatinya.

Karena sudah lama tinggal di Bogor, saya sudah menikmati semua restoran yang Pak Jokowi suka. Dari Martabak Kiki, Sate Tegal Laka-laka, atau restoran kluwih.

Beneran enak semua? Dengan berat hati, saya harus mengganguk. Walau hanya untuk Restoran Kluwih, masih banyak tempat yang rasanya lebih linuwih.

Ya maklum saja, karena level presiden, tentu standar kebersihan dan kesehatannya harus utama. Karena yang lebih enak, biasanya ini, kebanyakan tempatnya kaki lima.

Secara genealogis, Pak Jokowi sangat menyukai olahan kambing. Lantas ada ayam goreng. Berikutnya pasti soto. Itu triumvirate masakaan kegemarannya.

Kalau tak percaya, googling saja. Warung kegemarannya di Solo, tak jauh dari urusan itu. Sesekali juga makan mie godog.

Nah, Pak Jokowi di Bogor, banyak olahan yang paripurna rasanya. Pasti, tak akan bikin kecewa. Saya akan memberikan beberapa rekomendasi untuk dicoba.

Kita mulai dari olahan kambing ya. Salah satu jagoan saya, olahan sate Pak Rebing. Rumahnya ada di dalam gang sempit di daerah Empang, Bogor.

Itu kawasan perkampungan Arab. Sangat dekat dari Istana Bogor. Sekira satu kilo saja.

Almarhum Pak Rebing ini orang nan istimewa. Pasalnya, walau tinggal di gang sempit, orang mau mencarinya. Rumahnya, merangkap warung. Jangan bayangkan kondisinya istimewa.

Ya, mirip-mirip kalau kita bertamu, dan disuguhi tuan rumah. Tak ada plang penunjuk arah. Tapi Paspmpres pasti gampang menemukannya. Buat yang baru pertama ke sini, jangan sungkan bertanya ke orang.

Semuanya akan menunjukkan warung legendaris ini. Lokasinya 15 meter di belakang masjid. Gangnya hanya bisa dilewati motor.

Biasanya pembeli yang naik mobil akan memarkirnya di depan masjid. Lantas mereka harus berjalan kaki. Rumahnya bercat oranye.

Di rumah ini, juga ndak ada papan nama warung. Baru saat melangkah ke dalam, terlihat tiga set meja makan. Atau bisa memilih duduk di teras.

Mereka memasak dan membakar satenya pun di samping rumah. Satenya dibakar medium saja. Dagingnya lembut. Rasanya manis, dan teksturnya masih terasa. Enak ini.

Gule kambingnya juga luar biasa. Bikin ketagihan. Nilai saya, enak buanget. Dagingnya lembut, kuahnya kaya.

Karena bau-bau hadramaut, rempahnya kuat. Jangan salah, namun kuahnya ringan rasanya. Pinter yang masaknya.

Tiap hari buka dari jam 11 sampai jam 4 sore. Rata-rata, 400 sampai 500 tusuk habis setiap harinya. Sekarang, warung ini dinahkodai istri dan anaknya.

Banyak pesohor yang sering makan di sini. Termasuk almarhum Pak Bondan Winarno, maestro liputan kuliner itu. Tapi tak ada foto-foto mereka dipampang.

Karena tak ada tampilan warung, makan di sini serasa lebih intim. Ngomongin olahan khas Hadramaut lainnya, ada satu lagi restoran yang Pak Jokowi layak mencobanya.

Yakni, olahan nasi kebuli. Nama warungnya, Nasi Kebuli Bogor. Lokasinya persis di sebelah Restoran Kiki. Itu lho, yang Pak Jokowi suka martabaknya itu.

Bahkan dari pintu gerbang utama Istana Bogor, warung ini hanya sepelemparan batu. Dekat banget. Pak Jokowi bisa jalan kaki ke sini.

Saya bisa jamin, ini olahannya 100 persen enak banget. Anak perempuan saya, paling doyan makan di sini. Sakin enaknya, dia lebih memilih makan nasi kebulinya saja. Tanpa lauk apa pun.

Kalau dia pesan untuk dibungkus, nasi itu selalu dibagi jadi dua bagian. Setengah porsi untuk sekarang, sisanya untuk makan berikutnya. Dengan ketentuan, tak ada orang lain yang boleh menyentuhnya.

Itu baru nasinya. Kalau olahan daging kambingnya? Alamak, lumer digigitan pertama.

Mak prul gitu lho Pak Jokowi. Beneran ini. Dagingnya bisa lepas sendiri dari tulang.

Daging kambingnya terlihat kering. Tapi saat masuk di mulut, mak pyarrr. Itu bumbu-bumbunya, saling beratem di lidah.

Bikin mulut terkejut. Kalau makan nasi kebuli ini, harap maklum, satu porsi nasi terlihat banyak. Tapi, seiring suapan, terasa kurang. Pasti semua akan tandas.

Rahasia nasi dan olahan kambingnya datang dari ini bumbunya. Tentu saja yang istimewa. “Umi membeli bumbu-bumbu yang langsung diimpor dari Hadramaut,” ungkap Wafi Abdad, sang pemilik.

Sekarang giliran warung sunda. Pak Jokowi, kalau masakan sunda yang otentik, mampirlah ke Warung Bu Hajjah Amat. Letaknya, di parkiran Kuntum Nursery Tajur. Ya, sekira delapan kilo dari Istana Bogor.

Warung ini sudah melayani pembeli sejak tahun 1980an. Dulu, punyanya pasangan haji dan hajjah Amat. Namun kini sudah berpindah tangan. Pemiliknya sekarang Kokoh Pepek.

Jadi walau bau-bau peranakan, Kokoh tetap menjaga orisinalitas. “Tukang masaknya masih yang lama, sejak warung ini berdiri,” ungkapnya. Ayam goreng dan paru goreng jadi andalan utama.

Yang juga penggugah selera adalah macam sayur khas sundanya. Dari gulai jengkol, oncom, hingga sayur rebung. Masih ada juga sayur buntil, hingga ikan asin beragam jenis.

Lalu, khusus ayam goreng, juaranya cuma satu: Ayam Doyong. Lokasinya juga tidak jauh dari Istana Bogor kok. Arah ke Barat daya, sekira empat kilo meter.

Pemilik warung ini suka pamer. Jadi, dia berani memajang gunungan potongan ayam yang siap digoreng. Pakai baskom gede. Siap melayani syahwat lapar para pembeli.

Seolah baskom itu mau bilang, ayo makan sebanyak yang kau mampu. Warna ayam yang sudah diungkepnya, cantik: kuning adem.

Menjelang turun waktu santap siang, dipastikan warung di pertigaan Gang Aut, Bondongan Bogor ini, penuh. Dijejali konsumen. Mereka rela berdiri menunggu bangku kosong.

Tukang parkir pun harus turut berbasah peluh. Sibuk mengatur mobil. Maklum saja, di pertigaan ini, jalan sudah sempit tapi lalu lintasnya padat.

Dihari libur, 400 ekor sampai 500 ekor tandas. Satu ayam dibagi empat dan dibandrol Rp 12 ribu per potong. Kalau hari biasa, minimal 250 ekor ayam disiapkan.

Ayam gorengnya ditaburi bumbu srundeng. Rasanya enak, manis, lembut, serta gurih. Komplet. Ukuran ayamnya "kemanggang". Jadi besaran satu porsinya pas.

Siapa yang bisa tahan, saat ayam goreng panas disajikan bersama sayur asem, tempe tahu goreng, oncom, dan lalapan. Biasanya saya habis lebih dari dua porsi ayam.

Sambalnya khas sunda. Tak begitu pedas. Bisa ambil sebanyak mau. Kalau mau warna lain, bisa minta tambah semur jengkol. Lalu ditaburi kan asin, juga perkedel.

Bisa juga pesan gado-gado di warung sebelahnya sebagai pelengkap. Oh ya, di depan Warung Doyong 1 ini ada Warung Doyong 2. "Masih saudara, keturunan tionghua. Tapi sudah beda manajemen," bisik sang pelayan.

Sekarang giliran mie godog Jawa. Saya tahu, Pak Jokowi punya langganan Pak Latif. Pedagang asal Pemalang, Jawa Tengah yang berjualan mie godog dan nasi goreng di depan RS Salak.

“Tiap malam, anggota Paspamres pada makan di sini,” ungkap Pak Latif. Menurut Pak Latif, Pak Jokowi tidak suka pedas.

Saya punya jagoan untuk urusan mie godog di Bogor. Jualannya pakai gerobak, cuma mangkal di perempatan Jambu Dua Bogor. Namanya Mas Ajie.

Kalau banyak orang jualan mie jawa malam hari, Mas Ajie ini memilih buka lapak di pagi hari. “Kalau malam hari, saya pilih buka yang lain," jawabnya sambil bercanda.

Dia buka dagangan jam 07.00 pagi. Jadi kalau Pak Jokowi mau mencoba, mohon izin, kiranya Paspampresnya harus datang sebelum jam 09.00 pagi. Lewat sedikit saja, jawaban Mas Ajie sama.

"Sudah habis," katanya. Tiap hari, dagangannya pasti sudah habis di jam 09.00, kadang lewat sedikit. Jumlah porsi yang dijualnya tetap.

Jadi baik mie rebus dan mie gorengnya sudah habis diinden pembeli sejak pagi. Walau dia masih terus memasak pesanan sampai pukul 12.00 siang.

Ditelingganya selalu tertempel earphone. Karena mayoritas pesanan datang dari handphone. "Kadang SMS dan WA. Tapi karena sibuk masak, banyak yang tidak kebaca. Lebih aman pakai telepon," katanya lagi.

Kalau rasa? Ya mohon ngga usah ditanya. Karena semua rela menunggu. Mau inden. Pasti enak tentu saja.

Oh ya, belakangan lalu, Pak Jokowi sudah menganggakat staff khusus urusan ekonomi kreatif, pembangunan, dan lain-lain itu. Semoga mereka bisa bertugas dengan maksimal. Bisa memenuhi harapan Pak Jokowi.

Hmm, begini Pak Jokowi. Kalau masih butuh asisten untuk urusan kuliner dan icip-icip, kiranya sudilah menghubungi saya.

Ajar Edi, kolomnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi

Editor : Rizal A

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

05 Apr 2020 05:53 WIB

Ketika Luhut Tersandung Kritik MSD

Fathorrahman Fadli

Di manakah keselamatan rakyat?

04 Apr 2020 16:08 WIB

Corona Mengalir Sampai Jauh

Mardiyah Chamim

Seorang wartawan senior yang mencemaskan penyebaran virus Corona.

03 Apr 2020 11:37 WIB

Kalah dari Malaysia, 433 Desa Masih Belum Teraliri Listrik

Nasional

Rasio elektrifikasi Indonesia masih kalah dengan Malaysia.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.