Ilustrasi: Fa Vidi/Ngopibareng.id)

Ohooi..! Soal Lobster Betina, Abu Nawas Bikin Kaget Sang Khalifah

29 Nov 2020 13:24

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Selalu ada humor dalam ruang sosial yang sesak. Humor berfungsi untuk fentilasi psike agar suasana jadi segar dan menyegarkan. Ini contohnya:

Langit sudah gelap ketika Abu Nuwas tiba di rumahnya. Dia baru pulang dari Byzantium. Tapi, pagi-pagi sekali pujangga Baghdad itu sudah dijemput oleh pengawal istana untuk menghadap Khalifah Harun Al-Rasyid.

‘’Khalifah mengajak Anda makan pagi. Paduka mau bertanya tentang lobster dan lonte yang sedang dipergunjingkan penduduk Baghdad,’’ jelas sang pengwal saat Abu Nuwas bertanya mengapa pagi-pagi dia sudah dijemput ke istana.

Abu Nuwas tentu saja kaget. Ada apa dengan lobster? Ada apa dengan lonte?

Penyair terkenal ini benar-benar tidak tahu mengapa lobster dan lonte mengganggu pikiran Sang Khalifah. Maklum, dia baru pulang dari Byzantium untuk tugas negara. Karena itu dia belum beradaptasi dengan berita terbaru yang berkembang di Baghdad. Sepanjang jalan dia menggali informasi dari sang pengawal tapi dia juga tak tahu banyak tentang lobster dan lonte.

Di istana, Harun Al-Rasyid seperti tak sabar menanti kedatangan Abu Nuwas. Pujangga ini ibarat ‘’perpustakaan berjalan’’ buat Sang Khalifah. Makanya, khalifah tersenyum lebar ketika melihat Abu Nuwas muncul di gerbang istana.

Setelah sedikit membahas Byzntium, khalifah mulai bertanya tentang lonte dan lobster, dua makhluk Tuhan yang dalam sepekan ini meramaikan percakapan penduduk Baghdad.

‘’Wahai Abu Nuwas, apa yang Anda ketahui tentang lobster?’’ tanya khalifah semangat.

‘’Paduka yang mulia, saya baru pulang dari Byzantium. Terus terang saya tak paham, mengapa paduka tertarik membahas lobster?’’

‘’Orang-orang di luar istana pada ribut membahas lobster dalam sepekan ini. Saya mau tahu banyak tentang lobster,’’ jawab khalifah singkat.

‘’Oh, saya kira paduka ingin protes pada lobster. Tidak seperti perempuan Baghdad, lobster betina menganut poliandri. Lobster betina tidak setia pada suami karena mereka bisa main gila dengan banyak lobster jantan kapan saja,’’ jelas Abu Nuwas dengan cepat.

Wow, khalifah kaget mendengar penjelasan Abu Nuwas. ‘’Gila juga ya lobster betina,’’ gumamnya tanpa sadar.

‘’Ya benar. Lobster betina agak gila, wahai khalifah. Bahkan dalam urusan seks, lobster betina sangat agresif. Mereka duluan yang menggoda lobster jantan. Inilah beda perempuan di negeri kita dengan lobster betina,’’ jelas Abu Nuwas.

Khalifah makin tertarik mendengar penjelasan Abu Nuwas tentang lobster. Terutama, mengapa lobster betina lebih agresif dalam urusan seks. Kata Abu Nuwas, sebenarnya itu proses alami belaka. Karena lobster bersifat kanibal. Setiap lobster akan menerkam lobster lain untuk ditelan. Tapi, daripada ditelan lobster jantan, lobster betina mengeluarkan feromon yang membangkitkan birahi lobster jantan. Akibat feromon itulah setiap lobster jantan lebih memilih mengawini lobster betina ketimbang menelannya.

‘’Tapi baginda jangan risau. Tidak setiap kali berhubungan seks lobster-lobster betina itu hamil. Mereka butuh enam sampai sembilan bulan untuk menetaskan telur. Makanya lobster mahal karena lambat berkembang biak. Karena itu bayi lobster harus kita lindungi, tidak boleh kita jual ke negeri orang, agar lobster hanya hidup di laut kita. Dengan begitu harganya terus mahal. Jika ada yang menjual bayi-bayi lobster keluar negeri, mereka pengkhianat bangsa, paduka,’’ jelas Abu Nuwas.

Khalifah Harun Al-Rasyid mengangguk-anggukan kepala.

‘’Baik, saya paham. Sekarang, apa itu lonte?’’

‘’Hmmhhhh …, lonte sebenarnya mantra yang biasa dibaca oleh para tokoh politik di Babilonia, paduka. Mantra ini sangat dirahasiakan. Dengan membaca mantra ini, seorang politisi akan disegani banyak orang, kata-katanya jadi panutan, orasinya memukau. Tapi, mantra ini punya pantangan tak boleh dibaca keras-keras, apalagi di depan banyak orang!’’

‘’Apa akibatnya jika mantra ini dibaca keras-keras di depan banyak orang?’’ sergah khalifah, penasaran.

‘’Pemilik mantra itu jadi lobster, paduka!’’