Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (foto: dok ngopibareng.id)

NU-Muhammadiyah Pantas Dapat Nobel Perdamaian, Begini Alasannya

Nasional 22 June 2019 23:19 WIB

Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), pantas dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian, mendapat dukungan banyak pihak.

"Kedua organisasi tersebut memiliki pengaruh penting dalam memainkan proses mediasi dan menjembatani seluruh lapisan masyarakat dengan pemerintah, serta menjadi aktor penting dalam menciptakan dan menjaga perdamaian," kata Cendekiawan Muslim Indonesia, Azyumardi Azra.

"Islam Indonesia, tidak diragukan lagi, adalah Islam wasathiyyah atau moderat, yang pada umumnya, Islam yang inklusif dan akomodatif dan Islam yang paling tidak di-Arabisasi," kata Azra dalam keterangannya, Sabtu, 22 Juni 2019.

Sejarawan yang dikenal melalui karyanya yang fenomenal, The Origin of Islamic Reformism di Asia Tenggara: Jejaring 'Ulama' Melayu-Indonesia dan Timur Tengah di abad ke-17 dan ke-18 itu, menjelaskan mengapa NU dan Muhammadiyah penting bagi Indonesia.

Menurutnya, kedua organisasi Islam tersebut telah memperkuat kohesi sosial setelah transisi demokrasi yang terjadi pada 1998. Ketika itu Indonesia sedang disapu gelombang demokrasi, dan kedua organisasi ini memainkan peranan penting untuk menjaga persatuan bangsa.

"Bagi umat Islam arus utama, Pancasila sudah cukup islami. Semua pilar Pancasila pada dasarnya sesuai dengan ajaran fundamental Islam," ujar Cendekiawan Muslim Indonesia, Azyumardi Azra.
Cendekiawan Muslim Indonesia Azyumardi AzraCendekiawan Muslim Indonesia, Azyumardi Azra.

Dia mengatakan, Pancasila merupakan ideologi negara yang adaptif dengan konsep Islam jalan tengah yang dipromosikan NU dan Muhammadiyah.

"Bagi umat Islam arus utama, Pancasila sudah cukup islami. Semua pilar Pancasila pada dasarnya sesuai dengan ajaran fundamental Islam," ujarnya.

Dia menambahkan, umat Islam Indonesia sebagian besar selalu memilih jalan tengah. Terlepas dari kenyataan bahwa 87 persen populasi penduduk Indonesia adalah Muslim, partai-partai Islam tidak pernah memenangkan Pemilihan Umum.

"(Muslim Indonesia) lebih suka partai politik sekuler. Mereka percaya bahwa jalan tengah adalah yang terbaik untuk Indonesia," kata Azra yang merupakan mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Dia berpendapat, selama NU dan Muhammadiyah menegakkan jalan tengah dan Pancasila, kelompok-kelompok ekstremis tidak akan pernah menang. "NU dan Muhammadiyah terlalu besar untuk gagal," pungkasnya.

Dia menjelaskan, dukungan pencalonan Muhammadiyah-NU dalam penghargaan Nobel Perdamaian juga datang dari banyak pihak, khususnya dalam negeri. Mulai dari tokoh publik seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua DPR Bambang Soesatyo, Ketua MPR Zulkifli Hasan, dan beberapa tokoh penting lainnya.

Selain dukungan dari tokoh-tokoh penting lainnya, beberapa Lembaga Kementrian dan beberapa tokoh dari luar negeri juga turut mendukung upaya pencalonan tersebut. Salah satunya adalah mantan Presiden Timor Leste, Ramos Horta yang juga pernah mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian pada 1996. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

13 Aug 2020 22:24 WIB

2.694 ASN Jatim Terima Penghargaan Satyalancana Karya Satya

Jawa Timur

Para ASN diminta untuk bantu Pemprov Jatim sejahterahkan rakyat

13 Aug 2020 22:14 WIB

Empat Sosok Ini Terima Lencana Jer Basuki Mawa Bea

Jawa Timur

Mereka diberi atas dedikasi membantu penanganan Covid-19

13 Aug 2020 16:00 WIB

Ini Prestasi 2 Politikus Penerima Bintang Mahaputera Nararya

Politik

Tak banyak yang mengungkap prestasi dua tokoh penerima bintang jasa ini.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...