Ilustrasi KH Ahmad Dahlan-KH Hasyim Asy’ari. (Grafis: Fa Vidhi/Ngopibareng.id)
Ilustrasi KH Ahmad Dahlan-KH Hasyim Asy’ari. (Grafis: Fa Vidhi/Ngopibareng.id)
Bagian-3

NU Lahir setelah 3 Tahun Mbah Dahlan Wafat

Ngopibareng.id Tokoh 06 August 2020 16:45 WIB

Dari tulisan di bagian 2, kita bisa menarik kesimpulan bahwa perbedaan antara KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari terletak pada metode, pendekatan atau strategi yang  digunakan dalam menghadapi kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Belum menyangkut persoalan furu’iyah dalam ibadah seperti qunut, tahlilal, adzan jumat 1 kali atau 2 kali dan lain-lain. Belakangan juga masyhur dibicarakan bahwa kitab fiqih yang ditulis Mbah Dahlan, tidak beda dengan amaliyah di kalangan pesantren di Indonesia.

Abdul Munir Mulkhan, dalam buku, “Jejak Pembaharuan Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan,” menuturkan bahwa pembaharuan yang dilakukan Mbah Dahlan adalah fungsionalisasi ajaran Islam dengan sikap terbuka atas tradisi lokal, peradaban sekuler dan iptek yang dikembangkan bangsa Barat. Sikap Mbah Dahlan ini, orang pesantren atau NU mengistilahkan dengan kaidah, melestarikan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.

“KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai seorang sufi model Ghozalian (sufi yang mengikuti ajaran Al Ghozali) yang meletakkan dimensi isoterik etik lebih penting daripada dimensi eksoternya syariah,’’ tandas Munir menukil dari buku Ma’ruf, Farid (1964), “Analisa Achlak dalam Perkembangan Muhammadiyah.”

Inilah fakta-fakta yang menunjukkan titik-titik pertalian antara Mbah Dahlan-Mbah Hasyim. Karena itu, banyak cerita yang mengungkapkan betapa hubungan atara beliau berdua itu sangat erat. Gus Dur, cucu  Mbah Hasyim, menceritakan bahwa ketika beliau belajar ke Jogja, oleh keluarga besar Mbah Hasyim dititipkan di keluarga besar Mbah Dahlan. Juga sempat muncul cerita bahwa saat itu, Mbah Hasyim di awal-awal Muhammadiyah berdiri, Mbah Hasyim menyatakan organisasi yang didirikan Mbah Dahlan dianggap sudah cukup mewakili aspirasinya. Sehingga, beliau menyatakan tidak akan mendirikan organisasi namun cukup mengembangkan ilmu melalui lembaga pesantren.

Mbah Dahlan wafat pada 1923. NU baru lahir 3 tahun setelah itu; 1926. Jadi, tidak pernah ada perbedaan NU-Muhammadiyah ketika sang pendiri organisasi ini masih hidup dan memegang kendali kepemimpinan. “Identitas puritan dan wahabisme baru muncul beberapa tahun sesudah pendiri gerakan ini (Muhammadiyah, pen), KH Ahmad Dahlan meninggal dunia pada Februari 1923,’’ tandas Munir.

Munir menegaskan pembaharuan sosial yang dilakukan KH Ahmad Dahlan tidak ada kaitannya dengan pemikiran Abduh, Al-Afgani dan Wahabisme. Gerakan yang dikembangkan dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan dan lain-lain adalah penyerapan KH Ahmad Dahlan atas pengalaman Kristiani, pastur Belanda dan pejabat Belanda. Sikap Mbah Dahlan ini, terkait dengan sikapnya yang terbuka untuk mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik. Para motivator biasanya mengistilahkan ATM. Amati, Tiru dan Modifikasi.

Klir. Sampai perode ini, bisa disimpulkan bahwa persoalan-persoalan yang kaitannya dengan furu’iyah ibadah belum muncul. Ritual ibadah kaum santri dan pengikut Muhammadiyah masih cenderung sama. Perbedaan furu’iyah ibadah mulai muncul setelah Muhammadiyah dipimpin oleh generasi kedua. Yakni, ketika estafet kepemimpinan Muhammadiyah di bawah KH Mas Mansur. “Mas Mansur, di era itu adalah satu-satunya pemimpin Muhammdiyah yang lulusan Universitas Al Azhar Chairo,” tandas Munir.

Di periode kepemimpinan KH Mas Mansur ini, Muhammadiyah membentuk lembaga fatwa syariah yang dikenal dengan sebutan Majlis Tarjih. Dari lembaga ini, di kemudian hari muncul beberapa fatwa syariah yang berbeda dengan amalan-amalan sebelumnya. Di antaranya adalah soal membaca qunut pada sholat subuh. Dalam himpunan putusan Majlis Tarjih 1971, disebutkan bahwa doa qunut dalam shalat subuh tetap dibaca pada rakaat kedua. Namun, keputusan itu dianulir oleh keputusan Majlis Tarjih 1972 yang menyatakan bahwa pembacaan doa qunut pada shalat Subuh tidak dibenarkan.

Masyarakat pada umumnya memiliki persepsi bahwa baca qunut dan tidak, seakan menjadi ciri utama perbedaan NU-Muhammadiyah. Dan, gara-gara masalah ini, terkadang hubungan warga NU-Muhammadiyah terganggu. Padahal, masalah itu muncul belakangan setelah pendiri organisasi ini wafat 49 tahun silam. Artinya, sejak Muhammadiyah berdiri hingga sekarang, warga Muhammadiyah lebih lama mengamalkan baca qunut daripada tidak. Mengamalkan qunut dari 1912 sampai 1972, berarti selama 60 tahun. Sedang meganggap membaca qunut tidak bisa dibenarkan dari 1972 sampai sekarang, berarti selama 48 tahun.

Munir mencatat, fase generasi Mas Mansur atau generasi kedua setelah Mbah Dahlan ini, pemimpin Muhammadiyah mulai terlibat dalam kancah politik nasional. Pada era ini pula Muhammadiyah mengalami ideologisasi. Dengan merujuk pada hasil-hasil fatwa Majlis Tarjih, ada perilaku baru di Muhammadiyah yang akhirnya berpengaruh terhadap hubungan sosial, khusunya dengan kalangan pesantren. Muhammadiyah mulai gencar mengeluarkan kritik keras terhadap tradisi lokal. Gerakan ini, terkenal dengan gerakan pemberantasan TBC, akronim dari takhayul, bid’ah dan churafat.

“Dari sinilah sebutan puritanisme mulai diberikan orang pada Muhammadiyah, yang banyak dikaitkan dengan Wahabisme di Saudi Arabia,” tandas Munir. Menurut saya, sedikit banyak gerakan itu memang terinspirasi oleh gerakan Wahabisme di Arab Saudi. Memang di tahun-tahun Mas Mansur memimpin Muhammadiyah, gerakan Wahabi sedang gencar-gencarnya di jazirah Arab.

Gerakan Wahabi yang diklaim sebagai gerakan pemurnian Islam ini, dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Karena gerakan ini menggunakan pendekatan agak keras, gerakan ini kurang diterima umat Islam. Bahkan, mendapatkan penentangan cukup keras. Berat menghadapi hambatan yang muncul, akhirnya Abdul Wahab “berkoalisi” dengan Muhammad bin Suud, pemimpin politik lokal. Dari koalisi keduanya itu, akhirnya kerajaan Arab Saudi berdiri.

Munculnya gerakan Wahabi dan keberhasilan mereka mendirikan negara Arab Saudi yang lepas dari Turki Ustmani di Istanbul (Turki) menimbulkan goncangan cukup hebat di kalangan ummat Islam. Sebab, dengan tujuan menghilangkan kegiatan-kegiatan keagamaan yang dianggap mengandung unsur takhayul, bid’ah dan churafat (yang dalam konteks Indonesia diistilahkan dengan TBC), maka beberapa situs penting di jazirah Arab dihancurkan. Salah satu peninggalan penting yang juga terancam adalah makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Bersamaan dengan itu pula, tradisi 4 madzhab yang sebelumnya diperbolehkan untuk diamalkan juga dilarang. Sampai sekarang pemerintah Arab Saudi hanya memperbolehkan madzhab Imam Ahmad bin Hambal.

Kalangan pesantren di Indonesia, khususnya di Jawa sangat terusik dengan gerakan itu. Apalagi gerakannya juga sudah menjalar ke Indonesia. Karena itu, beberapa tokoh penting pesantren, dengan restu dari Mbah Hasyim melakukan “counter”. Dengan dipimpin KH Wahab Hasbullah, Mbah Hasyim mengirimkan delegasi yang kemudian dikenal dengan Komite Hijaz ke Arab Saudi. Misi dari komite ini adalah untuk melobi agar pemerintah Arab Saudi tidak menghancurkan makam nabi. Kedua, mengusulkan agar tradisi mengamalkan 4 madzhab diperbolehkan lagi.

Setelah melalui lobi panjang, akhirnya komite ini berhasil mengubah sikap pemerintah Arab Saudi yang akan membongkar makam nabi. Rencana itu dibatalkan. Sehingga alhamdulillah makam itu masih ada dan kita sekarang bisa menziarahinya. Sedang usulan yang kedua ditolak. “Maka dari itu, jangan heran kalau di Masjidil Haram dan Madinah sholat subuhnya tidak pakai qunut,” hehehe....

Keberhasilan lobi komite hijaz (meski hanya berhasil separo), tidak lepas dari wibawa keilmuan Mbah Hasyim. Beberapa ulama dari berbagai negara mendukung misi komite hijaz karena tim yang dipimpin KH Wahab Hasbullah itu mengantongi “surat pengantar” yang ditulis oleh Mbah Hasyim. Seperti disebutkan dalam tulisan sebelumnya, Mbah Hasyim selama belajar di Makkah fokus mendalami Al Qur’an dan Hadist. Akhirnya beliau menjelma menjadi sosok ulama yang alim. Karena kealimannya itulah, beliau dikenal luas dan sangat dihormati oleh para ulama dari berbagai negara.

Dari peristiwa itu, para tokoh pesantren akhirnya merasa penting untuk mendirikan organisasi. Dengan organisasi itu mereka berharap bisa menjaga dan melestarikan keberadaan pesantren dan tradisi keagamaan yang diamalkannya. Setelah melalui proses panjang, Mbah Hasyim yang semula tidak berniat mendirikan organisasi, akhirnya setuju dengan pendirian organisasi. Organisasi itu diberi nama Nahdlatul Ulama (NU), yang memiliki arti kebangkitan ulama. Ulama pesantren bangkit setelah merasa kehidupan keagamaannya terusik. (bersambung).

*) Akhmad Zaini, mantan Jurnalis Jawa Pos, kini khadam pendidikan di IAINU Tuban.

Penulis : Ahmad Zaini

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Dec 2020 20:30 WIB

Machfud Gemar Sowan Kiai, Warga Kejawen Putih Dukung MAJU

Pilkada

Dinilai memiliki kepedulian terhadap siapapun

03 Dec 2020 20:21 WIB

Kepatuhan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Menurun

Rek, Ojok Angel Tuturane

Penurunan dimulai saat libur panjang lalu.

03 Dec 2020 20:16 WIB

Satgas Covid Target RS Lapangan di Malang Selesai Dua Pekan

Jawa Timur

Ketua Satgas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo meninjau langsung RS lapangan.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...