KH A. Mustofa Bisri, Mustasyar PBNU. (Foto: Istimewa)

Guna Mengayomi Semua Umat, Pesan Gus Mus tentang Peran NU

Khazanah 20 December 2019 05:23 WIB

KH A. Mustofa Bisri mengingatkan, Nahdlatul Ulama (NU) adalah pemimpin umat, bukan pemimpin sebagian umat saja. Pemimpin yang hanya mengayomi sebagian golongan saja tidak layak disebut sebagai pemimpin. NU didirikan untuk mengayomi semua umat.

Gus Mus, panggilan akrabnya, merujuk pada masa pra-lahirnya jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Saat itu para santri muda yang kemudian menjadi pendiri NU menjalin komunikasi dan memikirkan strategi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia di tengah-tengah masa studi mereka di Arab Saudi.

"Para santri muda tersebut diantaranya adalah KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KH Bisri Sansuri (Denanyar), KH Wahab Hasbullah (Tambakberas), dan KH Anwar Musyaddad (Garut)," katanya.

Dalam kapasitasnya sebagai santri, mereka tidak saja mendoakan komunitas pesantren di tanah air, melainkan juga mendoakan seluruh rakyat Nusantarayang sedang dijajah. Bahkan, kemudian kecintaan para santri muda di tanah Arab itu terejawantahkan ketika mereka mulai mendiskusikan perlunya organisasi yang akan mewadahi kaum santri dan pesantren untuk merebut kedaulatan Nusantara dari tangan penjajah.

Dimensi jam’iyyah dan jama’ah

KH A. Mustofa Bisri, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini menegaskan, para pendiri NU sadar betul dawuh Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah bahwa kebathilan yang terorganisir saja akan mengalahkan kebaikan, apalagi bila kebaikan diorganisir maka niscaya problematika umat dan bangsa akan dengan mudah diselesaikan.

Namun sayangnya, kritik Gus Mus, NU hingga kini belum juga bertransformasi menjadi jam’iyyah atau organisasi yang sesungguhnya. NU hanya kuat pada tingkat jama’ah saja. Padahal yang menjadi garis pembeda antara NU dengan organisasi-organisasi lainnya adalah NU memiliki dimensi jam’iyyah dan sekaligus jama’ah.

“Ini yang otentik dari NU dan tidak ada di organisasi lainnya. Kalau pun ada itu hanya meniru-niru NU,” tegas Kiai yang produktif menulis karya sastra ini.

“Bila banyak pengamat NU seperti Mitsuo Nakamura, Andree Feillard, atau Martin van Bruinessen heran kenapa organisasi seperti NU ini tidak mati-mati, justru saya heran kenapa organisasi sebesar ini tidak hidup-hidup juga,” kritik Gus Mus.

Pejabat Rais Aam yang menggantikan tongkat kepemimpinan KH Sahal Mahfudh ini menyebutkan, yang membedakan antara NU dengan organisasi lainnya adalah karena NU bermula dari adanya komunitas-komunitas di berbagai penjuru Nusantara. Komunitas-komunitas tersebut memiliki karakteristik yang sama, yakni ada kiai, santri dan masyarakat pesantren.

Dengan kata lain, NU sudah terlebih dahulu lahir sebagai jama’ah yang kemudian melatar-belakangi kelahirannya sebagai jam’iyyah (organsiasi). Hal lain yang membuat NU otentik dibandingkan dengan organisasi lainnya adalah keberadaan orang-orang yang seolah-oleh mewakafkan dirinya untuk masyarakat. Mereka adalah para kiai yang jadi sumber rujukan masyarakat.

Gus Mus memberikan contoh, misalnya orang sakit datang ke kiai untuk diberi minum air yang sudah didoakan, orang tua menitipkan anaknya di pesantren untuk diberi pengetahuan, ingin berdagang minta didoakan agar dagangannya laris, akan bercocok tanam sowan ke kiai untuk didoakan agar tidak diserang hama, dan seterusnya.

Semuanya dipenuhi para kiai tanpa dibayar. Para kiai tersebut hanya ingin meniru Nabi Muhammad SAW yang memperkenalkan konsep pemimpin sebagai khadimul ummah, bukan pemimpin yang justru merepotkan umatnya.

‘Alaikum bil NU’

Namun sayangnya, kiai yang penyair tersebut mengajukan kritik, sebagai organisasi besar NU seringkali diperalat oleh orang-orang luar. Padahal Gus Mus berkeyakinan bahwa apa yang disebut ‘alaikum bis sawadil a’dhom adalah sama dengan ‘alaikum bil NU’.

Anggota NU saat ini lebih dari 70 juta pengikut. Pengikut NU saja sudah tiga kali lipat lebih dibandingkan dengan jumlah total penduduk Arab Saudi. “Namun sebagai organisasi, NU hingga kini belum sepenuhnya organisatoris, kata Gus Mus.

”Bila NU bisa lebih terstruktur, niscaya akan menjadi kekuatan yang dahsyat bagi perubahan di negeri ini. Hal ini bisa terjadi bila, salah satunya, NU menjalankan tertib organisasi secara benar seperti semua elemen di tubuh NU berada satu garis komando dari Rais Aam.

*) KH A Mustofa Bisri, rekaman pidato Majma Buhuts an-Nahdliyah di Pesantren Al-Musaddadiyah, Garut, Jawa Barat, 31 Mei 2015.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

23 May 2020 10:44 WIB

Jelang Idul Fitri, Ternyata Ini yang Ditakuti Gus Mus

Khazanah

Semoga cobaan berupa wabah Corona ini segera diangkat

21 May 2020 07:06 WIB

Ribuan Malaikat Surga Turun ke Bumi, Gus Mus: Oh...Muhammadku

Khazanah

Gus Mus berpuisi seraya menikmati keindahan di bulan suci.

18 May 2020 02:29 WIB

Ngaji Kitab Kuning, Para Kiai dan Guru Ngaji Medsos via Streaming

Khazanah

Gairah menuntut ilmu di masa Pandemi Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...