Nostalgia Cinta Pertama yang Bikin Gila

28 Jun 2019 10:00 Ajar Edi
Ujar Ajar

Selepas perayaan Idulfitri, selalu banyak cerita. Yang menyenangkan tentu urusan pesiar atau kuliner. Menikmati keindahan wisata hingga mencecep makanan sedap beraneka rasa.

Tapi ada juga yang bisa bikin senewen. Misalnya, ketemu teman lama. Sayangnya, setelahnya malah mampir ke pengadilan agama.

Awalnya karena urusan silaturahmi. Menghadiri acara reuni. Entah itu reuni teman SD, SMP, SMA, atau pendidikan tinggi.

Mulainya cuma salaman saja. Atau cipika-cipiki tipis. Cuma, bagi yang tak kuat mental itu bisa bikin pikiran sempal.

Karena membuat hati bergetar. Lembaran cinta usang terasa mengambang. Akhirnya saling suka dan kembali mesra.

Setidaknya, itu yang diyakini Kusmini. Seorang Panitera Muda di Pengadilan Agama Banyumas. Dia yang sudah kenyang makan asam garam urusan perceraian ini meyakini, tingginya permohonan cerai seusai lebaran salah satunya karena reuni.

Bayangkan saja, dari tanggal 10 Juni hingga 19 Juni, kantornya sudah disesaki urusan ini. Tercatat, ada 94 permohonan cerai. Eloknya, kaum hawa dominan mengajukan pisah dari kaum pria. 

“Tidak menutup kemungkinan dari momen reunian usai lebaran,” ungkap Kusmini kepada Satelitpos, Banyumas. Dia beranalisa, cinta lama mekar saat bertatap muka. 

Konon, alasan utama adalah cinta pertama. Nostalgia yang membuat gila. “Sebab dalam momen itu, ada yang kecantol mantan saat reuni,” tambahnya.

Hal serupa juga terjadi di Medan, Sumatera Utara. Tahun lalu, Sumut Pos menuturkan, gejolak kenangan cinta pertama juga menyergap usia senja. Ini yang dialami pasangan mantan kekasih, sebut saja namanya Tongat (51) dan Butet (50).

Keduanya sudah berpisah lebih dari 34 tahun. Saat reuni SMP, sepertinya Dewi Amor mengusap mata mereka. Akhirnya cinta keduanya terpantik lagi.

Konon, alasan utama adalah cinta pertama. Nostalgia yang membuat gila. “Sebab dalam momen itu, ada yang kecantol mantan saat reuni,” tambahnya.

Nekat meninggalkan pasangan masing-masing, juga anak-anaknya. Tongat menuturkan, dia sebenarnya kasihan dengan istri dan anak-anaknya. “Namun, nostalgia cinta pertama dengan Butet membuat tak berdaya,” jelasnya.

Ternyata, Tongat terikat janji suci saat di SMP. Saat itu, dia berjanji akan sehidup semati dengan Butet. Imbasnya, selama ini dia merasakan, ada yang hilang dari hidupnya.

Merasa hampa saat berumah tangga dengan istrinya, Memey. “Jadi pas ketemu lagi dengan Butet, bahagianya minta ampun,” katanya dengan mata berbinar. Setiap hari, mereka selalu ingin bertemu.

Rasa ini tak bertepuk sebelah tanggan. Frekuensi di hati Butet juga seirama. Pasalnya, seusai lulus SMP, Butet kehilangan Togat. Tak tahu harus mencari kemana. Mungkin karena minimnya teknologi dan cara.

“Ya sudah, cinta pertama itu kami pendam,” papar Butet yang berprofesi sebagai dosen itu. Kini dia mantap melepaskan suami dan keluarganya. “Sudah tua maunya mikir tenang dan bahagia. Nggak mau stress dan bingung sendiri,” paparnya.

Bagi sebagian orang, pilihan yang diambil Tongat dan Butet, bisa jadi dianggap hal gila. Meninggalkan semuanya. Hanya demi kegilaan cinta pertama.

Namun, kejadian ini sepertinya menjelaskan keyakinan Socrates, pemikir Yunani kuno. Dalam Phaedrus, Socrates memaparkan, meskipun kegilaan bisa menjadi penyakit, itu juga bisa menjadi sumber berkah terbesar manusia. 

Bagi sebagian orang, pilihan yang diambil Tongat dan Butet, bisa jadi dianggap hal gila. Meninggalkan semuanya. Hanya demi kegilaan cinta pertama.

Di benaknya, ada empat bentuk 'kegilaan Illahi'. Pertama, ramalan dari Apollo. Kedua, doa suci dan ritual mistik dari Dionysus. Ketiga, puisi dari Muses. Dan yang tertinggi adalah cinta dari Aphrodite dan Eros.

Dalam perdebatan cinta ini, pengalaman urusan cinta ragawi, seharusnya bisa tertransformasi menjadi cinta jiwa. Itu idealnya. Contohnya, dalam pemujaan saat menatap wajah kekasih, hal itu akan melahirkan beragam rasa. 

Tak cuma ketertarikan raga. Hal itu seharusnya juga melahirkan rasa syukur. Lantas levelnya naik menjadi rasa tunduk dan ketaatan Illahi. 

Bak jalan terang atas pengetahuan serta kebenaran mutlak. Termasuk keabadian tak terbatas. Bahkan Plato, filsuf kenamaan itu menyebut, bahwa, dia yang menyentuh cinta tidak berjalan dalam kegelapan.  

Wah, kok jadi berat sekali ini diskusi urusan cinta. Ayo, lebih baik kita kembali ke urusan cinta yang lebih remeh temeh saja. Cinta saat masih berseragam abu-abu itu.

Cinta pertama, diyakini sebagian orang, hanyalah gairah semata. Jangan lupa, ada juga yang menganggapnya bak penerang masa remaja. Karena memberikan suntikan semangat tiada tara. 

Ada perilaku kengawuran. Bisa juga kenekatan, saat mengincar calon pacar. Yang kalau diingat bisa membuat tertawa.

Walau ada pula yang merasakan sebaliknya. Sakit hati karena disuruh pergi. Acap kali, penolakan juga jadi sumber kekuatan. 

Cinta pertama, diyakini sebagian orang, hanyalah gairah semata. Jangan lupa, ada juga yang menganggapnya bak penerang masa remaja.

Menjadi pembuktian, kalau dia telah salah memilih. Hanya dirinya yang terbaik. Tak salah, kalau banyak yang membawa romansa cinta pertama hingga menutup mata.

Namun, bagi Anda yang kini menjalani cinta realistis atau cinta pragmatis, jangan berkecil hati. Keduanya tetap juga bisa jadi cinta sejati. Asal dijalani sepenuh hati.

Nah, bagi Anda yang pernah mengalami cinta pertama, siap-siap saja. Kalau ketemu mantan di acara reuni, lebih baik menyingkir saja. Karena bisa membuat kegilaan tak terduga.

Ajar Edi, kolumnis ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Arif Afandi


Bagikan artikel ini